Powered By Blogger

Rabu, 11 Juni 2014

Legenda Danau Mirah


Karya sastra ke II 
Dikarang Oleh HAZIZI
 
Add caption

 “DONGENG DANAU MIRAH”
Diperkampungan yang tak jauh dari pegunungan. Hiduplah warga yang kaya akan hasil bumi, sungai mengalir deras, tanaman tumbuh dengan subur. Warganya hidup dalam kesejahteraan, tanpa merasakan kelaparan. Ditambah dengan kerukunan masyarakat yang saling berdampingan. Kampung itu bernama kampung Tarum.
Namun tak semuanya berjalan sesuai dengan kenyataan. dikampung itu hiduplah dua keluarga yang angkuh, yang memiliki kekuatan lebih daripada warga sekitarnya. Keluarga yang senang menindas warga yang lain. dialah keluarga Serunting dan Tigola. kedua keluarga ini sering unjuk kekuatan satu sama lain, yang akhirnya memicu perselisihan diantara keduanya. Keluarga serunting terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang putra, yaitu saman dan salim, lain halnya keluarga tigola hanya memiliki satu orang puteri yang bernama kinan. keluarga serunting sering dijuluki dengan lidah makbul. Karena setiap warga yang tidak disenangi bisa jatuh sakit atau mati hanya dengun menyebut namanya. semua keluarga memiliki kekuatan itu kecuali  salim, putra bungsunya.
Sedangkan keluarga Tigola terkenal sebagai mata bencana. karena setiap warga yang tidak disenangi salah seorang dari keluarga ini. akan mendapat bencana berupa penyakit dadakan bahkan kematian. Meskipun berselisih, kedua keluarga ini tidak dapat melukai satu sama lain. Itu karena mereka memiliki kekuatan yang sama.
Hal ini yang membuat warga kampung resah dan merasa tidak aman. karena mereka sering melampiaskan kemarahannya kepada warga sekitarnya. tidak banyak warga yang telah merasakannya, ada yang tiba-tiba lumpuh, ada yang mati secara mendadak, ada juga yang terkena penyakit langka setelah bertemu dengan anak perempuan keluarga Tigola. Seiring berjalannya waktu, dua keluarga ini merasa ketagihan dengan kebiasaannya menyiksa dan menindas mesyarakat. Karena tidak mampu saling melukai, akhirnya mereka sepakat untuk bersama menjadi penguasa kampung itu, dengan mengawinkan saman dan kinan. Ketakutan wargapun bertambah. Tak seorangpun yang mampu melawan, meskipun tak jarang keluarga mereka kerap menjadi korban. Setelah menikah saman dan kinan menjadi penguasa dikampung itu, perbuatan mereka semakin menjadi-jadi. mereka sering mencelakai warga kampung Tarum tanpa sebab.
Salim, anak kedua dari keluarga serunting dari kecil tidak senang dangan keluarganya. Ia memilih pergi dan mengasingkan diri ke hutan.
Setelah beranjak dewasa ia kembali ke kampungnya, tanpa seorangpun yang mengetahui jatidirinya. Salim tampak heran ketika mendapati kampungnya tampak sepi, padahal  disiang hari, tak seorangpun sanggup keluar rumah, karena takut diserang oleh serigala.
Semenjak menikah saman dan kinan menjadi sangat beringas, menindas warga tanpa sebab. melukai siapa saja yang ada dihadapannya. ditambah lagi mereka dapat memerintah serigala sebagai pasukannyanya. Warga resah dan takut untuk keluar rumah, apalagi harus bermain-main dihalaman rumah. Mereka hanya keluar pada waktu subuh, hanya sekedar untuk mencari makan, itupun dilakukan sendiri-sendiri.
Salim memperhatikan rumah-rumah warga. pintu dan jendela semuanya tertutup rapat. Sepintas dia melihat sesosok wanita berjubah dan memakai penutup kepala membawa seikat kayu bakar, salim mengejarnya, namun langkahnya terhenti, ketika seorang kakek tua menariknya dan memaksanyanya masuk, tanpa sepatah katapun yang diucapkan. Pelan-pelan kakek tua itupun bertanya..”apa yang kamu lakukan diluar nak?” Dengan rasa heran salim menjawab. ”Saya ingin mencari tempat persinggahan”, kakek itu bertanya kembali “Nampaknya kamu bukan pemuda kampung sini..?”, pemuda itupun bertutur “oh iya kek., saya seorang perantau. saya tinggal jauh dibalik gunung itu”. Kemudian salim bertanya. ”mengapa kampung ini sepi sekali. Apakah tidak memiliki penduduk..?”
Kakek itupun bergumam..”panjang ceritanya nak, yang jelas kampung ini memiliki penduduk.” Dengan singkat kakek tua itu menjelaskan keadaan kampungnya. salim meneteskan air mata. ia tak kuasa membayangkan kekejaman saudaranya itu.
Kemudian Salim meminta izin kepada kakek untuk tinggal dirumahnya. kakek mengizinkan dan tidak keberatan salim tinggal dirumahnya.
Sudah dua hari dia tinggal dirumah itu, tak satupun penduduk yang ia temui selain kakek.  akhirnya Ia memutuskan untuk keluar rumah dimalam hari. ditengah perjalannya, ia dicegat oleh segerombolan serigala dan seorang lelaki, yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Karena sudah lama tak bertemu saman tak dapat mengenali salim. Saman sangatlah bengis, tak pandang apakah itu orang baru atau bukan, ia langsung memerintahkan serigalanya untuk menerkam salim. dengan sekuat tenaga salim berlari, meskipun dapat lolos, salim sempat tergigit oleh serigala itu.
 Namun kejadian itu tak membuat salim jera. Sebenarnya ia mampu mengalahkan serigala-serigala itu, tapi tak dilakukannya, itu karena ia ingin menjaga hati saman.  dengan nekat ia kembali keluar rumah. meskipun kakek sudah sering kali mengingatkannya. Ia keluar menyisir jalan mengelilingi kampung yang sepi itu. Tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang tak lain adalah kinan, yang tengah memaki dan mencemooh wanita yang pernah ia temui sebelumnya. wanita berjubah itu.
Dalam tatapannya, Kinan memukul wajah dan memaksa wanita berjubah memandang matanya, perlahan mata itu memunculkan sinar merah. Dengan segera salim mendorong wanita berjubah itu sampai terjatuh.
Dan tanpa disadari sekejap ia bertatapan dengan mata Kinan. sebelum akhirnya ia terjatuh. Kinan pun terkejut dengan kedatangan salim yang tiba-tiba. Dan ia kembali terkejut ketika menyaksikan salim berdiri kembali dengan gagah. Padahal tak seorangpun yang mampu menahan bencana dari matanya. Begitu juga seharusnya salim, ia juga heran mangapa ia tak terluka sedikitpun, tidak seperti apa yang diceritakan oleh kakek tua itu. Dengan terbata-bata kinan berkata. ”kamu siapa?, mengapa kamu baik-baik saja..?” salim hanya diam dan tak menjawab. kemudian kinan memanggil serigala-serigalanya, dan tanpa ragu langsung menyerang salim dan perempuan berjubah itu. mereka berlari, dan dengan kekuatannya salim melawan serigala itu dan meminta wanita berjubah itu untuk berlari.
Dengan berat hati wanita itupun berlari meninggalkan salim. Dalam pertempuran itu salim mampu mengalahkan serigala-serigala ganas itu. Setelah kejadian malam itu, salim sering memikirkan nasip perempuan yang ia tolong ketika itu. Selain pakaian dan penutup kepala, hanya kedipan matanya yang bisa ia ingat. Salim sangat berharap dapat bertemu perempuan itu lagi. Ia juga sempat menanyakannya kepada sang kakek, namun kakek juga tidak tau siapa wanita yang salim maksudkan.
Dilain sisi saman menjadi murka dan marah besar, setelah mendengar cerita dari istrinya, tak pernah ia ketahui sebelumnya seseorang dapat mengelak dari mata istrinya dan lepas dari cengkraman serigalanya. Ia memerintahkan serigala dan raksasa miliknya untuk berjaga-jaga setiap hari. Siapa saja yang bertemu mereka akan dibinasakan dan diseret kehadapan saman. Sejak kejadian itu keadaan kampung semakin mencekam. Warga semakin takut untuk keluar bahkan diwaktu subuh. kecuali orang yang benar-benar nekat dan terpaksa untuk keluar. warga kebingungan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Satu-persatu anggota keluarga warga kampung tarum mati, ada yang karena sakit dan ada yang disebabkan kelaparan. Masyarakat sangat menderita dan tak mampu melawan, karena bagi siapa saja yang melawan akan terbinasa sendirinya. Itulah dampak dari kekejaman saman dan kinan. Warga yang tak berdosa pun menjadi korban.
Seperti biasa salim keluar malam untuk mengamati keadaan kampung, malam itu salim menyisir sungai, agar aman dari segerombolan serigala, ia berjalan menapaki bebatuan sungai. Sepintas ia mengamati sungainya. Aliran sungai dikampung itu memang besar, rakitpun dapat berlayar disana.
Tiba-tiba salim mendengar suara rintihan perempuan, dan kemudian ia mendekatinya, ternyata suara itu adalah suara rintihan perempuan berjubah itu, kakinya terjepit oleh himpitan batu. Salim membantunya, kemudian mereka duduk diatas batu dipinggir sungai, dan mulai berbincang, salim memulai pertanyaan. “apa yang kamu lakukan disini”..wanita itupun menjawab “saya hendak mengambil air untuk kebutuhan kami”. salim berkata kembali “haruskah semalam ini?”. “ya..inilah kampung kami, air mengalir besar, makanan berlimpah ruah, tapi kami tak bisa menikmatinya, hal ini karena kebengisan saman dan kinan”, begitulah perempuan itu menjelaskan. Dengan serius salim bertanya lagi “ bagaimana mereka mendapatkan ilmu seperti itu?. wanita itupun menjawab “mereka adalah keturunan keluarga serunting dan tigola, orang tua mereka mewariskannya. Saman adalah keterunan serunting, dan sepengetahuanku, saman memiliki seorang adik laki-laki, namun adiknya menghilang, sedangkan kinan adalah keturunan tigola, dari matanya dapat menimbulkan bencana, bagi orang yang ia kehendaki.
dengan khusyu’ salim mendengarkan setiap pembicaraan perempuan itu. Salim kembali bertanya “ nama kamu siapa?” wanita itu mentap tajam kearah mata saman lalu dia menjawab. ”mirah”, kemudian ia melanjutkan ucapannya “ hanya aku, adikku dan kamu yang tau nama asliku. Mirah menjelaskan, sejak 15 tahun lalu ia sudah tidak memakai nama itu. “mengapa begitu?” salim bertanya lagi, dengan tegas mirah menjawab “aku sengaja tidak menggunakan nama asliku, karena aku khawatir saman dan kinan mengetahuinya, dan itu berbahaya bagiku. Dengan heran saman kembali bertanya “lalu aku harus memanggilmu apa? .(sulung), jawab mirah .saman mengulanginya, ”sulung?”.. “ia”, jawab mirah, karena aku anak tertua, tambahnya.
Perbincangan itupun berlanjut, salim dan mirah saling mengenal satu sama lain.
Sebelum mereka berpisah, saman meminta mirah untuk menemuinya ditempat itu kembali,
Akhirnya mereka sering bertemu dan benih-benih cinta pun tumbuh pada keduanya. Mirah merasa aman bila berada disamping salim, hampir setiap malam mereka bertemu walau hanya sekedar mencari kayu bakar dan air di sungai. Sampai pada suatu malam ketika mereka hendak bertemu, ditengah jalan mirah bertemu dengan serigala-serigala peliharaan saman, dengan sekuat tenaga mirah berlari, namun kecepatan mirah tak sebanding dengan kecepatan serigala itu, akhirnya mirah terjatuh dan terkena gigitan serigala, sebelum akhirnya salim datang dan mengalahakan serigala itu, mirah pingsan, kakinya terkana gigitan, dengan segera salim membawa kerumah penduduk. dengan bantuan pak diman seorang pemilik rumah, salim mengobati luka gigitan yang dialami mirah. Dalam rumah itu hanya ada sepasang suami istri, kemudian salim bertanya mengenai keluarganya. Pak diman lalu mengajak salim masuk kedalam sebuah kamar, dan menunjuk kearah seorang perempuan yang terbujur kaku, lalu ia berkata,  “lihatlah! dia anakku, dua hari yang lalu dia meninggal, akibat perbuatan kinan, kami tak sanggup untuk menguburkannya selain karena rasa sayang kami, kami tak ingin jasad anak kami, dimakan serigala-serigala buas itu, ditambah lagi kami khawatir dengan keselamatan kami, saat kami menguburnya.
seiring dengan cerita itu pak diman menteskan air matanya, begitu juga dengan salim. Dia sangat terharu dan perihatin terhadap keluarga pak diman. Salim berkata. “ apakah semua warga dsini mengalami hal yang sama?” pak Diman menjawab ”ia anak muda, setiap warga dsini, mungkin menyimpan mayat keluarganya. Karena takut untuk menguburnya.”
Salim sangat marah dan bertekad untuk melawan saman dan kinan yang merupakan saudaranya sendiri. Saat ini hanya salim yang tak dapat dibinasakan oleh saman dan kinan. bukan hanya itu, warga yang tinggal satu rumah dengannya tak juga dapat dibinasakan, kekuataan salim dapat menjaga orang-orang yang ada didekatnya.
Akhirnya ia membangun sebuah rumah yang sangat besar untuk mengumpulkan seluruh warga kampung Tarum, dan melindungi mereka. Dalam rumah itu mereka bermusywarah dan mengatur siasat untuk mengalahkan saman dan kinan.
Disamping itu, saman dan kinan mengerahkan kemampuannya untuk mencelakai warga kampung, dengan mengerahkan seluruh pasukannya yang terdiri dari sepasang raksasa dan ratusan serigala.
Pasukan saman menjaga setiap ruang dan sudut kampung, sehingga tak ada kesempatan bagi warga melarikan diri dari kampung itu, warga tidak memilki pilihan lain, mati atau melawan. lebih baik mati melawan dari pada mati kelaparan ungkap salim kepada seluruh warga kampung tarum. Seorang pemuda bernama maja mengusulkan untuk membanjiri kampung dengan air bah. Seluruh warga menyetujuinya. Kepala suku bertanya kepada warga ”siapa yang sanggup melakukannya?”.. salim menjawab “saya sanggup melakukannya”. Saya dari kecil tinggal dipegunungan itu, dan saya juga kuat”. tutur salim. kakek tua pun bertanya “bagaimana cara kamu melakukannya?”.  “aku akan membuat bendungan dipertengahan bukit sana, saya akan menyatukan ke tujuh aliran sungai kebendungan itu, hingga tiba waktunya, aku akan menjebolnya, dan airnya akan jatuh membanjiri kampung ini. dengan yakin salim menjelaskan kepada seluruh warga, dan sebelum tiba waktunya warga harus mengosongkan kampung dan pergi kepuncak gunung tertinggi.
Dalam pembuatannya salim butuh waktu satu tahun untuk mewujudkannya, dan meminta satu orang untuk menemaninyanya.
Sebelum ia berangkat ia berpamitan kepada mirah. Mirah meminta Salim agar berjanji untuk pulang dan membuatkan satu bendungan itu untuknya. Salim menyanggupinya dan berpean kepada mirah agar mau menunggu kepulangannya.
Mirah menatap mata salim dan senyum kepadanya, sebagai tanda persetujuannya. Senyum keyakinan itu yang membakar semangat salim untuk menyelesaikan danau itu.
Salim berangkat dan mulai membangun bendungan, dengan ditemani mulyo.
Sedikit demi sedikit bendungan itu mulai terbentuk, hari demi hari, bulanpun berganti, hampir sepuluh bulan ia mentap dibukit dan menyelesaikan bendungan itu. tak tau kabar dikampung, yang jelas ia hanya berharap mirah dan keluarganya baik-baik saja, dan tetap menantikannya.
Lain dibukit, lain lagi dikampung, beredar isu kalau salim dan mulyo telah mati tertindih batu saat membendung danau dibukit. Mirahpun sangat terpukul dan sedih. Ia tak kuasa menahan kesedihan harus kehilangan salim, laki-laki yang sangat ia cintai. dalam kesedihannya, mirah dihibur dan ditemani oleh maja. Maja adalah laki-laki yang pintar dan cerdik, yang tinggal diujung kampung. diam-diam ia menyukai mirah. Ia berniat menikahi mirah. Kemudian Maja mengutarakan keinginannya kepada mirah.
untuk mengurangi kesedihannya ia menerima keinginan maja. Dengan satu syarat, maja harus mampu membunuh saman dan kinan. maja menyanggupinya. Selama tiga hari maja memikirkan siyasat untuk mengalahkan saman dan kinan.
Akhirnya iapun bergerak, disiang hari ia berjalan ditengah-tengah kampung, dan mulai mengamati kesunyian kampung, ditengah jalan ia dicegat oleh sepasang raksasa, kemudian raksasa itu membawanya kehadapan saman dan kinan..
Dihadapan saman. Maja meminta untuk tidak dibinasakan melainkan dijadikan pelayan  saja. sambil menundukkan kepala ia meminta. samanpun berkata “mana mungkin kamu bisa bertahan disini, kamu adalah orang yang lemah, kamu akan celaka ketika aku sedang marah dan menyebut namamu. Dan kamu akan binasa saat kamu menatap mata istriku”.
Maja pun menjawab. tidak tuan, aku memiliki sedikit kemampuan, aku sudah bertapa di puncak gunung sinu selama tiga tahun, aku tak akan celaka saat kau sebut namaku sewaktu tuan marah. dan aku tak akan binasa saat bertatapan dengan tuan kinan..
Kemudian Saman meminta maja untuk menatap mata istrinya. Dan tidak terjadi apa-apa terhadap maja. Kinan dan saman terkejut. Tapi saman masih ingin menguji lagi
Saman bertanya kembali “siapa namamu yang sebenarnya?” maja menjawab “ nama ku adalah misno”. maja berbohong untuk menyelamatkan dirinya.
Dengan lantang saman berteriak..”misnoooo..celakalah kamu….” namun tidak terjadi apa-apa terhadap maja. dan akhirnya saman dan kinan pun percaya dan menjadikannya pelayan.
Sudah lebih dari satu bulan maja menjadi pelayan dirumah saman dan kinan. Hingga pada suatu malam. Maja meminta saman untuk mengumpulkan semua pasukannya yang terdiri dari raksasa dan ratusan serigala untuk makan bersama.
Hingga akhirnya acara itupun terwujud. Saman dan seluruh pasukannya telah berkumpul ditempat makan, dengan hati-hati maja mengeluarkan makanan buatannya.
Malam itu maja berniat megakhiri kekejaman saman dan kinan, ia telah menaburkan racun kemakanan saman, kinan dan seluruh pasukannya. Hingga akhirnya saman dan seluruh pasukannya mati teracuni. Maja sangat puas, ia sangat senang bisa membunuh saman dan kinan.
ia kembali kepada warga dan mengabarkan kematian saman dan kinan. wargapun sangat senang, karena telah terbebas dari kekejaman saman. bahkan menganggap maja sebagai pahlawan.
Mendengar berita itu, mirah sangat senang, berita kematian orang yang telah menyebabkan orangtuanya meningal. Dilain sisi, ia harus menepati janjinya, menikah dengan maja, laki-laki yang tidak ia cintai. ia sebenarnya masih tidak yakin akan kematian salim.
Dengan keadaan terpaksa akhirnya keduanya menikah, pada saat bulan ke 12 dari keberangkatan salim.
Dibulan yang sama salim telah menyelesaikan tugasnya, untuk memudahkan menjebolnya, salim membuat celah pada bendungannya. Dan danau itu terbentuk sempurna tinggal menunggu waktu untuk menjebolnya. fikirnya.
Salim turun ke kampung. Setiba dikampung ia tampak heran, serasa berada dikampung orang. kampung yang dulunya sepi. kini sudah ramai. dan banyak orang yang berlalu lalang. ia dan mulyo langsung kerumah kepala suku untuk menanyakan apa yang terjadi.
Kepala sukupun kaget dan tak menyangka akan kedatangan salim dan mulyo, kepala suku menjelaskan berita yang terjadi, tentang isu kematiannya dan kehebatan maja yang mampu  mengalahkan saman dan kinan.
Kepala suku juga menceritkan tentang perkawinan sulung dan maja.
hatinya tersentak dan  tak percaya. Namun Salim harus menerima kenyataan itu. karena bagitulah yang terjadi.
Belakangan salim mengetahui bahwa orang yang telah menyebarkan isu kematiannya adalah Maja. Orang yang ia percayai untuk menjaga kampung Tarum. karena sebelum keberangkatannya ke bukit. Salim berpamitan kepada maja dan meminta untuk menjaga kampung dengan kemampuannya. Salim masih ingat betul perkataannya terhadap maja “maja, kamu adalah orang yang pintar, aku yakin kamu mampu menjaga kampung ini dari kebengisan saman dan kinan”. dan majapun menyanggupinya. Salim juga memberikan sebuah “kalung” yang dapat digunakan untuk menangkal mata kinan, sebagaimana salim juga menggunakannya.
Ia tak menyangka maja mengkhianatinya, mengapa juga maja harus mengawini mirah, padahal maja tau, kalau salim mencintainya, begitu juga dengan mirah. Ia juga tidak menyalahkan mirah, gadis yang sangat ia cintai.
Sepulangnya dari bukit ia hanya merenung dan memikirkan penghianatan maja. Ia kemudian menemui maja, dan mengajak maja kebukit tempat danau yang ia buat.
Salim meminta maja menjelaskan atas kepenghianatannya, namun bukan penjelasan yang salim dapatkan melainkan sebuah tikaman keris kepinggang salim. Maja sudah berniat untuk membunuh salim, sejak kepulangannya dari bukit.
Salim kemudian terjatuh, dengan terbata-bata salim berkata “maja mengapa kamu melakukan ini?”. dengan tertawa maja mengatakan..”sebelum kamu datang, aku sudah mencintai sulung, namun kehadiranmu menghalangi cintaku padanya. aku sengaja mengusulkan untuk membuat bendungan, agar kamu berpisah dengan sulung, dan aku berharap kamu mati tertindih batu”.
Salimpun berkata lagi “Teganya kamu lakukan ini padaku?” maja menjawab lagi..” kamu adalah orang yang bodoh. Sebenarnya dengan kekuatanmu, kamu dapat mangalahkan saman, tapi itu tidak kau lakukan.
Tanpa maja sadari mirah mengamati perbincangan antara salim dan maja. Mirah sangat kecewa. Sudah mempercayai ucapan maja, laki-laki yang telah mengawininya itu. Ia tak menyangka maja sejahat itu. sambil menangis mirah mendekati mereka dan memapah salim yang sedang sekarat. Salimpun berkata kepada maja, “wahai maja, ketahuilah, jika aku ingin membunuh saman dan kinan, itu sangat mudah bagiku, tapi aku tak menginginkannya. Aku hanya ingin menyadarkan mereka, dengan datangnya air bah itu, karena sesungguhnya mereka adalah saudara kandungku. Sebagaimana kamu menyayangi saudaramu, akupun menyayangi mereka”.
Air mata mirah menetes tiada hentinya, ia terharu, betapa mulianya hati salim. Kemudian mata salim tertuju pada mirah. Betapa ia ingin melihat senyum mirah, namun takdir berkata lain.
Dan kata-kata terakhir terucap dari mulut salim “mirah, aku menyayangimu, sudah aku penuhi janjiku, aku buatkan danau ini untuk mu, dan aku beri nama danau ini danau mirah.”. kemudian pandangannya pun menghilang. Mirahpun bertambah menangis. Ia tak kuasa ditinggalkan salim. ingin rasanya ia marah dan membunuh maja, namun tak mampu, karena ditutupi kesedihannya.
Dan tanpa ragu mirah lari keatas bukit, dan menerjunkan tubuhnya kedalam danau. majapun tak mampu menahan mirah,
Hanya pesenyasalan yang dapat ia lakukan, hingga ia melihat sebuah celah dalam bendungan itu, dan kemudian memasukkan tubuhnya kedalam celah itu, agar tak ada satu orangpun yang dapat menjebol danau mirah….

……TAMAT……













CP: 085789703246 / 087817394059

Tidak ada komentar:

Posting Komentar