Powered By Blogger

Rabu, 18 Juni 2014

KAMPUS DAN REALITA



HAZIZI PBA/III
SAHABAT MAHASISWA
KAMPUS DAN REALITA

ASSALAMU’ALAIKUM, WR.WB             
Salam Mahasiswa
Kampus merupakan tempat interaksi mahasiswa (insan pendidikan). Dimana mahasiswa dapat mengekspresikan seluruh keinginannya, karena kampus merupakan wadah eksplorasi semua potensi yang mahasiswa miliki. Kampus adalah tempat beraksi dimana mahasiswa dengan bebas melakukan ekspresi, baik melalai lisan maupun tulisan. Kampus adalah wadah pembelajaran dan perubahan bagi insan yang senantiasa mencintai pendidikan.
Perubahan-perubahan yang seharusnya terjadi adalah perubahan kearah yang lebih baik:
Dunia kampus telah melahirkan orang-orang besar.
Sudah sepantasnya kampus dapat melahirkan orang-orang besar. kegiatan kampus adalah titik proses dimana orang yang biasa-biasa menjadi yang luar biasa. Proses pendidikan yang dilakukan didunia kampus adalah suatu langkah, penyumbang kemajuan diri insan pendidikan.
Dari angkatan madya sampai yang bergelar profesor tercipta dari dunia kampus. Sarjana-sarjana yang memiliki intelektual tinggi yang kini telah berhasil mencapai perubahan. dari keadaan yang terbelakang menjadi yang terdepan. Merupakan hasil transformasi yang terjadi didunia kampus.
Dunia kampus merubah pemikiran.
Pendidikan yang ditempuh didunia kampus mampu merubah pemikiran seseorang. Perubahan yang diberikan tentu saja kearah yang lebih baik.
Dari insan yang berfikir sempit, menjadi insan yang memiliki wawasan kedepan. Mengubah insan pendidikan yang semula acuh terhadap sesama, Menjadi Insan  yang memiliki rasa empati, yang berani berkorban demi kepentingan bersama. dan dengan intelegensinya mahasiswa telah berhail mengubah peradaban.
Dunia Kampus Sebagai Pendongkrak Semangat.
Suasana kampus yang berbeda dengan masa sekolah, tentu dapat memacu  semangat insan pendidikan untuk berkontribusi memajukan institusi. Dunia kampus dapat menambah keinginan insan pendidikan giat dalam belajar dan mengembangkan potensinya. Mampu merubah pemalas menjadi bintang juara dalam setiap kompetisi. Keadaan insan yang semula bermental pengecut berubah menjadi mental mujahid.
Dunia kampus merubah karakter.
Karakter seorang mahasiswa adalah pencinta kebaikan. Karena kondisinya yang sudah dewasa, sudah tentu dapat membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk, telah mampu memilah mana yang pantas dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Ditambah lagi dengan posisinya sebagai insan pendidikan yang telah mengenyam pendidikan. Karena bukan hanya kecerdasan intelektual yang diajarkan, tetapi juga kecerdasan moral.
Insan pendidikan yang semula berjiwa penjahat, berubah menjadi berjiwa ustad. Seseorang yang semula bewatak keras berubah menjadi berhati besar. Sesorang pencuri menjadi orang yang berbudi.  Seorang penjudi berubah menjadi pemberi. merubah seorang yang apatis menjadi aktivis. Merubah seorang yang hedonis menjadi agen sosialis.
Dunia kampus menambah pengetahuan dan pengalaman.
Kampus adalah wadah pendidikan yang realistis, dimana proses pengajaran tidak hanya berupa teori tetapi juga praktik. Yang dapat menambah pengetahuan bagi insan akademis.
Dunia kampus memberikan pengalaman, yang dapat menjadi sebuah pembelajaran. Insan akademis yang semula miskin pengetahuan berubah menjadi orang yang memiliki wawasan luas. Dunia kampus mampu memberikan pemahaman. Dan memberikan jawaban atas semua pertanyaan.
Dunia kampus tempat menyalurkan potensi serta minat bakat.
Sudah sejatinya perguruan tinggi merupakan wadah penyalur potensi. Setiap kampus memiliki ormawa (organisasi mahasiswa) yang merupakan wadah untuk menyalurkan potensi kepemimpinan. Di setiap perguruan tinggi juga memiliki unit kegiatan kampus (ukm) yang merupakan wadah pengembangan minat dan bakat. Yang keduanya itu merupakan komponen kampus yang dapat membantu kemajuan dan perkembangan suatu kampus. Karena kemajuan kampus tidak hanya disokong oleh majunya pembangunan yang dilakukan oleh birokrasi atau banyaknya insan pendidikan  yang memiliki daya intelektual tinggi. Melainkan juga disokong oleh berbagai moment yang dihasilkan oleh ormawa dan ukm.
Namun sepertinya tak semua harapan sesuai dengan kenyataan. Berbeda dengan kampus kita. Realita yang terjadi adalah:
orang kecil tetap saja kecil, gelar yang dimiliki  hanyalah sebagai pelengkap sebuah nama.  Orang yang dikatakan besar adalah orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain.
Orang yang acuh tetap saja acuh, padahal kampus adalah wadah yang tepat untuk melakukan sebuah perubahan. Sebagian insan pendidikan tetap hedonis dan tetap saja menjadi pemalas.
Semangat dan antusias yang tinggi tidak Nampak dikampus tercinta. Penjahat tetaplah penjahat. Pencuri tetap manjadi pencuri. Hanya keegoisan yang terlihat bukan solidaritas.
Dunia kampus seharusnya ajang untuk menambah kualitas diri, tetapi yang terjadi insan pendidikan masih beranggapan bahwa proses belajar hanyalah sebuah formalitas.
HIDUP MAHASISWA!

Kamis, 12 Juni 2014

Cerpen (Manggis Buah Magis)



                  

“MANGGIS BUAH MAGIS”
Karya Sastra Ke IV 
Dikarang Oleh Hazizi Ibn Khaliq

       Alkisah disebuah kerajaan, hiduplah seorang raja dengan seorang permaisurinya yang cantik. Sebuah kerajaan yang makmur dan memiliki tanah yang subur. dikerajaan itu tumbuh buah-buahan yang kecil dan manis. Seluruh rakyat kerajaan menyukainya. Selain itu, rakyat juga sangat mencintai rajanya. Raja yang arif dan memiliki wibawa. Tak sedikit masalah rakyat, yang diselesaikan olehnya.
Namun sesuatu terjadi pada kerajaan. Permaisuri mengalami penyakit yang aneh. Penyakit ini tak diketahui obatnya. Berbagai tabib telah berusaha mengobatinya, namun tak berhasil.
Hingga berita sakitnya permaisuri tersebar keseluruh rakyat kerajaan. Mendengar kabar itu, rakyat berbondong-bondong untuk melihat permaisuri.tak sedikit juga yang menawarkan diri untuk mengobatinya. Namun tak ada hasil. Permaisuri tetap saja sakit dan semakin terkulai lemas.  Seluruh rakyat kerajaan sedih atas musibah yang menimpa kerajaan. Dulu banyak senyum dan tertawa yang terlihat, tapi  sekarang hanya ada wajah kesedihan dari rakyat. termasuk jaka, yang juga merasakannya. Jaka merasa ada perubahan dalam kehidupan kerajaan, dahulu penuh kegembiraan dan sekarang hanya ada kesedihan. Jaka adalah pemuda kampung yang lugu dan polos. Ia tinggal dipangkalan sungai kerajaan. Ia sangat mengagumi sosok sang raja yang bijaksana.
Hingga akhirnya datang seorang tabib yang tingal diperbatasan kerajaan menghadap raja dan meminta untuk melihat permaisuri yang sedang sakit itu. Dengan kearifannya, sang raja mengizinkan. tabib itu mengamati kulit permaisuri dan dahinya. Ia melihat kalau kulit permaisuri memudar dan tampak tua dari umurnya. . Ia kemudian memberitahu raja, obat dari penyakit permaisuri.
Penyakit yang dialami permaisuri hanya bisa disembuhkan dengan memakan sebuah manggis. Buah itu besar dan rasanya sangat manis. Konon buah manggis itu cukup sulit untuk didapatkan, buah itu terdapat jauh dari kerajaan. Tak seorangpun dari kerajaan itu yang tau bentuk dari buah itu. Nama buah itu saja sangat asing ditelina mereka, termasuk juga raja.
Tabib itu menegaskan. Kalau buah itu tidak berbuah setiap tahunnya, ada waktu-waktunya, dan tak akan ada orang yang mengira. Selain langka, buah manggis adalah buah yang aneh dan memiliki keunikan. Bahkan tabib itu tanpa ragu mengatakan kalau buah itu adalah buah ajaib.
Setelah memberi penjelasan tentang buah itu, tabib langsung pulang. Sebelum pulang Ia itu berpesan kepada raja, bahwa siapa saja yang dapat menemukan buah itu, mereka harus terlebih dahulu menemuinya, karena hanya dia yang tau dengan buah itu. Raja kemudian mengamininya.
Raja kebingungan menemukan cara untuk mendapatkannya. Masalahnya adalah ia tidak tau tempat dimana buah itu biasa tumbuh, dan ia juga tidak tau kapan pohon manggis itu berbuah. namun buah itu harus ditemukan, untuk menyembuhkan permaisuri yang sangat dicintainya itu.
Akhirnya raja mengumumkan kepada rakyatnya. Bagi siapa saja yang dapat menemukan sebuah manggis akan diberikan hadiah dan dijadikan keluarga kerajaan.
Berita ini sampai ketelinga jaka. Ia tak menyangka, kalau penyakit permaisuri sudah ditemukan obatnya.
“Apapun obatnya, aku akan mencarinya, demi kerajaan”. Fikir jaka. Ia kemudian menghadap kekerajaan dan menemui raja. dihadapan raja, jaka meminta izin untuk mencari buah manggis yang diinginkan sang raja. Raja menyambut baik niat jaka. Dan sang rajapun mengizinkan.
Sebelumnya ada tiga orang pemuda yang menawarkan diri untuk mencari buah tersebut. Mereka adalah halim, sahil, dan pandi. Mereka memiliki keahlian dan kemampuan masing-masing,
Sebelum berangkat raja meminta mereka berempat untuk menghadap. Raja menegaskan bahwa pemuda yang pertama kali mambawa buah manggis kehadan raja, dia adalah pemenang.
dia juga berhak menerima hadiah dan dianggap sebagai keluarga kerajaan. Ungkap raja kepada keempat pemuda itu.
Raja juga mangatakan, sebelum menghadap kekerajaan, mereka harus menunjukkan terlebih dahulu buah yang mereka bawa kepada tabib yang tinggal diperbatasan kerajaan.
Kemudian raja bertanya kepada keempat pemuda perihal keahliannya.
Pemuda pertama mengatakan “ aku adalah pemuda yang berani, aku juga pengendali kuda yang handal. Aku mampu mengacu kuda dengan cepat”, begitu pemuda itu meyakinkan raja.
Pemuda kedua juga bercakap “ aku adalah pemuda yang kuat, aku mampu memanjat pohon-pohon besar dan tinggi, kalau buah itu berpohon besar, maka aku mampu mamanjatnya.
Pemuda ketiga juga tak kalah meyakinkan raja. “ wahai raja, aku adalah pemuda yang cerdik dan pintar, aku akan mendapatkan buah itu untuk permaisuri.
Dan terakhir raja bertanya kepada jaka.. “apa keahlian mu jaka..?”
Jaka menjawab dengan polosnya.. “wahai raja, aku adalah pemuda kampung yang tak memiliki apa-apa, aku tak begitu pintar, dan aku juga tak begitu kuat, tapi aku akan berusaha, mendapatkan buah manggis itu”. Begitulah jaka bergumam kepada sang raja.
Akhirnya mereka berempat berangkat keberbagai penjuru arah untuk mencari buah manggis.
Halim dengan pacuan kudanya yang kencang pergi kearah utara, diikuti dengan sahil pergi kearah selatan, dan pandi pergi kearah timur. Sedangkan jaka pergi kearah barat.
Dalam perjalanannya kearah utara, pemuda pertama melihat buah yang cukup unik menurutnya. Buahnya besar, buah itu juga tergeletak ditanah, tidak seperti yang ia bayangkan. Buah itu tak lain adalah buah semangka. Ia berfikir kalau buah itu adalah buah manggis. Selain karena buahnya besar ia juga beranggapan biasanya kalau buah yang besar pohonnya juga besar dan tinggi, dan harusnya bergantungan. Tidak seperti yang ia temukan, pohonnya memiliki sulur yang merayap dan buahnya pun besar, isinya merah, dan rasanya manis. Ia sangat yakin kalau itu adalah buah manggis, terlebih lagi perjalanannya sudah cukup jauh dari kerajaan nya. Tidak sulit untuk mendpatkan buah itu, ia hanya diminta menukarkan buah itu dengan kudanya oleh sipemilik buah.
Pemuda kedua yang pergi kearah selatan menemukan pohon kelapa. Karena tak menemukan buah lagi selain buah kelapa. Ia pun beranggapan kalau buah itu adalah buah manggis. Ia melihat keunikan dari buah ini. Pohon dari buah ini tidak memiliki dahan dan ranting., dan buahnya memiliki air yang banyak didalamnya, yang mampu membasuh muka. Tak pernah ia melihat buah seperti itu dinegrinya. Untuk memperolehnya ia hanya diminta untuk memanjat dan mengambilnya oleh pemilik buah tersebut. Dan kemudian membagi hasil panjatannya.
Pemuda ketiga adalah pemuda yang licik dan cerdik. Dalam perjalanannya kearah timur, ia tak menemukan satu pohon buah pun. Ia kemudian pergi kepasar dinegri timur tersebut, dan mencuri satu buah yang menurutnya itu adalah buah manggis, karena ukurannya yang besar. Padahal yang diambilnya adalah buah melon.
Jaka yang pergi kearah barat cukup menikmati perjalannanya mencari buah mangis. Bukan sedikit pohon buah yang ia temui, namun ia harus berhati-hati memilih buah manggis. Konon katanya kalau buah manggis itu adalah buah yang besar, unik dan ajaib.
Rintangan demi rintangan Ia lalui untuk mendapatkan buah itu, kelaparan dan kedinginan adalah hal yang biasa baginya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan kakek tua.
Kakek tua itu tinggal dikaki gunung dan ia memiliki banyak pohon buah. Sejenak jaka memperhatikan buahnya, tak ada keunikan pada buah itu, ukuran buahnya standar tak begitu besar, sama seperti buah yang ada dinegrinya.
Jaka tak menyangka, kakek mengawali perbincangan.. “apa yang engkau inginkan disini, nak. Sepertinya kamu juga bukan pemuda daerah sini.?”.. dengan rasa hormat jaka menjawab “kakek, aku adalah pemuda yang tinggal di negeri yang jauh dari sini, aku hendak mencari buah manggis, sebagai obat untuk permaisuri raja kami.
jaka kemudian menjelaskan keadaan permaisuri dan kerajaan.
Dengan cermat kakek mendengarkan keluhan jaka. Kakek kemudian mengataan “buah yang kau lihat ini adalah buah mangis..”
Jaka terkejut dengan apa yang dikatakan kakek, ia tak percaya kalau yang ia lihat itu adalah buah manggis.
“bukankah buah manggis itu, adalah buah yang besar”, Tanya jaka kepada kakek. Kakek menjelaskan “memang benar, buah manggis adalah buah yang besar, namun yang dimaksud oleh banyak orang bukanlah ukurannya melainkan khasiatnya. Buah manggis memiliki khasiat yang besar”.
Dengan penjelasan kakek, jaka menjadi faham akan keunikan dan keajaiban dari buah manggis. jaka kemudian meminta izin kepada kakek untuk mengambilnya. Namun kakek tidak mengizinkannya begitu saja. kakek meminta jaka untuk memberikan sesuatu sebagai gantinya. Jaka kebigungan untuk mewujudkan keinginan kakek. Ia tak memiliki apapun dan ia juga tidak pandai membuat barang, sekedar hanya untuk kenang-kenangan.
Ia kemudian teringat dengan sebuah kincir air miliknya didesa, ia kemudian membuatkan kincir air buat kakek, sebagai syarat untuk mengambil buah manggis itu. Akhirnya kakek mengizinkan jaka untuk mengambil buah manggis. Sebelum berangkat pulang, kakek bercerita kepada jaka, bahwa buah manggis itu memiliki isi yang manis, dan jumlah isinya tidak menentu. Namun jumlah isinya bisa ditebak dengan meihat mata isi yang ada dibagian bawah kulit manggis. Jaka kemudian mengamati buah yang ia ambil. Ia hanya membawa satu, sesuai permintaan raja, sebuah manggis.
Tak menungu waktu lama, jaka pulang ke negrinya untuk menghadap raja. Ia sangat senang dapat menemukan buah manggis.
Sebelum menghadap sang raja, keempat pemuda harus menemui tabib, untuk menanyakan apakah buah yang mereka bawa, benar-benar buah manggis atau bukan.
Pemuda pertama sampai terlebih dahulu, ia kemudian menghadap tabib dan menunjukkan buah bawaannya. tabib menjelaskan bahwa yang ia bawa adalah buah semangka bukan buah manggis.
Karena salah membawa buah akhirnya pemuda pertama sembunyi dibalik semak-semak untuk menunggu kedatangan pemuda selanjutnya. Tibalah pemuda kedua, ia menghadap dan menunjukkan buahnya, ternyata yang ia bawa adalah buah kelapa, bukan buah manggis, dan ia kemudian bersembunyi di semak-semak, untuk menunggu pemuda yang lain datang.
Tak berapa lama, datanglah pemuda ketiga, namun yang dibawa pemuda ketiga juga salah, ia membawa buah melon. Ternyata ia juga melakukan hal yang sama seperti pemuda sebelumnya, bersembunyi disemak-semak tak jauh dari rumah tabib itu, untuk menunggu kedatangan pemuda selanjutnya.
Mereka berniat untuk mencuri buah manggis yang sebenarnya, dan menyerahkan buah itu atas namanaya kepada raja.
Dan terakhir datanglah jaka dengan membawa buahnya. Kemudian tabib itu membenarkan buah milik jaka. Jaka sudah menduga kalau buah yang ia bawa adalah buah manggis. Pemuda ketiga yang mendengar kebenaran buah jaka, dengan liciknya menipu jaka, hinga jaka kehilangan buahnya sebelum sampai kepada raja.
Kemudian pemuda kedua memintanya dengan paksa dari pemuda ketiga. Pemuda ketiga takut dan menyerahkan buahnya kepada pemuda kedua.
pemuda pertama mengetahui kalau buah itu sudah ditangan pemuda kedua, ia bergegas menghadap raja dan mengarang cerita, kalau buah miliknya telah dirampas oleh pemuda kedua, ia juga meyakinkan raja kalau ia tak mampu melawan karena pemuda kedua adalah pemuda yang kuat.
Raja yang mendengar cerita itu, kemudian memanggil keempat pemuda dan berniat menyelesaikan masalahnya. Dihadapan sang raja keempat pemuda ini mengaku bahwa merekalah yang berhasil mendapatkannya. Saat ini buah itu sudah ditangan raja, namun raja masih bingung memutuskan, siapa yang sebenarnya pembawa buah manggis itu.
Pemuda pertama berkata kepada raja “ wahai raja, engkau adalah raja yang arif dan bijaksana, engkau pasti mengetahui siapa yang benar”..
Raja kemudian menguji keempat pemuda ini. Raja meminta mereka untuk menceritakan bagaimana mereka mendapatkannya, dan bagaimana bentuk isinya.
Pemuda pertama memulai…”aku pergi kearah utara, disana adalah tempat yang subur, banyak tumbuhan langka dan besar disana, tidak seperti disini. Untuk sampai disana, kita harus sekuat tenaga mengayunkan pedang untuk menebas rumput sebagai jalan. Disana saya menemukan buah manggis itu. Pohon dari buah itu tidak seperti yang lainnya. Ia memiliki pohon menjulur ketanah dan panjang seperti pohon rotan. Bayangkan saja, untuk mendapatkan satu buah saja, kita harus menapaki sulur yang panjang dulu. Sulur itu dapat ditempuh satu bulan berjalan kaki. Dan dengan kecepatan kuda ku, aku hanya dapat menapakinya dengan waktu 3 hari saja. Sebelum akhirnya kudaku mati karena kelelahan. dan isi dari buah ini berwarna merah dan rasanya manis. Begitulah pemuda pertama mengarang cerita.
Pemuda kedua kemudian bercerita “raja, aku pergi kearah selatan, disana aku menemukan pohon yang besar dan tinggi-tinggi, tidak seperti disini. Aku mengambil buah itu dari sebuah pohon. Pohon itu besar dan tinggi. Pohon itu juga tak memiliki dahan dan ranting seperti biasanya. Kebesaran pohon itu dapat meneduhi satu kampung disana. Dan untuk memanjatnya, orang biasa butuh waktu sebulan untuk  dapat mengambil buahnya. Dengan kekuatan dan kelihaianku, aku hanya butuh waktu 3 hari memperolehnya. Dan buah ini memiliki air yang banyak, yang mampu membasuh muka, tidak seperti buah yang kita temukan disini. Dengan tegas pemuda kedua bercerita.
Dilanjutkan dengan pemuda ketiga “wahai raja yang bijaksana, sesungguhnya aku telah dizalimi oleh mereka, mereka mengambil buah itu dariku, aku berkelana kearah timur untuk mencari buah manggis. Disana sungguh gersang tak ada tumbuhan sedikitpun. Konon tumbuhan disana habis dimakan seekor binatang yang besar. binatang itu mampu mamakan tumbuhan seluas kampung dalam setiap harinya. Sesungguhnya buah manggis itu adalah telur dari binatang  itu. Sebagaimana bentuk telur, isi dari buah ini berwarna kuning dan rasanya pun manis, layaknya buah-buahan. Begitulah pemuda ketiga bercerita kepada raja.
Dan tibalah giliran jaka bercerita “wahai raja, aku mengembara kearah barat, semata-mata mencari buah manggis. Lapar dan kedinginan sudah tak perlu aku ceritakan, diujung barat ditengah hutan aku mendapati puluhan pohon manggis milik kakek tua, aku sendiri ragu dengan buah itu. Pasalnya, buah manggis adalah buah besar, sedangkan yang kulihat adalah buah yang tak begitu besar, tak jauh berbeda dengan buah yang ada dinegeri ini. Namun yang dikatakan besar bukanlah ukurannya, tapi khasiatnya. Buah ini berkhasiat besar, dan dapat menjadi obat. Aku membuatkan kakek itu kincir air sebagai tukarnya. Wahai raja isi dari buah manggis ini, adalah putih, bukan merah atau kuning, juga tidak memiliki air yang banyak yang mampu mencuci muka seperti apa yang diceritakan pemuda kedua.
Aku juga dapat menebak isi dari buah itu. Pinta jaka kepada raja. Sepintas ketiga pemuda itu bertatapan, dan kecemasan pun mulai menyelimuti.
“berapa isi dari buah ini?” Tanya raja. Dengan tegas jaka menjawab “enam. Manggis ini berisi enam”.
Setelah keempat pemuda ini bercerita, akhirnya raja membelah buah itu untuk membuktikan cerita dari keempat pemuda itu.
Dan isi dari buah itu adalah berwarna putih dan berisi enam, seperti apa yang diceritakan oleh jaka. Ketiga pemuda pun terkejut, dan malu dihadapan raja. Karena mereka telah berbohong kepada raja. Raja kemudian memberikan buah itu kepada permaisuri, dan permaisuri kemudian sembuh. Tubuhnya tak lagi lemas dan wajahnya terlihat lebih muda dari sebelumnya.
Akhirnya raja memberikan hadiah kepada jaka dan mengangkatnya sebagai keluarga kerajaan. Dan sebagai hukumannya ketiga pemuda itu dijebloskan kedalam penjara kerajaan.
Sejak kesembuhan permaisuri, wajah kegembiraan dan kesenangan kini tampak lagi pada seluruh rakyat kerajaan. Dan kerajaan pun hidup dengan kemakmurannya.

……TAMAT……
CP :085789703246/089623533496

Rabu, 11 Juni 2014

Cerpen Perjalanan Ke Bukit Burudah


Dikarang Oleh HAZIZI

“PERJALANAN KE BUKIT BURUDAH”

Tak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan. Baik yang sengaja dilakukan, maupun karena ketidaksengajaan. manusia seharusnya mampu menghargai satu sama lain, tanpa mengenal perbedaan agar tak saling melukai. Bahkan kesalahan adalah fitrah bagi setiap manusia, namun yag terpenting adalah kesiapan untuk mengakui kesalahan dan tak  mengulanginya.
Sebagaimana yang tengah dialami masyarakat kampung pendana, masyarakat dituntut mengakui kesalahan yang pernah mereka perbuat. saat ini masyarakat kampung pendana tengah dilanda kegelisahan, pasalnya kampung itu terancam menderita, masyarakat akan mendapatkan penyakit secara masal oleh seorang laki-laki tua. bapak petuah berilmu sakti, begitulah sebutan masyarakat kepada orang yang mengancam kampung itu. Tapi petaka itu bukan disebabkan oleh bapak petuah berilmu sakti itu, melainkan karena ulah masyarakatnya sendiri. Masyarakat kampung itu telah melakukan kesalahan, karena telah berlaku buruk kepadanya.
Kala itu ada orang  yang berwatak gila datang kekampung pendana. layaknya orang gila, dia menggunakan baju lusuh dan kotor. ditambah dengan kebiasaannya, senyum sepanjang jalan. Dari perbatasan kampung pendana, Orang gila itu diarak dan dizalimi oleh orang-orang kampung. bukan hanya anak-anak, melainkan ada diantara mereka orang tua. Entah apa yang ada di benak orang tua itu, mengapa mereka  juga ikut mengarak-arak orang gila itu. adalah hal yang wajar jika itu dilakukakan oleh anak-anak.
Dikampung itu Ia diperlakukan dengan buruk, dihujat, dihina, ditendang bahkan didorong oleh salah satu warga hingga terjungkal dari tangga rumahnya.
Setelah kejadian itu, masyarakat terkejut, bahwa orang gila itu adalah seseorang yang berilmu sakti yang tengah menguji kampung pendana.
Namun yang didapatinya adalah perlakuan buruk, dari warga kampung. meskipun ada yang bersikap baik. Orang sakti itu tengah melakukan “ngarun” dalam bahasa daerah setempat. Masyarakat sangat menyesal atas perlakuannya kepada bapak petuah berilmu sakti yang ngarun menjadi orang gila. bapak petuah itu kemudian mengancam seluruh warga kampung pendana, ia memberikan penyakit masal kepada sebagian warga kampung, hampir setiap satu dari setiap keluarga ada yang menjadi sakit, akibat kemarahan bapak petuah berilmu sakti itu.
bapak petuah itu mengatakan kalau penyakit itu bisa disembuhkan dengan meminum rebusan kayu tas dan meminta maaf kepadanya. Bapak petuah berilmu sakti itu mengaku kalau dirinya adalah imam malik.
Dalam sepengetahuan warga, imam malik adalah orang sakti yang memiliki ilmu tinggi, dan memiliki ilmu kebatinan. Imam malik sangatlah disegani, tak ada yang tak mengenal ia, karena ia adalah seorang tabib sakti. Warga kampung pendana sangat menyesal karena perbuatan mereka terhadap imam malik.
Mereka tak menyangka akan diuji oleh imam malik. Tak ada yang dapat diupayakan, selain datang kepadanya dan memohon maaf. Sekaligus meminta obat untuk warga kampung yang terkena penyakit. Permasalahannya adalah, tak satupun dari mereka  tau tempat tingal  imam malik.
Dalam rumah pemangku adat seluruh warga kampung berkumpul dan bermusywarah. Mereka akan menetapkan siapa yang akan mewakili kampung pendana untuk mencari dan menemui imam malik. Pak mujid, selaku kepala adat sekaligus orang yang dituakan dikampung itu menanyakan kepada warga, tentang kesiapan untuk menemui imam malik. Namun tak seorangpun yang menyanggupinya.
Semua warga tau kalau menemui imam malik sangatlah sulit, hanya orang yang beruntunglah yang dapat bertemu dengannya.
Apalagi terdengar isu kalau imam malik, tinggal dibukit burudah. Bukit tertinggi dan terkenal sangat dingin, terletak diujung barat jauh dari kampung pendana. tidak hanya itu, bukit itu penuh dengan misteri, tak sedikit orang yang tersesat disana. Tentu saja akan banyak rintangan yang akan dilalui dibukit burudah. Bukan hanya kesiapan fisik yang dibutuhkan, tetapi juga kesiapan mental.
Pak mujid menjelaskan, kalau salah satu dari warga harus ada yang menemui imam malik dan meminta maaf, untuk menyelamatkan kampung. Karena imam malik sangat mengancam mereka.
sampai tiga kali pak mujid menawarkan kepada masyarakat kampung untuk menjadi relawan. Terdengar secara bising masyrakat kampung saling menunjuk satu sama lain.
Benar, tak ada yang berani berkelana kebukit burudah. Hingga akhirnya seorang remaja mengusulkan untuk melakuan pengundian bagi masyarakat kampung pendana. Remaja itu adalah badar. Badar merupakan remaja yang polos dan tak menyukai kekerasan. remaja yang tak banyak bergaul dengan teman sebayanya. Pendapatnya sering kali diacuhkan dan tidak didengar oleh kebanyakan masyarkat kampung pendana. “diundi saja” katanya.
Entah apa yang menggerakkan hati pak mujid, hingga ia menerima usul dari badar. Badar menambahkan kalau semua warga laki-laki mulai dari remaja, pemuda dan orang tua harus memasukkan namanya kedalam sebuah wadah, yang kemudian diambil secara acak oleh kepala adat. warga juga harus menentukan berapa orang yang harus mengemban amanah itu. Warga sepakat kalau pengemban amanah itu diwakili oleh enam orang.
Masyarakat kemudian menuliskan namanya dan memasukkan nya kedalam kendi. dan pak mujid mengawali pengambilan nama secara acak. Nama yang pertama kali muncul adalah samari, diikuti oleh ujang, bakar,  sahil, bambang dan terakhir adalah badar. badar adalah satu-satunya remaja diantara keenam orang itu.
Ia cukup terkejut, namanya muncul dalam undian itu. sebenarnya ia tak cukup berani mengemban amanah itu, ia sangat sadar, kalau fisiknya sangat lemah, apalagi harus mendaki bukit. Tapi karena ini adalah hasil undian, yang merupakan usulnya, ia harus memberanikan diri. Ini juga demi menyelamatkan kampung “fikirnya”.
Dari kalangan orang tua ada pak bakar, pak sahil dan pak ujang, sedangkan dari kalangan pemuda ada samari dan bambang.
Berani atau tidaknya, keenam orang itu harus siap mengemban amanah dari kampung mereka. Keenam orang itupun berkumpul kembali dirumah pak mujid, untuk mendengarkan wejangan dari kepala adat itu. pak mujid yang lebih mengenal imam malik menjelaskan, kalau godaan dibukit burudah sangatlah banyak, dan untuk sampai kesana harus dengan niat yang tulus, mereka juga diminta untuk menjaga lisan. Banyak yang menjadi tersesat, setelah pulang dari sana.
Sebelum berangkat, badar meminta izin kepada orang tuanya. Ibunya tak tega, badar herus berkelana mencari imam malik. Orang sakti itu. sambil menyiapkan keperluan badar ke bukit. Ibunya berpesan agar jangan tergoda oleh apapun saat dibukit burudah. Badarpun mengamininya, dan meminta doa dari orang yang sangat dihormatinya itu.
Setelah semuanya siap, merekapun berangkat. mereka diantar oleh seluruh warga kampung sampai keperbatasaan.
Pak bakar orang yang paling tua dari rombongan itu, memimpin jalan. Mereka menikmati langkah-demi langkah, mengurai jejak, menapaki hutan terbentang luas, hingga menyebrangi sungai. Keluar masuk hutan, dan beristirahat saat lelah. Dalam perjalanan, pak bakar menceritakan sosok imam malik kepada badar, sampai badar menyimpulkan bahwa imam malik adalah orang yang sangat baik lagi berhati mulia. Kemudian badar bertanya kepada pak bakar “apa yang sebenarnya dilakukan imam malik dikampung kita kemarin?”. Pak bakar menjelaskan. Imam malik sedang ngarun, sengaja menjelma menjadi orang gila untuk menguji sikap dan sifat orang kampung  pendana, dan ternyata kita memperlakukannya sangat buruk. Hingga kita mendapat hukuman darinya.
“Bukankah hal yang wajar apa yang dilakukan warga terhadap orang gila, kan masyrakat tidak tau…?”, begitu badar berpendapat. Pak bakar menjawab “bukankah orang gila juga manusia, yang harus kita perlakukan dengan baik.”
Pak bakar kembali memberi penjelasan kepada badar. sebagai manusia yang baik kita harus berkelakuan baik antar sesama, tanpa mengenal dia kaya atau miskin, kuat atau lemah.
Dengan penjelasan pak bakar, badar sadar, kalau kampungnya pantas mendapat musibah, itu karena ulah dari masyrakat kampungnya sendiri.
Sudah cukup lama mereka berjalan sampai mereka tak merasa sudah berada di kaki bukit burudah. cuacapun langsung berubah. Udara disana berubah menjadi dingin sampai menusuk sendi-sendi setiap makhluk yang berada disana. Dan keheningan mulai menyelimuti setiap ruang hutan itu. pak bakar memulai pembicaraan. “kita sudah sampai di kaki bukit burudah, kita harus berhati-hati, jangan sampai ada yang terpisah dari rombongan, karena perjalanan kita masih cukup jauh”.
Dilain sisi pak ujang bergumam “seandainya kita bisa terbang, mungkin lebih mudah sampai ke puncak bukit burudah….”
Mereka kembali menyisir jalan, menapaki langkah-demi langkah jalanan yang akan mereka lalui. dengan seksama mereka memperhatikan setiap tumbuhan yang ada dihutan burudah. Semuanya asing dan unik bagi keenam orang relawan kampung itu. Banyak tumbuhan langka disana. Tak sedikit pohon-pohon besar yang hidup di hutan burudah. Hutan yang terkenal sangat dingin itu.
setiap tumbuhan tumbuh dengan suburnya. agar tak tersesat saat pulang, badar mengingat-ingat jalan yang pernah dilaluinya.
Sudah cukup jauh mereka menyisir hutan itu, namun belum ada tanda-tanda ada perubahan dari setiap jalan yang mereka lewati. Pak Ujang berbicara kepada tim rombongan “bukankah ini jalan yang tadi…?, aku merasa sudah 2 kali melewati jalan ini”. dengan penuh keseriusan pak ujang memberi penjelasan. Pak bakar juga menambahkan “aku juga merasa demikian, coba kalian perhatikan pohon berakar besar itu, pohon itu sudah kita lalui”. 
Mereka bingung dan heran dengan apa yang terjadi pada mereka. Padahal mereka berjalan lurus, tak pernah berbelok. Jadi tidak mungkin kalau mereka tersesat dan kembali pada jalan semula. Kekhawtiran mulai merasuki keenam orang itu.  pak bakar memberikan kesempatan bagi tim rombongan untuk mengajukan pendapat. “Kita harus tetap jalan lurus, aku yakin pasti ada jalan lain disana..”. pinta samari, pemuda kampung yang berbadan besar dan berwatak keras itu. namun badar juga memberikan usul “kita pergi kearah barat dan mencari sungai, dengan menyisir sungai, kita dapat keluar dari hutan ini”.
Pak bakar setuju dengan pendapat badar, tapi tidak dengan pak sahil dan samari. samari dan pak sahil memang tidak suka dengan badar. dua kakak beradek ini memang membenci badar, sebagaimana mereka juga tak menyenangi ayahnya.
Samari sangat menentang pendapat badar “aku tak mau ikut, jika harus mengikuti pendapat badar, yang sok pintar..”. Dengan tegas samari mengatakan. Bambang selaku sesama pemuda dengan semari menjelaskan, kalau jalan lurus sudah kita lewati dua kali, namun tak ada hasil, dan perdebatan pun terjadi antara bambang dan samari.
Samari sangat yakin, kalau ada jalan persimpangan yang terlewatkan. Dan  Mereka akhirnya mengikuti permintaan samari, berjalan lurus kembali. Ditengah perjalanan, mereka menemukan jalan persimpangan, seperti apa yang disampaikan samari. Samari menjadi sangat yakin, kalau pendapatnya benar, dan mereka dapat keluar dari hutan yang telah menyesatkan mereka itu. mereka kemudian mengikuti jalan persimpangan itu, setelah cukup lama berjalan, ternyata mereka masih menemui jalan yang terdapat pohon berakar besar itu, tempat mereka berdebat sebelumnya. “pohon ini lagi..” badar bergeming. dan mereka pun memperhatikan jalan. dan benar, mereka menemui jalan itu lagi.
samari hanya bisa diam dengan apa yang ia saksikan. Kemudian berteriak sekuat-kuatnya dalam hutan.
Pak Sahil menenangkan samari. “ini semua gara-gara kamu badar, aku ada disini.” Ungkap samari kepada badar. “seandainya kamu tak mengusulkan untuk diundi, aku tak mungkin ada disini” tambahnya. badar merasa bersalah, namun pak bakar meyakinkan, kalau kehadiran mereka merupakan sebuah takdir. “padahal aku tak menuliskan namaku, sewaktu mengundi, aku menulis namamu badar, siapa yang menuliskan namaku?”, teriak samari membelah kesunyian hutan burudah. “bapak mu”, jawab bambang, “aku melihatnya kalau bapak mu menulis namamu, bukan namanya”. Samari sangat kecewa dan marah kepada bapaknya. Namun lagi-lagi pak bakar meyakinkan kalau ini sudah ditakdirkan. Saat ini yang terpenting adalah dapat keluar dari hutan ini.
Akhirnya mereka mengikuti usul badar, mereka pergi kearah barat, menebas rumput dan menjadikannya jalan, hingga akhirnya mereka menemukan aliran sungai. Kemudian mereka menyusuri sungai itu, meski terasa sangat dingin. Mereka berharap tak lagi bertemu dengan pohon berakar besar itu.
Setelah cukup lama menyisir sungai, mereka pun kembali ketengah hutan, untuk mencari jalan dan beristirahat. Dan benar, mereka tak kembali pada jalan yang tadi.
Setelah cukup lama beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan, setapak-demi setapak langkah kaki mereka kumpulkan untuk mencapai puncak tertinggi bukit burudah. Tempat dimana imam malik bersemayam. Mereka kembali memperhatikan setiap untaian jalan yang mereka lalui.
Terucap kata sederhana dari mulut bambang, “sejak kita tiba dibukit ini, belum pernah aku melihat 1 ekor binatang pun..”, tak ayal, baru selesai kata itu terucap, seekor ular yang cukup besar, menghalangi jalan. Ular itu berwarna unik dan memiliki tanduk dibagian kepala.
Mereka terkejut dan menghentikan langkah. Semua nya terdiam, tak ada satu helaan nafaspun terdengar. Mata ular itu menatap tajam kearah keenam orang itu, ular itu hendak menerkam mereka. Mereka kemudian berbalik arah, dan lari sekuat tenaga, untuk menghindari kejaran  ular itu, terdengar kata-kata keras dari mulut pak bakar, “dikejar ular, larinya harus berbelok-belok” kata-kata itu terus diulanginya. Dengan diawalinya semua berlari dengan berbelok-belok. kecuali pak sahil, yang mungkin tak mendengar ucapan pak bakar, hingga akhirnya ia dapat dilumpuhkan oleh ular itu. seluruh badannya diliit keras oleh ular bertanduk itu, tak cukup lama ular itu melakukannya, ular itu kemudian pergi tanpa memakan tubuh pak sahil.
Kelima orang lainnya, termasuk badar, hanya mampu menyaksikan nya dari kejauhan tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka kemudian mendekati pak sahil, namun ia sudah tak bernyawa lagi. samari sangat marah dan semakin menyalahkan badar. Badar semakin tertekan dengan keadaannya, selain karena disalahkan oleh samari, ia juga saksi mata atas kematian pak sahil, yang membuatnya terauma. Pak ujang menjelaskan “kita sudah separuh jalan, kita harus menyelesaikan perjalanan kita, warga kampung sangat berharap kepada kita”.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya, menyisir hutan bukit burudah, rasa dingin sudah menyatu dalam tubuh mereka, sehingga tak sedingin, saat mereka sampai dikaki bukit burudah.
Hingga akhirnya mereka menemukan perkampungan. Dalam perkampungan itu mereka singgah dan menumpang beristirahat. warga kampung itu menyuguhkan makanan yang enak dan lezat, sepintas samari memperhatikan setiap warga disana, paras dari warga itu bersinar, wanitanya pun sangat cantik. sehingga membuat kelima orang itu terpedaya.
Dalam tatapan samari, wanita disana sangatlah menarik perhatiannya. Sebagai pemuda yang cukup berumur, ia memberanikan diri untuk berkenalan dan mendekati wanita-wanita yang cantik itu.
sebenarnya dalam diri pak bakar merasakan kejanggalan pada kampung yang mereka singgahi itu, namun ia tak mau mengkhawatirkan rombongan. hanya sehari mereka disana. Mereka beristirahat melepas lelah. Dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Ketika hendak berangkat. samari tidak ingin ikut dengan mereka lagi, ia memilih tinggal dikampung itu. ia mengatakan kalau ia betah tinggal dikampung itu, dan telah memiliki jodoh.  Ia mengatakan kalau ia ingin menikahi wanita kampung itu. ia juga menjelaskan kalau 4 orang cukup untuk menemui imam malik, dan meminta maaf.
Pak bakar mengerti dengan keadaan samari, ia sudah cukup umur untuk menikah. Pak bakar hanya berpesan kepada samari, agar mau menunggu mereka dikampung ini, sampai mereka pulang nanti. Meski hanya 4 orang mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, hinga sampai kepuncak bukit burudah.  Semakin kepuncak, udara semakin dingin. Tapi itu tak menghalangi keempat orang itu untuk menemui imam malik.
Sudah cukup lama mereka meninggalkan kampung tadi, mereka akhirnya beristirahat dan bermalam kembali.
Mereka mengambil posisi untuk tidur, karena waktu sudah malam. Sebelum tidur, bambang berceloteh “seandainya ada api besar dihutan ini, mungkin tidur kita akan terasa hangat”, seolah mustajab, ketika mereka ternyenyak tidur, api yang sangat besar mengelilingi tubuh mereka, pak bakar yang merasakan adanya api terbangun, ia terkejut dengan apa yang ia lihat, segera ia membangunkan badar, dan diikuti oleh pak ujang, sedangkan bambang yang tidur agak jauh dari mereka, belum terbangun. Mereka mencoba membangunkan bambang, namun api menghalangi mereka untuk mendekati bambang.
Mereka tak berani mendekat, karena api sangat besar, terutama dekat tubuh bambang. Saat bambang terbagun, ia tak mampu melakukan apa-apa, seluruh api telah mengelilinginya, tak ada yang dapat ia usahakan, ia berteriak sekuat tenaga untuk meminta tolong, semuanya panik namun pak bakar, pak ujang dan badar tak dapat buerupaya. Mereka berusaha memadamkan api, namun api begitu besar. Hingga api itu akhirnya membakar tubuh bambang.
Lagi-lagi mereka harus menyaksikan kematian salah satu dari rombongan mereka. Badar yang masih remaja itu cukup histeris dengan apa yang ia saksikan. Ia tak bisa membayangkan, jika hal itu terjadi kepadanya. Namun pak bakar mencoba untuk menenangkannya.
Setelah kejadian itu mereka meneruskan perjalanannya. Tak cukup jauh dari tempat mereka beristirahat. Mereka kemudian melihat seorang laki-laki. Dalam pandangan mereka. Laki-laki itu terbang dari pohon ke pohon, hingga akhirnya berhadapan kepada mereka. Laki-laki itu bertanya kepada mereka “hendak kemana kalian…?”, pak bakar menjawab “kami ingin kepuncak bukit burudah, ingin mengambil kayu tas”. Pak bakar kemudian menjelaskan kalau kayu itu digunakan sebagai obat yang tengah dialami masyarakat kampung pendana. Laki-laki itu kemudian bertanya kembali“ sudah berapa lama kalian berkelana di bukit ini?”. “20 hari”. Jawab badar, yang sejak awal menghitung hari dari mulai keberangkatan mereka.
“seandainya kalian mampu terbang sepertiku, kalian akan lebih  mudah sampai kepuncak bukit burudah, dan tak perlu bersusah payah, untuk berjalan kaki.”, dengan tegas laki-laki itu bercakap kepada badar dan kedua temannya.
Badar dan pak bakar tak menanggapinya serius. Berbeda halnya dengan pak ujang, sepertinya ia sangat tertarik dengan kehebatan laki-laki yang mampu terbang itu. “bisakah aku memiliki ilmu seperti itu...?”. Tanya pak ujang.
Laki-laki itu kemudian berkata lagi, “kalau kalian ingin sepertiku, datanglah kepadaku, dan temui aku dilembah itu..!”. lagi-lagi badar dan pak bakar tak menghiraukannya. Ia masih ingat betul pesan ibunya agar jangan tergoda oleh apapun. Namun lain halnya denga pak ujang, ia berhasrat sekali ingin kelembah itu. badar dan pak bakar, mencoba untuk mengingatkannya, agar kembali pada niatan semula, menemui imam malik.
Namun bukanlah bukit burudah, kalau tak memiliki godaan. Meskipun tanpa izin dari badar dan pak bakar, pak ujang langsung pergi kelembah itu, dan meninggalkan mereka. Pak bakar semakin yakin kepada badar, bahwa badarlah yang akan menemui imam malik. Dengan wajah sedih, badar menatap mata pak bakar dan berkata “pak bakar, aku minta jangan meninggalkan aku sendiri dibukit ini.”, begitulah pinta remaja polos itu.
Pak bakar meyakinkan badar, kalau ia akan menemaninya sampai kepuncak bukit burudah. Dengan rasa haru yang mendalam, pak bakar dan badar, melanjutkan perjalanan mereka kepuncak bukit burudah, dipuncak suasana bertambah dingin. Meski menambah kain pada tubuh mereka, kedua insan itu masih merasa kedinginan, tubuh pak bakar yang sudah cukup tua itu menggigil dan tak terasa lagi, akibat dinginnya cuaca.
Namun mereka tetap mencoba melanjutkan perjalanan, hingga mereka dapat bertemu dengan imam malik. Langkah demi langkah ditapaki oleh pak bakar dan badar.
saat ini mereka sudah sampai kepuncak bukit burudah, tinggal mencari tempat tinggal orang yang mereka cari itu. mereka menghentikan langkahnya setelah cukup lama berjalan, badar mengamati wajah pak bakar yang sudah pucat itu, tampak sangat kelelahan, ia juga terkulai lemas. tanpa dirasa, mereka juga kehabisan bekal. pak bakar bertutur “badar, bapak sudah tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan”, badar menatap tajam kearah wajah pak bakar dan berkata, “pak, kita beristirahat dulu, sambil menghangatkan tubuh…!”.
badar kemudian meminta izin kepada pak bakar untuk mencari air dan kayu bakar. Pak bakar hanya mampu mengedipkan mata, sebagai isyarat kalau ia mengizinkannya. Badar kemudian mengumpulkan kayu bakar, dan mencari sumber air, tak jauh dari tempat peristirahatan mereka. Badar menemukan air.
Air itu berasal dari himpitan batu yang dipancuri oleh bambu. Warna bambu itu serupa emas. Dan airnya pun sangat jernih dan sangat dingin. Rasa dinginnya melebihi cuaca yang badar rasakan.
badar tak memiliki pilihan lain, selain mengambilnya, selain karena ia sudah haus, ia juga memikirkan kehausan dari pak bakar, orang yang menemaninya sejak petualangan itu dimulai. Ia kemudian mengambilnya dan membawanya ketempat istirahat mereka. Pak bakar sudah sangat lemas, sampai bangun saja ia tak sanggup lagi. badar kemudian memapahnya dan membantunya meminumkan air bawaannya.
Pak bakar meminumnya sangat perlahan, belum sempat habis airnya, pak bakar menghembuskan nafas terakhirnya. Badar cemas, dan mencoba untuk membangunkan pak bakar, ia berteriak meminta pertolongan, namun tak ada seorangpun yang menolong. Badar hanya mampu menangis atas kematian pak bakar. Kini hanya ia sendiri yang bertahan untuk menemui imam malik.
Disatu sisi ia sangat marah atas keadaan yang menimpa dirinya, disisi lain, ia bertekad harus mampu menyenangkan hati warga kampungnya, termasuk  ibunya.
Memang tak jauh lagi dari tempat itu, badar sampai ke padepokan imam malik. Meski dengan rasa duka ia tetap melanjutkan perjalanannya. Dipuncak bukit burudah itu, badar bertemu dengan bapak tua yang bertubuh kerdil dan usianya jauh lebih tua dari badar. badar menghampirinya dan meminta izin untuk beristirahat. Bapak tua itu kemudian bertanya kepada badar “siapa namamu nak?” dengan nada hormat, badar menjawab “badar pak, badaruddin…”.
bapak itu bertanya lagi “darimana asalmu, dan apa tujuan mu datang kemari?”. Aku dari kampung pendana sebelah timur jauh dari bukit ini, aku ingin bertemu dengan imam malik dan mengambil kayu tas”. Jawab badar.
ia juga menjelaskan perihal musibah yang terjadi pada kampungnya. Ia juga menceritakan kejadian-demi kejadian yang menimpa teman-temannya. pak tua itu berkata sambil menunjukkan sebuah makam. “makam itu adalah makam imam malik, ia telah meninggal dunia sudah lebih dari 2 tahun”. Badar tersentak ia tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh pak tua itu, pasalnya sewaktu kejadian imam malik datang kekampungnya, ia melihat jelas orang itu.
meski begitu ia mencoba meyakini omongan dari pak tua itu, mengingat kalau imam malik adalah orang yang sakti. Ia sangat sedih, karena ia tak dapat bertemu dengan imam malik. “lalu bagaimana aku memintakan maaf kampungku padanya..?”, orang tua itu menenangkan badar dengan berkata “berziarahlah kamu dimakam itu, dan doakan ia”, begitu perintah orang tua bertubuh kerdil itu.
badar kemudian melakukannya ia berdoa dihadapan makam itu, dan meminta maaf atas nama kampungnya, yang telah berlaku buruk kepada imam malik. Setelah selesai ia kembali duduk dihadapan orang tua tadi. Orang tua itu memberi penjelasan kepada badar, bahwa imam malik telah memaafkan kampungnya, ia juga menerangkan kalau sahil dan bambang pernah menghina dan menghujat imam malik sewaktu dikampung, sedangkan pak ujang dan dan pak sahil pernah menendang dan mendorongnya sampai ia terjungkal.
Mendengar cerita itu badar perlahan meneteskan air mata, ia kemudian meminta maaf atas nama mereka. 
Setelah cukup lama mendengarkan cerita dari laki-laki tua itu, ia berpamitan pulang. Sebelum pulang, laki-laki itu memberinya sebuah kayu, yang tak lain adalah kayu tas, yang merupakan obat dari penyakit yang dialami warga kampung.
Tak banyak rintangan yang ia lalui saat pulang. Ia sendiri tak merasa kalau sudah sampai dikampungnya. Ia kemudian disambut oleh pak mujid, dirumah pak mujid ia menceritakan perihal kejadian-demi kejadian yang menimpanya dan beberapa temannya, ia menyampaikan kalau ia tak bertemu dengan imam malik, ia hanya bertemu dengan laki-laki tua bertubuh kerdil. ia juga menceritakan apa yang disampaikan oleh laki-laki tua itu.
dengan penuh kepastian pak mujid menyampaikan kepada badar, kalau laki-laki tua yang ia temui itu adalah imam malik, ia juga menambahkan kalua badar beruntung dapat bertemu dengannya. perihal samari dan pak ujang mereka sudah ada dikampung sejak seminggu yang lalu. Pak mujid menjelaskan kalau samari sekarang menjadi gila, kebanyakan orang mengatakan kalau ia gila karena wanita yang ia temui dibukit, sedangkan pak ujang sekarang lumpuh, kakinya patah, ketika hendak menjajal ilmunya.
Seluruh masyrakat merasa haru, saat mendengarkan cerita dari badar dan penjelasan yang disampaikan oleh pak mujid.
seluruh warga menyadari perbuatan mereka, mereka telah menzalimi manusia yang lemah. Sejak kejadian itu, seluruh warga hidup dengan rukun, saling membantu, dan saling menghargai satu sama lain, sedangkan samari dan pak ujang nampaknya mereka harus ikhlas dengan kondisi mereka sekarang.

……TAMAT……