Dikarang Oleh HAZIZI
“PERJALANAN KE BUKIT BURUDAH”
Tak ada
manusia yang tak pernah melakukan kesalahan. Baik yang sengaja dilakukan,
maupun karena ketidaksengajaan. manusia seharusnya mampu menghargai satu sama
lain, tanpa mengenal perbedaan agar tak saling melukai. Bahkan kesalahan adalah
fitrah bagi setiap manusia, namun yag terpenting adalah kesiapan untuk mengakui
kesalahan dan tak mengulanginya.
Sebagaimana
yang tengah dialami masyarakat kampung pendana, masyarakat dituntut mengakui
kesalahan yang pernah mereka perbuat. saat ini masyarakat kampung pendana tengah
dilanda kegelisahan, pasalnya kampung itu terancam menderita, masyarakat akan
mendapatkan penyakit secara masal oleh seorang laki-laki tua. bapak petuah
berilmu sakti, begitulah sebutan masyarakat kepada orang yang mengancam kampung
itu. Tapi petaka itu bukan disebabkan oleh bapak petuah berilmu sakti itu,
melainkan karena ulah masyarakatnya sendiri. Masyarakat kampung itu telah
melakukan kesalahan, karena telah berlaku buruk kepadanya.
Kala itu
ada orang yang berwatak gila datang
kekampung pendana. layaknya orang gila, dia menggunakan baju lusuh dan kotor.
ditambah dengan kebiasaannya, senyum sepanjang jalan. Dari perbatasan kampung
pendana, Orang gila itu diarak dan dizalimi oleh orang-orang kampung. bukan
hanya anak-anak, melainkan ada diantara mereka orang tua. Entah apa yang ada di
benak orang tua itu, mengapa mereka juga
ikut mengarak-arak orang gila itu. adalah hal yang wajar jika itu dilakukakan
oleh anak-anak.
Dikampung
itu Ia diperlakukan dengan buruk, dihujat, dihina,
ditendang bahkan didorong oleh salah satu warga hingga terjungkal dari tangga
rumahnya.
Setelah
kejadian itu, masyarakat terkejut, bahwa orang gila itu adalah seseorang yang berilmu
sakti yang tengah menguji kampung pendana.
Namun
yang didapatinya adalah perlakuan buruk, dari warga kampung. meskipun ada yang
bersikap baik. Orang sakti itu tengah melakukan “ngarun” dalam bahasa daerah
setempat. Masyarakat sangat menyesal atas perlakuannya kepada bapak petuah
berilmu sakti yang ngarun menjadi orang gila. bapak petuah itu kemudian mengancam
seluruh warga kampung pendana, ia memberikan penyakit masal kepada sebagian
warga kampung, hampir setiap satu dari setiap keluarga ada yang menjadi sakit,
akibat kemarahan bapak petuah berilmu sakti itu.
bapak
petuah itu mengatakan kalau penyakit itu bisa disembuhkan dengan meminum
rebusan kayu tas dan meminta maaf kepadanya. Bapak petuah berilmu sakti itu
mengaku kalau dirinya adalah imam malik.
Dalam
sepengetahuan warga, imam malik adalah orang sakti yang memiliki ilmu tinggi,
dan memiliki ilmu kebatinan. Imam malik sangatlah disegani, tak ada yang tak
mengenal ia, karena ia adalah seorang tabib sakti. Warga kampung pendana sangat
menyesal karena perbuatan mereka terhadap imam malik.
Mereka
tak menyangka akan diuji oleh imam malik. Tak ada yang dapat diupayakan, selain
datang kepadanya dan memohon maaf. Sekaligus meminta obat untuk warga kampung yang
terkena penyakit. Permasalahannya adalah, tak satupun dari mereka tau tempat tingal imam malik.
Dalam
rumah pemangku adat seluruh warga kampung berkumpul dan bermusywarah. Mereka
akan menetapkan siapa yang akan mewakili kampung pendana untuk mencari dan
menemui imam malik. Pak mujid, selaku kepala adat sekaligus orang yang dituakan
dikampung itu menanyakan kepada warga, tentang kesiapan untuk menemui imam
malik. Namun tak seorangpun yang menyanggupinya.
Semua
warga tau kalau menemui imam malik sangatlah sulit, hanya orang yang
beruntunglah yang dapat bertemu dengannya.
Apalagi
terdengar isu kalau imam malik, tinggal dibukit burudah. Bukit tertinggi dan
terkenal sangat dingin, terletak diujung barat jauh dari kampung pendana. tidak
hanya itu, bukit itu penuh dengan misteri, tak sedikit orang yang tersesat
disana. Tentu saja akan banyak rintangan yang akan dilalui dibukit burudah. Bukan
hanya kesiapan fisik yang dibutuhkan, tetapi juga kesiapan mental.
Pak
mujid menjelaskan, kalau salah satu dari warga harus ada yang menemui imam
malik dan meminta maaf, untuk menyelamatkan kampung. Karena imam malik sangat
mengancam mereka.
sampai
tiga kali pak mujid menawarkan kepada masyarakat kampung untuk menjadi relawan.
Terdengar secara bising masyrakat kampung saling menunjuk satu sama lain.
Benar, tak ada yang berani
berkelana kebukit burudah. Hingga akhirnya seorang remaja mengusulkan untuk
melakuan pengundian bagi masyarakat kampung pendana. Remaja itu adalah badar.
Badar merupakan remaja yang polos dan tak menyukai kekerasan. remaja yang tak
banyak bergaul dengan teman sebayanya. Pendapatnya sering kali diacuhkan dan
tidak didengar oleh kebanyakan masyarkat kampung pendana. “diundi saja”
katanya.
Entah
apa yang menggerakkan hati pak mujid, hingga ia menerima usul dari badar. Badar
menambahkan kalau semua warga laki-laki mulai dari remaja, pemuda dan orang tua
harus memasukkan namanya kedalam sebuah wadah, yang kemudian diambil secara
acak oleh kepala adat. warga juga harus menentukan berapa orang yang harus
mengemban amanah itu. Warga sepakat kalau pengemban amanah itu diwakili oleh
enam orang.
Masyarakat
kemudian menuliskan namanya dan memasukkan nya kedalam kendi. dan pak mujid
mengawali pengambilan nama secara acak. Nama yang pertama kali muncul adalah
samari, diikuti oleh ujang, bakar, sahil, bambang dan terakhir adalah badar.
badar adalah satu-satunya remaja diantara keenam orang itu.
Ia cukup
terkejut, namanya muncul dalam undian itu. sebenarnya ia tak cukup berani
mengemban amanah itu, ia sangat sadar, kalau fisiknya sangat lemah, apalagi
harus mendaki bukit. Tapi karena ini adalah hasil undian, yang merupakan
usulnya, ia harus memberanikan diri. Ini juga demi menyelamatkan kampung
“fikirnya”.
Dari kalangan
orang tua ada pak bakar, pak sahil dan pak ujang, sedangkan dari kalangan
pemuda ada samari dan bambang.
Berani
atau tidaknya, keenam orang itu harus siap mengemban amanah dari kampung
mereka. Keenam orang itupun berkumpul kembali dirumah pak mujid, untuk
mendengarkan wejangan dari kepala adat itu. pak mujid yang lebih mengenal imam
malik menjelaskan, kalau godaan dibukit burudah sangatlah banyak, dan untuk
sampai kesana harus dengan niat yang tulus, mereka juga diminta untuk menjaga
lisan. Banyak yang menjadi tersesat, setelah pulang dari sana.
Sebelum
berangkat, badar meminta izin kepada orang tuanya. Ibunya tak tega, badar herus
berkelana mencari imam malik. Orang sakti itu. sambil menyiapkan keperluan
badar ke bukit. Ibunya berpesan agar jangan tergoda oleh apapun saat dibukit
burudah. Badarpun mengamininya, dan meminta doa dari orang yang sangat
dihormatinya itu.
Setelah
semuanya siap, merekapun berangkat. mereka diantar oleh seluruh warga kampung
sampai keperbatasaan.
Pak
bakar orang yang paling tua dari rombongan itu, memimpin jalan. Mereka
menikmati langkah-demi langkah, mengurai jejak, menapaki hutan terbentang luas,
hingga menyebrangi sungai. Keluar masuk hutan, dan beristirahat saat lelah.
Dalam perjalanan, pak bakar menceritakan sosok imam malik kepada badar, sampai
badar menyimpulkan bahwa imam malik adalah orang yang sangat baik lagi berhati
mulia. Kemudian badar bertanya kepada pak bakar “apa yang sebenarnya dilakukan
imam malik dikampung kita kemarin?”. Pak bakar menjelaskan. Imam malik sedang
ngarun, sengaja menjelma menjadi orang gila untuk menguji sikap dan sifat orang
kampung pendana, dan ternyata kita
memperlakukannya sangat buruk. Hingga kita mendapat hukuman darinya.
“Bukankah
hal yang wajar apa yang dilakukan warga terhadap orang gila, kan masyrakat
tidak tau…?”, begitu badar berpendapat. Pak bakar menjawab “bukankah orang gila
juga manusia, yang harus kita perlakukan dengan baik.”
Pak
bakar kembali memberi penjelasan kepada badar. sebagai manusia yang baik kita
harus berkelakuan baik antar sesama, tanpa mengenal dia kaya atau miskin, kuat
atau lemah.
Dengan
penjelasan pak bakar, badar sadar, kalau kampungnya pantas mendapat musibah, itu
karena ulah dari masyrakat kampungnya sendiri.
Sudah
cukup lama mereka berjalan sampai mereka tak merasa sudah berada di kaki bukit
burudah. cuacapun langsung berubah. Udara disana berubah menjadi dingin sampai
menusuk sendi-sendi setiap makhluk yang berada disana. Dan keheningan mulai
menyelimuti setiap ruang hutan itu. pak bakar memulai pembicaraan. “kita sudah
sampai di kaki bukit burudah, kita harus berhati-hati, jangan sampai ada yang
terpisah dari rombongan, karena perjalanan kita masih cukup jauh”.
Dilain
sisi pak ujang bergumam “seandainya kita bisa terbang, mungkin lebih mudah sampai
ke puncak bukit burudah….”
Mereka kembali
menyisir jalan, menapaki langkah-demi langkah jalanan yang akan mereka lalui. dengan
seksama mereka memperhatikan setiap tumbuhan yang ada dihutan burudah. Semuanya
asing dan unik bagi keenam orang relawan kampung itu. Banyak tumbuhan langka
disana. Tak sedikit pohon-pohon besar yang hidup di hutan burudah. Hutan yang
terkenal sangat dingin itu.
setiap tumbuhan
tumbuh dengan suburnya. agar tak tersesat saat pulang, badar mengingat-ingat
jalan yang pernah dilaluinya.
Sudah
cukup jauh mereka menyisir hutan itu, namun belum ada tanda-tanda ada perubahan
dari setiap jalan yang mereka lewati. Pak Ujang berbicara kepada tim rombongan
“bukankah ini jalan yang tadi…?, aku merasa sudah 2 kali melewati jalan ini”.
dengan penuh keseriusan pak ujang memberi penjelasan. Pak bakar juga
menambahkan “aku juga merasa demikian, coba kalian perhatikan pohon berakar
besar itu, pohon itu sudah kita lalui”.
Mereka
bingung dan heran dengan apa yang terjadi pada mereka. Padahal mereka berjalan
lurus, tak pernah berbelok. Jadi tidak mungkin kalau mereka tersesat dan
kembali pada jalan semula. Kekhawtiran mulai merasuki keenam orang itu. pak bakar memberikan kesempatan bagi tim
rombongan untuk mengajukan pendapat. “Kita harus tetap jalan lurus, aku yakin
pasti ada jalan lain disana..”. pinta samari, pemuda kampung yang berbadan
besar dan berwatak keras itu. namun badar juga memberikan usul “kita pergi
kearah barat dan mencari sungai, dengan menyisir sungai, kita dapat keluar dari
hutan ini”.
Pak
bakar setuju dengan pendapat badar, tapi tidak dengan pak sahil dan samari. samari
dan pak sahil memang tidak suka dengan badar. dua kakak beradek ini memang
membenci badar, sebagaimana mereka juga tak menyenangi ayahnya.
Samari
sangat menentang pendapat badar “aku tak mau ikut, jika harus mengikuti
pendapat badar, yang sok pintar..”. Dengan tegas samari mengatakan. Bambang
selaku sesama pemuda dengan semari menjelaskan, kalau jalan lurus sudah kita
lewati dua kali, namun tak ada hasil, dan perdebatan pun terjadi antara bambang
dan samari.
Samari
sangat yakin, kalau ada jalan persimpangan yang terlewatkan. Dan Mereka akhirnya mengikuti permintaan samari,
berjalan lurus kembali. Ditengah perjalanan, mereka menemukan jalan
persimpangan, seperti apa yang disampaikan samari. Samari menjadi sangat yakin,
kalau pendapatnya benar, dan mereka dapat keluar dari hutan yang telah menyesatkan
mereka itu. mereka kemudian mengikuti jalan persimpangan itu, setelah cukup
lama berjalan, ternyata mereka masih menemui jalan yang terdapat pohon berakar
besar itu, tempat mereka berdebat sebelumnya. “pohon ini lagi..” badar
bergeming. dan mereka pun memperhatikan jalan. dan benar, mereka menemui jalan
itu lagi.
samari
hanya bisa diam dengan apa yang ia saksikan. Kemudian berteriak
sekuat-kuatnya dalam hutan.
Pak Sahil
menenangkan samari. “ini semua gara-gara kamu badar, aku ada disini.” Ungkap
samari kepada badar. “seandainya kamu tak mengusulkan untuk diundi, aku tak
mungkin ada disini” tambahnya. badar merasa bersalah, namun pak bakar
meyakinkan, kalau kehadiran mereka merupakan sebuah takdir. “padahal aku tak menuliskan
namaku, sewaktu mengundi, aku menulis namamu badar, siapa yang menuliskan
namaku?”, teriak samari membelah kesunyian hutan burudah. “bapak mu”, jawab
bambang, “aku melihatnya kalau bapak mu menulis namamu, bukan namanya”. Samari
sangat kecewa dan marah kepada bapaknya. Namun lagi-lagi pak bakar meyakinkan
kalau ini sudah ditakdirkan. Saat ini yang terpenting adalah dapat keluar dari
hutan ini.
Akhirnya
mereka mengikuti usul badar, mereka pergi kearah barat, menebas rumput dan
menjadikannya jalan, hingga akhirnya mereka menemukan aliran sungai. Kemudian
mereka menyusuri sungai itu, meski terasa sangat dingin. Mereka berharap tak
lagi bertemu dengan pohon berakar besar itu.
Setelah
cukup lama menyisir sungai, mereka pun kembali ketengah hutan, untuk mencari
jalan dan beristirahat. Dan benar, mereka tak kembali pada jalan yang tadi.
Setelah
cukup lama beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan, setapak-demi
setapak langkah kaki mereka kumpulkan untuk mencapai puncak tertinggi bukit
burudah. Tempat dimana imam malik bersemayam. Mereka kembali memperhatikan
setiap untaian jalan yang mereka lalui.
Terucap
kata sederhana dari mulut bambang, “sejak kita tiba dibukit ini, belum pernah
aku melihat 1 ekor binatang pun..”, tak ayal, baru selesai kata itu terucap,
seekor ular yang cukup besar, menghalangi jalan. Ular itu berwarna unik dan
memiliki tanduk dibagian kepala.
Mereka
terkejut dan menghentikan langkah. Semua nya terdiam, tak ada satu helaan nafaspun
terdengar. Mata ular itu menatap tajam kearah keenam orang itu, ular itu hendak
menerkam mereka. Mereka kemudian berbalik arah, dan lari sekuat tenaga, untuk
menghindari kejaran ular itu, terdengar
kata-kata keras dari mulut pak bakar, “dikejar ular, larinya harus berbelok-belok”
kata-kata itu terus diulanginya. Dengan diawalinya semua berlari dengan
berbelok-belok. kecuali pak sahil, yang mungkin tak mendengar ucapan pak bakar,
hingga akhirnya ia dapat dilumpuhkan oleh ular itu. seluruh badannya diliit
keras oleh ular bertanduk itu, tak cukup lama ular itu melakukannya, ular itu
kemudian pergi tanpa memakan tubuh pak sahil.
Kelima
orang lainnya, termasuk badar, hanya mampu menyaksikan nya dari kejauhan tanpa
bisa berbuat apa-apa. Mereka kemudian mendekati pak sahil, namun ia sudah tak
bernyawa lagi. samari sangat marah dan semakin menyalahkan badar. Badar semakin
tertekan dengan keadaannya, selain karena disalahkan oleh samari, ia juga saksi
mata atas kematian pak sahil, yang membuatnya terauma. Pak ujang menjelaskan “kita
sudah separuh jalan, kita harus menyelesaikan perjalanan kita, warga kampung
sangat berharap kepada kita”.
Mereka
kemudian melanjutkan perjalanannya, menyisir hutan bukit burudah, rasa dingin
sudah menyatu dalam tubuh mereka, sehingga tak sedingin, saat mereka sampai
dikaki bukit burudah.
Hingga
akhirnya mereka menemukan perkampungan. Dalam perkampungan itu mereka singgah
dan menumpang beristirahat. warga kampung itu menyuguhkan makanan yang enak dan
lezat, sepintas samari memperhatikan setiap warga disana, paras dari warga itu
bersinar, wanitanya pun sangat cantik. sehingga membuat kelima orang itu
terpedaya.
Dalam
tatapan samari, wanita disana sangatlah menarik perhatiannya. Sebagai pemuda
yang cukup berumur, ia memberanikan diri untuk berkenalan dan mendekati
wanita-wanita yang cantik itu.
sebenarnya
dalam diri pak bakar merasakan kejanggalan pada kampung yang mereka singgahi
itu, namun ia tak mau mengkhawatirkan rombongan. hanya sehari mereka disana.
Mereka beristirahat melepas lelah. Dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Ketika hendak berangkat. samari tidak ingin ikut dengan mereka lagi, ia memilih
tinggal dikampung itu. ia mengatakan kalau ia betah tinggal dikampung itu, dan
telah memiliki jodoh. Ia mengatakan
kalau ia ingin menikahi wanita kampung itu. ia juga menjelaskan kalau 4 orang
cukup untuk menemui imam malik, dan meminta maaf.
Pak
bakar mengerti dengan keadaan samari, ia sudah cukup umur untuk menikah. Pak bakar
hanya berpesan kepada samari, agar mau menunggu mereka dikampung ini, sampai
mereka pulang nanti. Meski hanya 4 orang mereka kembali melanjutkan perjalanan
mereka, hinga sampai kepuncak bukit burudah.
Semakin kepuncak, udara semakin dingin. Tapi itu tak menghalangi keempat
orang itu untuk menemui imam malik.
Sudah
cukup lama mereka meninggalkan kampung tadi, mereka akhirnya beristirahat dan
bermalam kembali.
Mereka
mengambil posisi untuk tidur, karena waktu sudah malam. Sebelum
tidur, bambang berceloteh “seandainya ada api besar dihutan ini, mungkin tidur
kita akan terasa hangat”, seolah mustajab, ketika mereka ternyenyak tidur, api
yang sangat besar mengelilingi tubuh mereka, pak bakar yang merasakan adanya
api terbangun, ia terkejut dengan apa yang ia lihat, segera ia membangunkan
badar, dan diikuti oleh pak ujang, sedangkan bambang yang tidur agak jauh dari
mereka, belum terbangun. Mereka mencoba membangunkan bambang, namun api
menghalangi mereka untuk mendekati bambang.
Mereka
tak berani mendekat, karena api sangat besar, terutama dekat tubuh bambang. Saat
bambang terbagun, ia tak mampu melakukan apa-apa, seluruh api telah
mengelilinginya, tak ada yang dapat ia usahakan, ia berteriak sekuat tenaga
untuk meminta tolong, semuanya panik namun pak bakar, pak ujang dan badar tak
dapat buerupaya. Mereka berusaha memadamkan api, namun api begitu besar. Hingga
api itu akhirnya membakar tubuh bambang.
Lagi-lagi
mereka harus menyaksikan kematian salah satu dari rombongan mereka. Badar yang
masih remaja itu cukup histeris dengan apa yang ia saksikan. Ia tak bisa membayangkan,
jika hal itu terjadi kepadanya. Namun pak bakar mencoba untuk menenangkannya.
Setelah
kejadian itu mereka meneruskan perjalanannya. Tak cukup jauh dari tempat mereka
beristirahat. Mereka kemudian melihat seorang laki-laki. Dalam pandangan mereka.
Laki-laki itu terbang dari pohon ke pohon, hingga akhirnya berhadapan kepada
mereka. Laki-laki itu bertanya kepada mereka “hendak kemana kalian…?”, pak
bakar menjawab “kami ingin kepuncak bukit burudah, ingin mengambil kayu tas”.
Pak bakar kemudian menjelaskan kalau kayu itu digunakan sebagai obat yang
tengah dialami masyarakat kampung pendana. Laki-laki itu kemudian bertanya
kembali“ sudah berapa lama kalian berkelana di bukit ini?”. “20 hari”. Jawab
badar, yang sejak awal menghitung hari dari mulai keberangkatan mereka.
“seandainya
kalian mampu terbang sepertiku, kalian akan lebih mudah sampai kepuncak bukit burudah, dan tak
perlu bersusah payah, untuk berjalan kaki.”, dengan tegas laki-laki itu
bercakap kepada badar dan kedua temannya.
Badar
dan pak bakar tak menanggapinya serius. Berbeda halnya dengan pak ujang,
sepertinya ia sangat tertarik dengan kehebatan laki-laki yang mampu terbang
itu. “bisakah aku memiliki ilmu seperti itu...?”. Tanya pak ujang.
Laki-laki
itu kemudian berkata lagi, “kalau kalian ingin sepertiku, datanglah kepadaku,
dan temui aku dilembah itu..!”. lagi-lagi badar dan pak bakar tak
menghiraukannya. Ia masih ingat betul pesan ibunya agar jangan tergoda oleh
apapun. Namun lain halnya denga pak ujang, ia berhasrat sekali ingin kelembah
itu. badar dan pak bakar, mencoba untuk mengingatkannya, agar kembali pada
niatan semula, menemui imam malik.
Namun
bukanlah bukit burudah, kalau tak memiliki godaan. Meskipun tanpa izin dari
badar dan pak bakar, pak ujang langsung pergi kelembah itu, dan meninggalkan
mereka. Pak bakar semakin yakin kepada badar, bahwa badarlah yang akan menemui
imam malik. Dengan wajah sedih, badar menatap mata pak bakar dan berkata “pak
bakar, aku minta jangan meninggalkan aku sendiri dibukit ini.”, begitulah pinta
remaja polos itu.
Pak
bakar meyakinkan badar, kalau ia akan menemaninya sampai kepuncak bukit
burudah. Dengan rasa haru yang mendalam, pak bakar dan badar, melanjutkan
perjalanan mereka kepuncak bukit burudah, dipuncak suasana bertambah dingin. Meski
menambah kain pada tubuh mereka, kedua insan itu masih merasa kedinginan, tubuh
pak bakar yang sudah cukup tua itu menggigil dan tak terasa lagi, akibat
dinginnya cuaca.
Namun
mereka tetap mencoba melanjutkan perjalanan, hingga mereka dapat bertemu dengan
imam malik. Langkah demi langkah ditapaki oleh pak bakar dan badar.
saat ini
mereka sudah sampai kepuncak bukit burudah, tinggal mencari tempat tinggal
orang yang mereka cari itu. mereka menghentikan langkahnya setelah cukup lama
berjalan, badar mengamati wajah pak bakar yang sudah pucat itu, tampak sangat
kelelahan, ia juga terkulai lemas. tanpa dirasa, mereka juga kehabisan bekal.
pak bakar bertutur “badar, bapak sudah tak sanggup lagi melanjutkan
perjalanan”, badar menatap tajam kearah wajah pak bakar dan berkata, “pak, kita
beristirahat dulu, sambil menghangatkan tubuh…!”.
badar
kemudian meminta izin kepada pak bakar untuk mencari air dan kayu bakar. Pak
bakar hanya mampu mengedipkan mata, sebagai isyarat kalau ia mengizinkannya.
Badar kemudian mengumpulkan kayu bakar, dan mencari sumber air, tak jauh dari
tempat peristirahatan mereka. Badar menemukan air.
Air itu
berasal dari himpitan batu yang dipancuri oleh bambu. Warna bambu itu serupa emas.
Dan airnya pun sangat jernih dan sangat dingin. Rasa dinginnya melebihi cuaca
yang badar rasakan.
badar
tak memiliki pilihan lain, selain mengambilnya, selain karena ia sudah haus, ia
juga memikirkan kehausan dari pak bakar, orang yang menemaninya sejak
petualangan itu dimulai. Ia kemudian mengambilnya dan membawanya ketempat
istirahat mereka. Pak bakar sudah sangat lemas, sampai bangun saja ia tak
sanggup lagi. badar kemudian memapahnya dan membantunya meminumkan air
bawaannya.
Pak
bakar meminumnya sangat perlahan, belum sempat habis airnya, pak bakar menghembuskan
nafas terakhirnya. Badar cemas, dan mencoba untuk membangunkan pak bakar, ia
berteriak meminta pertolongan, namun tak ada seorangpun yang menolong. Badar
hanya mampu menangis atas kematian pak bakar. Kini hanya ia sendiri yang bertahan
untuk menemui imam malik.
Disatu
sisi ia sangat marah atas keadaan yang menimpa dirinya, disisi lain, ia
bertekad harus mampu menyenangkan hati warga kampungnya, termasuk ibunya.
Memang
tak jauh lagi dari tempat itu, badar sampai ke padepokan imam malik. Meski
dengan rasa duka ia tetap melanjutkan perjalanannya. Dipuncak bukit burudah
itu, badar bertemu dengan bapak tua yang bertubuh kerdil dan usianya jauh lebih
tua dari badar. badar menghampirinya dan meminta izin untuk beristirahat. Bapak
tua itu kemudian bertanya kepada badar “siapa namamu nak?” dengan nada hormat,
badar menjawab “badar pak, badaruddin…”.
bapak
itu bertanya lagi “darimana asalmu, dan apa tujuan mu datang kemari?”. Aku dari
kampung pendana sebelah timur jauh dari bukit ini, aku ingin bertemu dengan
imam malik dan mengambil kayu tas”. Jawab badar.
ia juga
menjelaskan perihal musibah yang terjadi pada kampungnya. Ia juga menceritakan
kejadian-demi kejadian yang menimpa teman-temannya. pak tua itu berkata sambil
menunjukkan sebuah makam. “makam itu adalah makam imam malik, ia telah
meninggal dunia sudah lebih dari 2 tahun”. Badar tersentak ia tak percaya
dengan apa yang disampaikan oleh pak tua itu, pasalnya sewaktu kejadian imam
malik datang kekampungnya, ia melihat jelas orang itu.
meski
begitu ia mencoba meyakini omongan dari pak tua itu, mengingat kalau imam malik
adalah orang yang sakti. Ia sangat sedih, karena ia tak dapat bertemu dengan
imam malik. “lalu bagaimana aku memintakan maaf kampungku padanya..?”, orang
tua itu menenangkan badar dengan berkata “berziarahlah kamu dimakam itu, dan
doakan ia”, begitu perintah orang tua bertubuh kerdil itu.
badar
kemudian melakukannya ia berdoa dihadapan makam itu, dan meminta maaf atas nama
kampungnya, yang telah berlaku buruk kepada imam malik. Setelah selesai ia
kembali duduk dihadapan orang tua tadi. Orang tua itu memberi penjelasan kepada
badar, bahwa imam malik telah memaafkan kampungnya, ia juga menerangkan kalau
sahil dan bambang pernah menghina dan menghujat imam malik sewaktu dikampung,
sedangkan pak ujang dan dan pak sahil pernah menendang dan mendorongnya sampai
ia terjungkal.
Mendengar
cerita itu badar perlahan meneteskan air mata, ia kemudian meminta maaf atas
nama mereka.
Setelah
cukup lama mendengarkan cerita dari laki-laki tua itu, ia berpamitan pulang.
Sebelum pulang, laki-laki itu memberinya sebuah kayu, yang tak lain adalah kayu
tas, yang merupakan obat dari penyakit yang dialami warga kampung.
Tak
banyak rintangan yang ia lalui saat pulang. Ia sendiri tak merasa kalau sudah
sampai dikampungnya. Ia kemudian disambut oleh pak mujid, dirumah pak mujid ia
menceritakan perihal kejadian-demi kejadian yang menimpanya dan beberapa
temannya, ia menyampaikan kalau ia tak bertemu dengan imam malik, ia hanya
bertemu dengan laki-laki tua bertubuh kerdil. ia juga menceritakan apa yang
disampaikan oleh laki-laki tua itu.
dengan
penuh kepastian pak mujid menyampaikan kepada badar, kalau laki-laki tua yang
ia temui itu adalah imam malik, ia juga menambahkan kalua badar beruntung dapat
bertemu dengannya. perihal samari dan pak ujang mereka sudah ada dikampung
sejak seminggu yang lalu. Pak mujid menjelaskan kalau samari sekarang menjadi
gila, kebanyakan orang mengatakan kalau ia gila karena wanita yang ia temui dibukit,
sedangkan pak ujang sekarang lumpuh, kakinya patah, ketika hendak menjajal
ilmunya.
Seluruh
masyrakat merasa haru, saat mendengarkan cerita dari badar dan penjelasan yang
disampaikan oleh pak mujid.
seluruh
warga menyadari perbuatan mereka, mereka telah menzalimi manusia yang lemah.
Sejak kejadian itu, seluruh warga hidup dengan rukun, saling membantu, dan
saling menghargai satu sama lain, sedangkan samari dan pak ujang nampaknya
mereka harus ikhlas dengan kondisi mereka sekarang.
……TAMAT……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar