Laman

Rabu, 11 Juni 2014

Cerpen Perjalanan Ke Bukit Burudah


Dikarang Oleh HAZIZI

“PERJALANAN KE BUKIT BURUDAH”

Tak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan. Baik yang sengaja dilakukan, maupun karena ketidaksengajaan. manusia seharusnya mampu menghargai satu sama lain, tanpa mengenal perbedaan agar tak saling melukai. Bahkan kesalahan adalah fitrah bagi setiap manusia, namun yag terpenting adalah kesiapan untuk mengakui kesalahan dan tak  mengulanginya.
Sebagaimana yang tengah dialami masyarakat kampung pendana, masyarakat dituntut mengakui kesalahan yang pernah mereka perbuat. saat ini masyarakat kampung pendana tengah dilanda kegelisahan, pasalnya kampung itu terancam menderita, masyarakat akan mendapatkan penyakit secara masal oleh seorang laki-laki tua. bapak petuah berilmu sakti, begitulah sebutan masyarakat kepada orang yang mengancam kampung itu. Tapi petaka itu bukan disebabkan oleh bapak petuah berilmu sakti itu, melainkan karena ulah masyarakatnya sendiri. Masyarakat kampung itu telah melakukan kesalahan, karena telah berlaku buruk kepadanya.
Kala itu ada orang  yang berwatak gila datang kekampung pendana. layaknya orang gila, dia menggunakan baju lusuh dan kotor. ditambah dengan kebiasaannya, senyum sepanjang jalan. Dari perbatasan kampung pendana, Orang gila itu diarak dan dizalimi oleh orang-orang kampung. bukan hanya anak-anak, melainkan ada diantara mereka orang tua. Entah apa yang ada di benak orang tua itu, mengapa mereka  juga ikut mengarak-arak orang gila itu. adalah hal yang wajar jika itu dilakukakan oleh anak-anak.
Dikampung itu Ia diperlakukan dengan buruk, dihujat, dihina, ditendang bahkan didorong oleh salah satu warga hingga terjungkal dari tangga rumahnya.
Setelah kejadian itu, masyarakat terkejut, bahwa orang gila itu adalah seseorang yang berilmu sakti yang tengah menguji kampung pendana.
Namun yang didapatinya adalah perlakuan buruk, dari warga kampung. meskipun ada yang bersikap baik. Orang sakti itu tengah melakukan “ngarun” dalam bahasa daerah setempat. Masyarakat sangat menyesal atas perlakuannya kepada bapak petuah berilmu sakti yang ngarun menjadi orang gila. bapak petuah itu kemudian mengancam seluruh warga kampung pendana, ia memberikan penyakit masal kepada sebagian warga kampung, hampir setiap satu dari setiap keluarga ada yang menjadi sakit, akibat kemarahan bapak petuah berilmu sakti itu.
bapak petuah itu mengatakan kalau penyakit itu bisa disembuhkan dengan meminum rebusan kayu tas dan meminta maaf kepadanya. Bapak petuah berilmu sakti itu mengaku kalau dirinya adalah imam malik.
Dalam sepengetahuan warga, imam malik adalah orang sakti yang memiliki ilmu tinggi, dan memiliki ilmu kebatinan. Imam malik sangatlah disegani, tak ada yang tak mengenal ia, karena ia adalah seorang tabib sakti. Warga kampung pendana sangat menyesal karena perbuatan mereka terhadap imam malik.
Mereka tak menyangka akan diuji oleh imam malik. Tak ada yang dapat diupayakan, selain datang kepadanya dan memohon maaf. Sekaligus meminta obat untuk warga kampung yang terkena penyakit. Permasalahannya adalah, tak satupun dari mereka  tau tempat tingal  imam malik.
Dalam rumah pemangku adat seluruh warga kampung berkumpul dan bermusywarah. Mereka akan menetapkan siapa yang akan mewakili kampung pendana untuk mencari dan menemui imam malik. Pak mujid, selaku kepala adat sekaligus orang yang dituakan dikampung itu menanyakan kepada warga, tentang kesiapan untuk menemui imam malik. Namun tak seorangpun yang menyanggupinya.
Semua warga tau kalau menemui imam malik sangatlah sulit, hanya orang yang beruntunglah yang dapat bertemu dengannya.
Apalagi terdengar isu kalau imam malik, tinggal dibukit burudah. Bukit tertinggi dan terkenal sangat dingin, terletak diujung barat jauh dari kampung pendana. tidak hanya itu, bukit itu penuh dengan misteri, tak sedikit orang yang tersesat disana. Tentu saja akan banyak rintangan yang akan dilalui dibukit burudah. Bukan hanya kesiapan fisik yang dibutuhkan, tetapi juga kesiapan mental.
Pak mujid menjelaskan, kalau salah satu dari warga harus ada yang menemui imam malik dan meminta maaf, untuk menyelamatkan kampung. Karena imam malik sangat mengancam mereka.
sampai tiga kali pak mujid menawarkan kepada masyarakat kampung untuk menjadi relawan. Terdengar secara bising masyrakat kampung saling menunjuk satu sama lain.
Benar, tak ada yang berani berkelana kebukit burudah. Hingga akhirnya seorang remaja mengusulkan untuk melakuan pengundian bagi masyarakat kampung pendana. Remaja itu adalah badar. Badar merupakan remaja yang polos dan tak menyukai kekerasan. remaja yang tak banyak bergaul dengan teman sebayanya. Pendapatnya sering kali diacuhkan dan tidak didengar oleh kebanyakan masyarkat kampung pendana. “diundi saja” katanya.
Entah apa yang menggerakkan hati pak mujid, hingga ia menerima usul dari badar. Badar menambahkan kalau semua warga laki-laki mulai dari remaja, pemuda dan orang tua harus memasukkan namanya kedalam sebuah wadah, yang kemudian diambil secara acak oleh kepala adat. warga juga harus menentukan berapa orang yang harus mengemban amanah itu. Warga sepakat kalau pengemban amanah itu diwakili oleh enam orang.
Masyarakat kemudian menuliskan namanya dan memasukkan nya kedalam kendi. dan pak mujid mengawali pengambilan nama secara acak. Nama yang pertama kali muncul adalah samari, diikuti oleh ujang, bakar,  sahil, bambang dan terakhir adalah badar. badar adalah satu-satunya remaja diantara keenam orang itu.
Ia cukup terkejut, namanya muncul dalam undian itu. sebenarnya ia tak cukup berani mengemban amanah itu, ia sangat sadar, kalau fisiknya sangat lemah, apalagi harus mendaki bukit. Tapi karena ini adalah hasil undian, yang merupakan usulnya, ia harus memberanikan diri. Ini juga demi menyelamatkan kampung “fikirnya”.
Dari kalangan orang tua ada pak bakar, pak sahil dan pak ujang, sedangkan dari kalangan pemuda ada samari dan bambang.
Berani atau tidaknya, keenam orang itu harus siap mengemban amanah dari kampung mereka. Keenam orang itupun berkumpul kembali dirumah pak mujid, untuk mendengarkan wejangan dari kepala adat itu. pak mujid yang lebih mengenal imam malik menjelaskan, kalau godaan dibukit burudah sangatlah banyak, dan untuk sampai kesana harus dengan niat yang tulus, mereka juga diminta untuk menjaga lisan. Banyak yang menjadi tersesat, setelah pulang dari sana.
Sebelum berangkat, badar meminta izin kepada orang tuanya. Ibunya tak tega, badar herus berkelana mencari imam malik. Orang sakti itu. sambil menyiapkan keperluan badar ke bukit. Ibunya berpesan agar jangan tergoda oleh apapun saat dibukit burudah. Badarpun mengamininya, dan meminta doa dari orang yang sangat dihormatinya itu.
Setelah semuanya siap, merekapun berangkat. mereka diantar oleh seluruh warga kampung sampai keperbatasaan.
Pak bakar orang yang paling tua dari rombongan itu, memimpin jalan. Mereka menikmati langkah-demi langkah, mengurai jejak, menapaki hutan terbentang luas, hingga menyebrangi sungai. Keluar masuk hutan, dan beristirahat saat lelah. Dalam perjalanan, pak bakar menceritakan sosok imam malik kepada badar, sampai badar menyimpulkan bahwa imam malik adalah orang yang sangat baik lagi berhati mulia. Kemudian badar bertanya kepada pak bakar “apa yang sebenarnya dilakukan imam malik dikampung kita kemarin?”. Pak bakar menjelaskan. Imam malik sedang ngarun, sengaja menjelma menjadi orang gila untuk menguji sikap dan sifat orang kampung  pendana, dan ternyata kita memperlakukannya sangat buruk. Hingga kita mendapat hukuman darinya.
“Bukankah hal yang wajar apa yang dilakukan warga terhadap orang gila, kan masyrakat tidak tau…?”, begitu badar berpendapat. Pak bakar menjawab “bukankah orang gila juga manusia, yang harus kita perlakukan dengan baik.”
Pak bakar kembali memberi penjelasan kepada badar. sebagai manusia yang baik kita harus berkelakuan baik antar sesama, tanpa mengenal dia kaya atau miskin, kuat atau lemah.
Dengan penjelasan pak bakar, badar sadar, kalau kampungnya pantas mendapat musibah, itu karena ulah dari masyrakat kampungnya sendiri.
Sudah cukup lama mereka berjalan sampai mereka tak merasa sudah berada di kaki bukit burudah. cuacapun langsung berubah. Udara disana berubah menjadi dingin sampai menusuk sendi-sendi setiap makhluk yang berada disana. Dan keheningan mulai menyelimuti setiap ruang hutan itu. pak bakar memulai pembicaraan. “kita sudah sampai di kaki bukit burudah, kita harus berhati-hati, jangan sampai ada yang terpisah dari rombongan, karena perjalanan kita masih cukup jauh”.
Dilain sisi pak ujang bergumam “seandainya kita bisa terbang, mungkin lebih mudah sampai ke puncak bukit burudah….”
Mereka kembali menyisir jalan, menapaki langkah-demi langkah jalanan yang akan mereka lalui. dengan seksama mereka memperhatikan setiap tumbuhan yang ada dihutan burudah. Semuanya asing dan unik bagi keenam orang relawan kampung itu. Banyak tumbuhan langka disana. Tak sedikit pohon-pohon besar yang hidup di hutan burudah. Hutan yang terkenal sangat dingin itu.
setiap tumbuhan tumbuh dengan suburnya. agar tak tersesat saat pulang, badar mengingat-ingat jalan yang pernah dilaluinya.
Sudah cukup jauh mereka menyisir hutan itu, namun belum ada tanda-tanda ada perubahan dari setiap jalan yang mereka lewati. Pak Ujang berbicara kepada tim rombongan “bukankah ini jalan yang tadi…?, aku merasa sudah 2 kali melewati jalan ini”. dengan penuh keseriusan pak ujang memberi penjelasan. Pak bakar juga menambahkan “aku juga merasa demikian, coba kalian perhatikan pohon berakar besar itu, pohon itu sudah kita lalui”. 
Mereka bingung dan heran dengan apa yang terjadi pada mereka. Padahal mereka berjalan lurus, tak pernah berbelok. Jadi tidak mungkin kalau mereka tersesat dan kembali pada jalan semula. Kekhawtiran mulai merasuki keenam orang itu.  pak bakar memberikan kesempatan bagi tim rombongan untuk mengajukan pendapat. “Kita harus tetap jalan lurus, aku yakin pasti ada jalan lain disana..”. pinta samari, pemuda kampung yang berbadan besar dan berwatak keras itu. namun badar juga memberikan usul “kita pergi kearah barat dan mencari sungai, dengan menyisir sungai, kita dapat keluar dari hutan ini”.
Pak bakar setuju dengan pendapat badar, tapi tidak dengan pak sahil dan samari. samari dan pak sahil memang tidak suka dengan badar. dua kakak beradek ini memang membenci badar, sebagaimana mereka juga tak menyenangi ayahnya.
Samari sangat menentang pendapat badar “aku tak mau ikut, jika harus mengikuti pendapat badar, yang sok pintar..”. Dengan tegas samari mengatakan. Bambang selaku sesama pemuda dengan semari menjelaskan, kalau jalan lurus sudah kita lewati dua kali, namun tak ada hasil, dan perdebatan pun terjadi antara bambang dan samari.
Samari sangat yakin, kalau ada jalan persimpangan yang terlewatkan. Dan  Mereka akhirnya mengikuti permintaan samari, berjalan lurus kembali. Ditengah perjalanan, mereka menemukan jalan persimpangan, seperti apa yang disampaikan samari. Samari menjadi sangat yakin, kalau pendapatnya benar, dan mereka dapat keluar dari hutan yang telah menyesatkan mereka itu. mereka kemudian mengikuti jalan persimpangan itu, setelah cukup lama berjalan, ternyata mereka masih menemui jalan yang terdapat pohon berakar besar itu, tempat mereka berdebat sebelumnya. “pohon ini lagi..” badar bergeming. dan mereka pun memperhatikan jalan. dan benar, mereka menemui jalan itu lagi.
samari hanya bisa diam dengan apa yang ia saksikan. Kemudian berteriak sekuat-kuatnya dalam hutan.
Pak Sahil menenangkan samari. “ini semua gara-gara kamu badar, aku ada disini.” Ungkap samari kepada badar. “seandainya kamu tak mengusulkan untuk diundi, aku tak mungkin ada disini” tambahnya. badar merasa bersalah, namun pak bakar meyakinkan, kalau kehadiran mereka merupakan sebuah takdir. “padahal aku tak menuliskan namaku, sewaktu mengundi, aku menulis namamu badar, siapa yang menuliskan namaku?”, teriak samari membelah kesunyian hutan burudah. “bapak mu”, jawab bambang, “aku melihatnya kalau bapak mu menulis namamu, bukan namanya”. Samari sangat kecewa dan marah kepada bapaknya. Namun lagi-lagi pak bakar meyakinkan kalau ini sudah ditakdirkan. Saat ini yang terpenting adalah dapat keluar dari hutan ini.
Akhirnya mereka mengikuti usul badar, mereka pergi kearah barat, menebas rumput dan menjadikannya jalan, hingga akhirnya mereka menemukan aliran sungai. Kemudian mereka menyusuri sungai itu, meski terasa sangat dingin. Mereka berharap tak lagi bertemu dengan pohon berakar besar itu.
Setelah cukup lama menyisir sungai, mereka pun kembali ketengah hutan, untuk mencari jalan dan beristirahat. Dan benar, mereka tak kembali pada jalan yang tadi.
Setelah cukup lama beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan, setapak-demi setapak langkah kaki mereka kumpulkan untuk mencapai puncak tertinggi bukit burudah. Tempat dimana imam malik bersemayam. Mereka kembali memperhatikan setiap untaian jalan yang mereka lalui.
Terucap kata sederhana dari mulut bambang, “sejak kita tiba dibukit ini, belum pernah aku melihat 1 ekor binatang pun..”, tak ayal, baru selesai kata itu terucap, seekor ular yang cukup besar, menghalangi jalan. Ular itu berwarna unik dan memiliki tanduk dibagian kepala.
Mereka terkejut dan menghentikan langkah. Semua nya terdiam, tak ada satu helaan nafaspun terdengar. Mata ular itu menatap tajam kearah keenam orang itu, ular itu hendak menerkam mereka. Mereka kemudian berbalik arah, dan lari sekuat tenaga, untuk menghindari kejaran  ular itu, terdengar kata-kata keras dari mulut pak bakar, “dikejar ular, larinya harus berbelok-belok” kata-kata itu terus diulanginya. Dengan diawalinya semua berlari dengan berbelok-belok. kecuali pak sahil, yang mungkin tak mendengar ucapan pak bakar, hingga akhirnya ia dapat dilumpuhkan oleh ular itu. seluruh badannya diliit keras oleh ular bertanduk itu, tak cukup lama ular itu melakukannya, ular itu kemudian pergi tanpa memakan tubuh pak sahil.
Kelima orang lainnya, termasuk badar, hanya mampu menyaksikan nya dari kejauhan tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka kemudian mendekati pak sahil, namun ia sudah tak bernyawa lagi. samari sangat marah dan semakin menyalahkan badar. Badar semakin tertekan dengan keadaannya, selain karena disalahkan oleh samari, ia juga saksi mata atas kematian pak sahil, yang membuatnya terauma. Pak ujang menjelaskan “kita sudah separuh jalan, kita harus menyelesaikan perjalanan kita, warga kampung sangat berharap kepada kita”.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya, menyisir hutan bukit burudah, rasa dingin sudah menyatu dalam tubuh mereka, sehingga tak sedingin, saat mereka sampai dikaki bukit burudah.
Hingga akhirnya mereka menemukan perkampungan. Dalam perkampungan itu mereka singgah dan menumpang beristirahat. warga kampung itu menyuguhkan makanan yang enak dan lezat, sepintas samari memperhatikan setiap warga disana, paras dari warga itu bersinar, wanitanya pun sangat cantik. sehingga membuat kelima orang itu terpedaya.
Dalam tatapan samari, wanita disana sangatlah menarik perhatiannya. Sebagai pemuda yang cukup berumur, ia memberanikan diri untuk berkenalan dan mendekati wanita-wanita yang cantik itu.
sebenarnya dalam diri pak bakar merasakan kejanggalan pada kampung yang mereka singgahi itu, namun ia tak mau mengkhawatirkan rombongan. hanya sehari mereka disana. Mereka beristirahat melepas lelah. Dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Ketika hendak berangkat. samari tidak ingin ikut dengan mereka lagi, ia memilih tinggal dikampung itu. ia mengatakan kalau ia betah tinggal dikampung itu, dan telah memiliki jodoh.  Ia mengatakan kalau ia ingin menikahi wanita kampung itu. ia juga menjelaskan kalau 4 orang cukup untuk menemui imam malik, dan meminta maaf.
Pak bakar mengerti dengan keadaan samari, ia sudah cukup umur untuk menikah. Pak bakar hanya berpesan kepada samari, agar mau menunggu mereka dikampung ini, sampai mereka pulang nanti. Meski hanya 4 orang mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, hinga sampai kepuncak bukit burudah.  Semakin kepuncak, udara semakin dingin. Tapi itu tak menghalangi keempat orang itu untuk menemui imam malik.
Sudah cukup lama mereka meninggalkan kampung tadi, mereka akhirnya beristirahat dan bermalam kembali.
Mereka mengambil posisi untuk tidur, karena waktu sudah malam. Sebelum tidur, bambang berceloteh “seandainya ada api besar dihutan ini, mungkin tidur kita akan terasa hangat”, seolah mustajab, ketika mereka ternyenyak tidur, api yang sangat besar mengelilingi tubuh mereka, pak bakar yang merasakan adanya api terbangun, ia terkejut dengan apa yang ia lihat, segera ia membangunkan badar, dan diikuti oleh pak ujang, sedangkan bambang yang tidur agak jauh dari mereka, belum terbangun. Mereka mencoba membangunkan bambang, namun api menghalangi mereka untuk mendekati bambang.
Mereka tak berani mendekat, karena api sangat besar, terutama dekat tubuh bambang. Saat bambang terbagun, ia tak mampu melakukan apa-apa, seluruh api telah mengelilinginya, tak ada yang dapat ia usahakan, ia berteriak sekuat tenaga untuk meminta tolong, semuanya panik namun pak bakar, pak ujang dan badar tak dapat buerupaya. Mereka berusaha memadamkan api, namun api begitu besar. Hingga api itu akhirnya membakar tubuh bambang.
Lagi-lagi mereka harus menyaksikan kematian salah satu dari rombongan mereka. Badar yang masih remaja itu cukup histeris dengan apa yang ia saksikan. Ia tak bisa membayangkan, jika hal itu terjadi kepadanya. Namun pak bakar mencoba untuk menenangkannya.
Setelah kejadian itu mereka meneruskan perjalanannya. Tak cukup jauh dari tempat mereka beristirahat. Mereka kemudian melihat seorang laki-laki. Dalam pandangan mereka. Laki-laki itu terbang dari pohon ke pohon, hingga akhirnya berhadapan kepada mereka. Laki-laki itu bertanya kepada mereka “hendak kemana kalian…?”, pak bakar menjawab “kami ingin kepuncak bukit burudah, ingin mengambil kayu tas”. Pak bakar kemudian menjelaskan kalau kayu itu digunakan sebagai obat yang tengah dialami masyarakat kampung pendana. Laki-laki itu kemudian bertanya kembali“ sudah berapa lama kalian berkelana di bukit ini?”. “20 hari”. Jawab badar, yang sejak awal menghitung hari dari mulai keberangkatan mereka.
“seandainya kalian mampu terbang sepertiku, kalian akan lebih  mudah sampai kepuncak bukit burudah, dan tak perlu bersusah payah, untuk berjalan kaki.”, dengan tegas laki-laki itu bercakap kepada badar dan kedua temannya.
Badar dan pak bakar tak menanggapinya serius. Berbeda halnya dengan pak ujang, sepertinya ia sangat tertarik dengan kehebatan laki-laki yang mampu terbang itu. “bisakah aku memiliki ilmu seperti itu...?”. Tanya pak ujang.
Laki-laki itu kemudian berkata lagi, “kalau kalian ingin sepertiku, datanglah kepadaku, dan temui aku dilembah itu..!”. lagi-lagi badar dan pak bakar tak menghiraukannya. Ia masih ingat betul pesan ibunya agar jangan tergoda oleh apapun. Namun lain halnya denga pak ujang, ia berhasrat sekali ingin kelembah itu. badar dan pak bakar, mencoba untuk mengingatkannya, agar kembali pada niatan semula, menemui imam malik.
Namun bukanlah bukit burudah, kalau tak memiliki godaan. Meskipun tanpa izin dari badar dan pak bakar, pak ujang langsung pergi kelembah itu, dan meninggalkan mereka. Pak bakar semakin yakin kepada badar, bahwa badarlah yang akan menemui imam malik. Dengan wajah sedih, badar menatap mata pak bakar dan berkata “pak bakar, aku minta jangan meninggalkan aku sendiri dibukit ini.”, begitulah pinta remaja polos itu.
Pak bakar meyakinkan badar, kalau ia akan menemaninya sampai kepuncak bukit burudah. Dengan rasa haru yang mendalam, pak bakar dan badar, melanjutkan perjalanan mereka kepuncak bukit burudah, dipuncak suasana bertambah dingin. Meski menambah kain pada tubuh mereka, kedua insan itu masih merasa kedinginan, tubuh pak bakar yang sudah cukup tua itu menggigil dan tak terasa lagi, akibat dinginnya cuaca.
Namun mereka tetap mencoba melanjutkan perjalanan, hingga mereka dapat bertemu dengan imam malik. Langkah demi langkah ditapaki oleh pak bakar dan badar.
saat ini mereka sudah sampai kepuncak bukit burudah, tinggal mencari tempat tinggal orang yang mereka cari itu. mereka menghentikan langkahnya setelah cukup lama berjalan, badar mengamati wajah pak bakar yang sudah pucat itu, tampak sangat kelelahan, ia juga terkulai lemas. tanpa dirasa, mereka juga kehabisan bekal. pak bakar bertutur “badar, bapak sudah tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan”, badar menatap tajam kearah wajah pak bakar dan berkata, “pak, kita beristirahat dulu, sambil menghangatkan tubuh…!”.
badar kemudian meminta izin kepada pak bakar untuk mencari air dan kayu bakar. Pak bakar hanya mampu mengedipkan mata, sebagai isyarat kalau ia mengizinkannya. Badar kemudian mengumpulkan kayu bakar, dan mencari sumber air, tak jauh dari tempat peristirahatan mereka. Badar menemukan air.
Air itu berasal dari himpitan batu yang dipancuri oleh bambu. Warna bambu itu serupa emas. Dan airnya pun sangat jernih dan sangat dingin. Rasa dinginnya melebihi cuaca yang badar rasakan.
badar tak memiliki pilihan lain, selain mengambilnya, selain karena ia sudah haus, ia juga memikirkan kehausan dari pak bakar, orang yang menemaninya sejak petualangan itu dimulai. Ia kemudian mengambilnya dan membawanya ketempat istirahat mereka. Pak bakar sudah sangat lemas, sampai bangun saja ia tak sanggup lagi. badar kemudian memapahnya dan membantunya meminumkan air bawaannya.
Pak bakar meminumnya sangat perlahan, belum sempat habis airnya, pak bakar menghembuskan nafas terakhirnya. Badar cemas, dan mencoba untuk membangunkan pak bakar, ia berteriak meminta pertolongan, namun tak ada seorangpun yang menolong. Badar hanya mampu menangis atas kematian pak bakar. Kini hanya ia sendiri yang bertahan untuk menemui imam malik.
Disatu sisi ia sangat marah atas keadaan yang menimpa dirinya, disisi lain, ia bertekad harus mampu menyenangkan hati warga kampungnya, termasuk  ibunya.
Memang tak jauh lagi dari tempat itu, badar sampai ke padepokan imam malik. Meski dengan rasa duka ia tetap melanjutkan perjalanannya. Dipuncak bukit burudah itu, badar bertemu dengan bapak tua yang bertubuh kerdil dan usianya jauh lebih tua dari badar. badar menghampirinya dan meminta izin untuk beristirahat. Bapak tua itu kemudian bertanya kepada badar “siapa namamu nak?” dengan nada hormat, badar menjawab “badar pak, badaruddin…”.
bapak itu bertanya lagi “darimana asalmu, dan apa tujuan mu datang kemari?”. Aku dari kampung pendana sebelah timur jauh dari bukit ini, aku ingin bertemu dengan imam malik dan mengambil kayu tas”. Jawab badar.
ia juga menjelaskan perihal musibah yang terjadi pada kampungnya. Ia juga menceritakan kejadian-demi kejadian yang menimpa teman-temannya. pak tua itu berkata sambil menunjukkan sebuah makam. “makam itu adalah makam imam malik, ia telah meninggal dunia sudah lebih dari 2 tahun”. Badar tersentak ia tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh pak tua itu, pasalnya sewaktu kejadian imam malik datang kekampungnya, ia melihat jelas orang itu.
meski begitu ia mencoba meyakini omongan dari pak tua itu, mengingat kalau imam malik adalah orang yang sakti. Ia sangat sedih, karena ia tak dapat bertemu dengan imam malik. “lalu bagaimana aku memintakan maaf kampungku padanya..?”, orang tua itu menenangkan badar dengan berkata “berziarahlah kamu dimakam itu, dan doakan ia”, begitu perintah orang tua bertubuh kerdil itu.
badar kemudian melakukannya ia berdoa dihadapan makam itu, dan meminta maaf atas nama kampungnya, yang telah berlaku buruk kepada imam malik. Setelah selesai ia kembali duduk dihadapan orang tua tadi. Orang tua itu memberi penjelasan kepada badar, bahwa imam malik telah memaafkan kampungnya, ia juga menerangkan kalau sahil dan bambang pernah menghina dan menghujat imam malik sewaktu dikampung, sedangkan pak ujang dan dan pak sahil pernah menendang dan mendorongnya sampai ia terjungkal.
Mendengar cerita itu badar perlahan meneteskan air mata, ia kemudian meminta maaf atas nama mereka. 
Setelah cukup lama mendengarkan cerita dari laki-laki tua itu, ia berpamitan pulang. Sebelum pulang, laki-laki itu memberinya sebuah kayu, yang tak lain adalah kayu tas, yang merupakan obat dari penyakit yang dialami warga kampung.
Tak banyak rintangan yang ia lalui saat pulang. Ia sendiri tak merasa kalau sudah sampai dikampungnya. Ia kemudian disambut oleh pak mujid, dirumah pak mujid ia menceritakan perihal kejadian-demi kejadian yang menimpanya dan beberapa temannya, ia menyampaikan kalau ia tak bertemu dengan imam malik, ia hanya bertemu dengan laki-laki tua bertubuh kerdil. ia juga menceritakan apa yang disampaikan oleh laki-laki tua itu.
dengan penuh kepastian pak mujid menyampaikan kepada badar, kalau laki-laki tua yang ia temui itu adalah imam malik, ia juga menambahkan kalua badar beruntung dapat bertemu dengannya. perihal samari dan pak ujang mereka sudah ada dikampung sejak seminggu yang lalu. Pak mujid menjelaskan kalau samari sekarang menjadi gila, kebanyakan orang mengatakan kalau ia gila karena wanita yang ia temui dibukit, sedangkan pak ujang sekarang lumpuh, kakinya patah, ketika hendak menjajal ilmunya.
Seluruh masyrakat merasa haru, saat mendengarkan cerita dari badar dan penjelasan yang disampaikan oleh pak mujid.
seluruh warga menyadari perbuatan mereka, mereka telah menzalimi manusia yang lemah. Sejak kejadian itu, seluruh warga hidup dengan rukun, saling membantu, dan saling menghargai satu sama lain, sedangkan samari dan pak ujang nampaknya mereka harus ikhlas dengan kondisi mereka sekarang.

……TAMAT……













Tidak ada komentar:

Posting Komentar