Laman

Kamis, 12 Juni 2014

Cerpen (Manggis Buah Magis)



                  

“MANGGIS BUAH MAGIS”
Karya Sastra Ke IV 
Dikarang Oleh Hazizi Ibn Khaliq

       Alkisah disebuah kerajaan, hiduplah seorang raja dengan seorang permaisurinya yang cantik. Sebuah kerajaan yang makmur dan memiliki tanah yang subur. dikerajaan itu tumbuh buah-buahan yang kecil dan manis. Seluruh rakyat kerajaan menyukainya. Selain itu, rakyat juga sangat mencintai rajanya. Raja yang arif dan memiliki wibawa. Tak sedikit masalah rakyat, yang diselesaikan olehnya.
Namun sesuatu terjadi pada kerajaan. Permaisuri mengalami penyakit yang aneh. Penyakit ini tak diketahui obatnya. Berbagai tabib telah berusaha mengobatinya, namun tak berhasil.
Hingga berita sakitnya permaisuri tersebar keseluruh rakyat kerajaan. Mendengar kabar itu, rakyat berbondong-bondong untuk melihat permaisuri.tak sedikit juga yang menawarkan diri untuk mengobatinya. Namun tak ada hasil. Permaisuri tetap saja sakit dan semakin terkulai lemas.  Seluruh rakyat kerajaan sedih atas musibah yang menimpa kerajaan. Dulu banyak senyum dan tertawa yang terlihat, tapi  sekarang hanya ada wajah kesedihan dari rakyat. termasuk jaka, yang juga merasakannya. Jaka merasa ada perubahan dalam kehidupan kerajaan, dahulu penuh kegembiraan dan sekarang hanya ada kesedihan. Jaka adalah pemuda kampung yang lugu dan polos. Ia tinggal dipangkalan sungai kerajaan. Ia sangat mengagumi sosok sang raja yang bijaksana.
Hingga akhirnya datang seorang tabib yang tingal diperbatasan kerajaan menghadap raja dan meminta untuk melihat permaisuri yang sedang sakit itu. Dengan kearifannya, sang raja mengizinkan. tabib itu mengamati kulit permaisuri dan dahinya. Ia melihat kalau kulit permaisuri memudar dan tampak tua dari umurnya. . Ia kemudian memberitahu raja, obat dari penyakit permaisuri.
Penyakit yang dialami permaisuri hanya bisa disembuhkan dengan memakan sebuah manggis. Buah itu besar dan rasanya sangat manis. Konon buah manggis itu cukup sulit untuk didapatkan, buah itu terdapat jauh dari kerajaan. Tak seorangpun dari kerajaan itu yang tau bentuk dari buah itu. Nama buah itu saja sangat asing ditelina mereka, termasuk juga raja.
Tabib itu menegaskan. Kalau buah itu tidak berbuah setiap tahunnya, ada waktu-waktunya, dan tak akan ada orang yang mengira. Selain langka, buah manggis adalah buah yang aneh dan memiliki keunikan. Bahkan tabib itu tanpa ragu mengatakan kalau buah itu adalah buah ajaib.
Setelah memberi penjelasan tentang buah itu, tabib langsung pulang. Sebelum pulang Ia itu berpesan kepada raja, bahwa siapa saja yang dapat menemukan buah itu, mereka harus terlebih dahulu menemuinya, karena hanya dia yang tau dengan buah itu. Raja kemudian mengamininya.
Raja kebingungan menemukan cara untuk mendapatkannya. Masalahnya adalah ia tidak tau tempat dimana buah itu biasa tumbuh, dan ia juga tidak tau kapan pohon manggis itu berbuah. namun buah itu harus ditemukan, untuk menyembuhkan permaisuri yang sangat dicintainya itu.
Akhirnya raja mengumumkan kepada rakyatnya. Bagi siapa saja yang dapat menemukan sebuah manggis akan diberikan hadiah dan dijadikan keluarga kerajaan.
Berita ini sampai ketelinga jaka. Ia tak menyangka, kalau penyakit permaisuri sudah ditemukan obatnya.
“Apapun obatnya, aku akan mencarinya, demi kerajaan”. Fikir jaka. Ia kemudian menghadap kekerajaan dan menemui raja. dihadapan raja, jaka meminta izin untuk mencari buah manggis yang diinginkan sang raja. Raja menyambut baik niat jaka. Dan sang rajapun mengizinkan.
Sebelumnya ada tiga orang pemuda yang menawarkan diri untuk mencari buah tersebut. Mereka adalah halim, sahil, dan pandi. Mereka memiliki keahlian dan kemampuan masing-masing,
Sebelum berangkat raja meminta mereka berempat untuk menghadap. Raja menegaskan bahwa pemuda yang pertama kali mambawa buah manggis kehadan raja, dia adalah pemenang.
dia juga berhak menerima hadiah dan dianggap sebagai keluarga kerajaan. Ungkap raja kepada keempat pemuda itu.
Raja juga mangatakan, sebelum menghadap kekerajaan, mereka harus menunjukkan terlebih dahulu buah yang mereka bawa kepada tabib yang tinggal diperbatasan kerajaan.
Kemudian raja bertanya kepada keempat pemuda perihal keahliannya.
Pemuda pertama mengatakan “ aku adalah pemuda yang berani, aku juga pengendali kuda yang handal. Aku mampu mengacu kuda dengan cepat”, begitu pemuda itu meyakinkan raja.
Pemuda kedua juga bercakap “ aku adalah pemuda yang kuat, aku mampu memanjat pohon-pohon besar dan tinggi, kalau buah itu berpohon besar, maka aku mampu mamanjatnya.
Pemuda ketiga juga tak kalah meyakinkan raja. “ wahai raja, aku adalah pemuda yang cerdik dan pintar, aku akan mendapatkan buah itu untuk permaisuri.
Dan terakhir raja bertanya kepada jaka.. “apa keahlian mu jaka..?”
Jaka menjawab dengan polosnya.. “wahai raja, aku adalah pemuda kampung yang tak memiliki apa-apa, aku tak begitu pintar, dan aku juga tak begitu kuat, tapi aku akan berusaha, mendapatkan buah manggis itu”. Begitulah jaka bergumam kepada sang raja.
Akhirnya mereka berempat berangkat keberbagai penjuru arah untuk mencari buah manggis.
Halim dengan pacuan kudanya yang kencang pergi kearah utara, diikuti dengan sahil pergi kearah selatan, dan pandi pergi kearah timur. Sedangkan jaka pergi kearah barat.
Dalam perjalanannya kearah utara, pemuda pertama melihat buah yang cukup unik menurutnya. Buahnya besar, buah itu juga tergeletak ditanah, tidak seperti yang ia bayangkan. Buah itu tak lain adalah buah semangka. Ia berfikir kalau buah itu adalah buah manggis. Selain karena buahnya besar ia juga beranggapan biasanya kalau buah yang besar pohonnya juga besar dan tinggi, dan harusnya bergantungan. Tidak seperti yang ia temukan, pohonnya memiliki sulur yang merayap dan buahnya pun besar, isinya merah, dan rasanya manis. Ia sangat yakin kalau itu adalah buah manggis, terlebih lagi perjalanannya sudah cukup jauh dari kerajaan nya. Tidak sulit untuk mendpatkan buah itu, ia hanya diminta menukarkan buah itu dengan kudanya oleh sipemilik buah.
Pemuda kedua yang pergi kearah selatan menemukan pohon kelapa. Karena tak menemukan buah lagi selain buah kelapa. Ia pun beranggapan kalau buah itu adalah buah manggis. Ia melihat keunikan dari buah ini. Pohon dari buah ini tidak memiliki dahan dan ranting., dan buahnya memiliki air yang banyak didalamnya, yang mampu membasuh muka. Tak pernah ia melihat buah seperti itu dinegrinya. Untuk memperolehnya ia hanya diminta untuk memanjat dan mengambilnya oleh pemilik buah tersebut. Dan kemudian membagi hasil panjatannya.
Pemuda ketiga adalah pemuda yang licik dan cerdik. Dalam perjalanannya kearah timur, ia tak menemukan satu pohon buah pun. Ia kemudian pergi kepasar dinegri timur tersebut, dan mencuri satu buah yang menurutnya itu adalah buah manggis, karena ukurannya yang besar. Padahal yang diambilnya adalah buah melon.
Jaka yang pergi kearah barat cukup menikmati perjalannanya mencari buah mangis. Bukan sedikit pohon buah yang ia temui, namun ia harus berhati-hati memilih buah manggis. Konon katanya kalau buah manggis itu adalah buah yang besar, unik dan ajaib.
Rintangan demi rintangan Ia lalui untuk mendapatkan buah itu, kelaparan dan kedinginan adalah hal yang biasa baginya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan kakek tua.
Kakek tua itu tinggal dikaki gunung dan ia memiliki banyak pohon buah. Sejenak jaka memperhatikan buahnya, tak ada keunikan pada buah itu, ukuran buahnya standar tak begitu besar, sama seperti buah yang ada dinegrinya.
Jaka tak menyangka, kakek mengawali perbincangan.. “apa yang engkau inginkan disini, nak. Sepertinya kamu juga bukan pemuda daerah sini.?”.. dengan rasa hormat jaka menjawab “kakek, aku adalah pemuda yang tinggal di negeri yang jauh dari sini, aku hendak mencari buah manggis, sebagai obat untuk permaisuri raja kami.
jaka kemudian menjelaskan keadaan permaisuri dan kerajaan.
Dengan cermat kakek mendengarkan keluhan jaka. Kakek kemudian mengataan “buah yang kau lihat ini adalah buah mangis..”
Jaka terkejut dengan apa yang dikatakan kakek, ia tak percaya kalau yang ia lihat itu adalah buah manggis.
“bukankah buah manggis itu, adalah buah yang besar”, Tanya jaka kepada kakek. Kakek menjelaskan “memang benar, buah manggis adalah buah yang besar, namun yang dimaksud oleh banyak orang bukanlah ukurannya melainkan khasiatnya. Buah manggis memiliki khasiat yang besar”.
Dengan penjelasan kakek, jaka menjadi faham akan keunikan dan keajaiban dari buah manggis. jaka kemudian meminta izin kepada kakek untuk mengambilnya. Namun kakek tidak mengizinkannya begitu saja. kakek meminta jaka untuk memberikan sesuatu sebagai gantinya. Jaka kebigungan untuk mewujudkan keinginan kakek. Ia tak memiliki apapun dan ia juga tidak pandai membuat barang, sekedar hanya untuk kenang-kenangan.
Ia kemudian teringat dengan sebuah kincir air miliknya didesa, ia kemudian membuatkan kincir air buat kakek, sebagai syarat untuk mengambil buah manggis itu. Akhirnya kakek mengizinkan jaka untuk mengambil buah manggis. Sebelum berangkat pulang, kakek bercerita kepada jaka, bahwa buah manggis itu memiliki isi yang manis, dan jumlah isinya tidak menentu. Namun jumlah isinya bisa ditebak dengan meihat mata isi yang ada dibagian bawah kulit manggis. Jaka kemudian mengamati buah yang ia ambil. Ia hanya membawa satu, sesuai permintaan raja, sebuah manggis.
Tak menungu waktu lama, jaka pulang ke negrinya untuk menghadap raja. Ia sangat senang dapat menemukan buah manggis.
Sebelum menghadap sang raja, keempat pemuda harus menemui tabib, untuk menanyakan apakah buah yang mereka bawa, benar-benar buah manggis atau bukan.
Pemuda pertama sampai terlebih dahulu, ia kemudian menghadap tabib dan menunjukkan buah bawaannya. tabib menjelaskan bahwa yang ia bawa adalah buah semangka bukan buah manggis.
Karena salah membawa buah akhirnya pemuda pertama sembunyi dibalik semak-semak untuk menunggu kedatangan pemuda selanjutnya. Tibalah pemuda kedua, ia menghadap dan menunjukkan buahnya, ternyata yang ia bawa adalah buah kelapa, bukan buah manggis, dan ia kemudian bersembunyi di semak-semak, untuk menunggu pemuda yang lain datang.
Tak berapa lama, datanglah pemuda ketiga, namun yang dibawa pemuda ketiga juga salah, ia membawa buah melon. Ternyata ia juga melakukan hal yang sama seperti pemuda sebelumnya, bersembunyi disemak-semak tak jauh dari rumah tabib itu, untuk menunggu kedatangan pemuda selanjutnya.
Mereka berniat untuk mencuri buah manggis yang sebenarnya, dan menyerahkan buah itu atas namanaya kepada raja.
Dan terakhir datanglah jaka dengan membawa buahnya. Kemudian tabib itu membenarkan buah milik jaka. Jaka sudah menduga kalau buah yang ia bawa adalah buah manggis. Pemuda ketiga yang mendengar kebenaran buah jaka, dengan liciknya menipu jaka, hinga jaka kehilangan buahnya sebelum sampai kepada raja.
Kemudian pemuda kedua memintanya dengan paksa dari pemuda ketiga. Pemuda ketiga takut dan menyerahkan buahnya kepada pemuda kedua.
pemuda pertama mengetahui kalau buah itu sudah ditangan pemuda kedua, ia bergegas menghadap raja dan mengarang cerita, kalau buah miliknya telah dirampas oleh pemuda kedua, ia juga meyakinkan raja kalau ia tak mampu melawan karena pemuda kedua adalah pemuda yang kuat.
Raja yang mendengar cerita itu, kemudian memanggil keempat pemuda dan berniat menyelesaikan masalahnya. Dihadapan sang raja keempat pemuda ini mengaku bahwa merekalah yang berhasil mendapatkannya. Saat ini buah itu sudah ditangan raja, namun raja masih bingung memutuskan, siapa yang sebenarnya pembawa buah manggis itu.
Pemuda pertama berkata kepada raja “ wahai raja, engkau adalah raja yang arif dan bijaksana, engkau pasti mengetahui siapa yang benar”..
Raja kemudian menguji keempat pemuda ini. Raja meminta mereka untuk menceritakan bagaimana mereka mendapatkannya, dan bagaimana bentuk isinya.
Pemuda pertama memulai…”aku pergi kearah utara, disana adalah tempat yang subur, banyak tumbuhan langka dan besar disana, tidak seperti disini. Untuk sampai disana, kita harus sekuat tenaga mengayunkan pedang untuk menebas rumput sebagai jalan. Disana saya menemukan buah manggis itu. Pohon dari buah itu tidak seperti yang lainnya. Ia memiliki pohon menjulur ketanah dan panjang seperti pohon rotan. Bayangkan saja, untuk mendapatkan satu buah saja, kita harus menapaki sulur yang panjang dulu. Sulur itu dapat ditempuh satu bulan berjalan kaki. Dan dengan kecepatan kuda ku, aku hanya dapat menapakinya dengan waktu 3 hari saja. Sebelum akhirnya kudaku mati karena kelelahan. dan isi dari buah ini berwarna merah dan rasanya manis. Begitulah pemuda pertama mengarang cerita.
Pemuda kedua kemudian bercerita “raja, aku pergi kearah selatan, disana aku menemukan pohon yang besar dan tinggi-tinggi, tidak seperti disini. Aku mengambil buah itu dari sebuah pohon. Pohon itu besar dan tinggi. Pohon itu juga tak memiliki dahan dan ranting seperti biasanya. Kebesaran pohon itu dapat meneduhi satu kampung disana. Dan untuk memanjatnya, orang biasa butuh waktu sebulan untuk  dapat mengambil buahnya. Dengan kekuatan dan kelihaianku, aku hanya butuh waktu 3 hari memperolehnya. Dan buah ini memiliki air yang banyak, yang mampu membasuh muka, tidak seperti buah yang kita temukan disini. Dengan tegas pemuda kedua bercerita.
Dilanjutkan dengan pemuda ketiga “wahai raja yang bijaksana, sesungguhnya aku telah dizalimi oleh mereka, mereka mengambil buah itu dariku, aku berkelana kearah timur untuk mencari buah manggis. Disana sungguh gersang tak ada tumbuhan sedikitpun. Konon tumbuhan disana habis dimakan seekor binatang yang besar. binatang itu mampu mamakan tumbuhan seluas kampung dalam setiap harinya. Sesungguhnya buah manggis itu adalah telur dari binatang  itu. Sebagaimana bentuk telur, isi dari buah ini berwarna kuning dan rasanya pun manis, layaknya buah-buahan. Begitulah pemuda ketiga bercerita kepada raja.
Dan tibalah giliran jaka bercerita “wahai raja, aku mengembara kearah barat, semata-mata mencari buah manggis. Lapar dan kedinginan sudah tak perlu aku ceritakan, diujung barat ditengah hutan aku mendapati puluhan pohon manggis milik kakek tua, aku sendiri ragu dengan buah itu. Pasalnya, buah manggis adalah buah besar, sedangkan yang kulihat adalah buah yang tak begitu besar, tak jauh berbeda dengan buah yang ada dinegeri ini. Namun yang dikatakan besar bukanlah ukurannya, tapi khasiatnya. Buah ini berkhasiat besar, dan dapat menjadi obat. Aku membuatkan kakek itu kincir air sebagai tukarnya. Wahai raja isi dari buah manggis ini, adalah putih, bukan merah atau kuning, juga tidak memiliki air yang banyak yang mampu mencuci muka seperti apa yang diceritakan pemuda kedua.
Aku juga dapat menebak isi dari buah itu. Pinta jaka kepada raja. Sepintas ketiga pemuda itu bertatapan, dan kecemasan pun mulai menyelimuti.
“berapa isi dari buah ini?” Tanya raja. Dengan tegas jaka menjawab “enam. Manggis ini berisi enam”.
Setelah keempat pemuda ini bercerita, akhirnya raja membelah buah itu untuk membuktikan cerita dari keempat pemuda itu.
Dan isi dari buah itu adalah berwarna putih dan berisi enam, seperti apa yang diceritakan oleh jaka. Ketiga pemuda pun terkejut, dan malu dihadapan raja. Karena mereka telah berbohong kepada raja. Raja kemudian memberikan buah itu kepada permaisuri, dan permaisuri kemudian sembuh. Tubuhnya tak lagi lemas dan wajahnya terlihat lebih muda dari sebelumnya.
Akhirnya raja memberikan hadiah kepada jaka dan mengangkatnya sebagai keluarga kerajaan. Dan sebagai hukumannya ketiga pemuda itu dijebloskan kedalam penjara kerajaan.
Sejak kesembuhan permaisuri, wajah kegembiraan dan kesenangan kini tampak lagi pada seluruh rakyat kerajaan. Dan kerajaan pun hidup dengan kemakmurannya.

……TAMAT……
CP :085789703246/089623533496

Tidak ada komentar:

Posting Komentar