Laman

Rabu, 11 Juni 2014

Cerpen (Pilihan Hidup)



 PILIHAN HIDUP
Buah Tinta Hazizi Ibn Khaliq 

     Serasa tertimpa beton, bukan main perasaannya. Tubuhnya kaku, detak jantung tak lagi berirama, tidak juga berhenti tapi aliran darahnya terasa tak sejalan lagi. Mukanya pucat bak panorama awan disiang hari, tangannya dingin berkeringat. Fikirannya tak tertata lagi, sampai sahabat yang menemaninya sejak sore tadi tak lagi digubrisnya. Keriuhan ditempat terasa sunyi bagai kawasan dipadang pasir. betapa sakit hatinya, dari raut mukanya tampak rasa kekecewaan yang mendalam. Dari dalam hatinya terucap kata “mengapa mereka bisa, sedangkan saya tidak?, padahal si robi, gak pandai-pandai amat. Kenapa ia diterima?, hal itu menambah kepedihannya. Betapa tidak, sudah dua kali ia mendaftar di perguruan tinggi yang sama, dan kedua kalinya ia mendapat tolakan berupa kata maaf. Tak tau lagi rasanya. Rasa itu kemudian bercampur menambah duka baginya. Rasa penyesalan terhadap dirinya, rasa malu dengan temannya, akan ada cemoohan fikirnya, ditambah lagi betapa kecewa orang tuanya. Orang tua yang membangga-banggakannya sejak ia mengenyam pendidikan. Namun begitulah hidup, tak semua harapan sesuai dengan kenyataan. “Manusia berencana hanyalah allah yang menentukan” itulah pepatah  yang pantas untuk mengarungi samudra kehidupan. Nampaknya farhan harus mulai legowo akan kenyataan yang ia terima.
Farhan adalah lulusan sma n 1 kotaagung, yang bermimpi sukses dari gerbang perguruan tinggi ternama.
Farhan bukanlah siswa yang cerdas, tapi pengetahuannya tidak juga sejajar dengan orang-orang bodoh di sekolahnya.. karena ia pernah mewakili kelasnya dalam lomba cerdas cermat saat  lomba classmeeting di sekolahnya. Ia juga tidak begitu special di kelasnya, namun kondisi akan terasa berbeda jika tiada dirinya. Dia juga bukan termasuk orang yang berada, tpi buat biaya sekolah, dia tidak pernah nunggak. Seorang anak petani yang orang tuanya tidak memiliki penghasilan tetap, namun memiliki keinginan kuat untuk terus belajar.
Sebelumnya ia masih sempat tersenyum dan mampu mengatur nafas, sebelum kata-kata penyakit itu ia lihat. Kata-kata yang ia tunggu selama kurang lebih 3 minggu. Namun hanya butuh waktu 3 detik untuk menghentikan seluruh aktivitas tubuhnya.
malam itu adalah malam yang ia tunggu sejak berakhirnya test snmptn (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri) sebuah jalur tertulis untuk menjadi mahasiwa di perguruan tinggi yang ia impikan. Mendapat kabar bahwa pengumumannya sudah keluar. Farhan dan temannya. Fauzi, bergegas menuju warnet. Hanya butuh 5 menit saja mereka telah sampai ke tempat yang membelah kesunyian itu. Sempat kebingungan mencari alamat web yang akan ia buka, terlihat dengan mahirnya farhan memainkan hp nya, untuk menanyakan situs yang harus ia kunjungi. Sebagian link lagi farhan membuka fb nya. Sebuah jejaring sosial yang ia ketahui sejak kelas 2 sma. Jejaring sosial yang kala itu paling canggih menurutnya. Karena fotonya dapat dilihat oleh kawannya diberbagai daerah. Dilihatnya hp tak juga ada balasan mengenai situs yang ia tanyakan. pada fb itu terdapat sebuah status kawannya. robi “alhamdlilah saya diterima di umpad” ia tersenyum bahagia, rasa penasaran bergejolak dari batinnya, ingin rasanya ia cepat mengetahui tentang nasip mimpinya itu, dilain sisi ia menenangkan “si robi aja keterima apa lagi saya” namun kekhawatiran mulai muncul dalam dadanya, ketika farhan tau si icha yang kemampuan intelektualnya diatasnya tidak lolos dalam kompetesi akbar itu.ia tau dari jeajring sosial paling medern itu. Kegelisahan mulai mencengkrama dalam dirinya. Ia bertanya melalui pesan dinding kepada temannya, kemudian menelpon, ingin rasanya farhan tau segera dengan hasilnya. Tak berapa lama dari ia menutup telfonnya sebuah sms masuk “www.snmptn.ac.id, lalu pilih kata ‘klik disini’.tak butuh waktu lama untuk membaca, farhan langsung menserching alamat web tersebut. setelah megikuti petunjuk sms tersebut ia mendapati sebuah kolom, yang memerintahkan farhan untuk memasukkan nomor testnya. hatinya bertambah gelisah, suasana hatinya tak bisa digambarkan lagi, hingga sebuah kalimat sederhana terpampang nyata dihadapannya. sungguh sebuah kalimat yang tidak ia inginkan, namun harus diterima. kata-kata yang ia khawatirkan sejak awal, begitu sakit rasanya jika mengalami kegagalan dua kali. rasa haru menggelutinya, sepintas matanya berkaca-kaca, entah apa yang harus ia katakan terhadap orang tuanya, yang sejak awal membangga-banggakannya kepada tetangganya. farhan juga pernah mengingatkan orangtuanya agar jangan terlalu bersikap berlebihan membanga-banggakannya kepada keluarga dan tetangganya. hanya karena dulu pernah menjadi juara kelas dan mendapat rekomnedasi dari sekolah untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur undangan, tidak seperti teman-temannya. namun begitulah orangtua, ia akan selalu membangakan anaknya meskipun agak terkesan berlebihan. Tetapi bukan itu yang menjadi penyesalan farhan, ia hanya menyesal karena ia tidak pantas menjadi orang yang dibanggakan seperti apa yang diharapkan oleh orangtuanya itu. seolah menenangkan diri ia kembali bersenyum dihadapan fauzi, teman yang sejak 1 jam yang lalu menemaninya.
..........................................................................................................................................
Detik..berganti menit, menit barganti dengan jam. Hari-haripun telah ia lalui, namun kata-kata itu masih tampak nyata dalam fikirannya. Rasa haru itu masih lekat dalam dirinya. Hingga kata-kata mukjizat itu datang. Kata-kata yang menyelamatkannya dari keterpurukan dan keputus-asaan. Kata-kata yang ia temukan di inbox messagenya. “rencana allah adalah yang terbaik buat kita”.
Dibawah kalimat itu  ia temukan nama pengirimya.Delisa. Perempuan yang ia kagumi sejak kelas 3 smp, yang saat ini ia kuliah di unila (universitas lampung), sebuah lembaga pendidikan ternama di lampung.
Dari 7 kata itu, ia serasa terbangun dari tidurnya yang panjang. Keluhan kekecewaan mulai tenggelam dari hatinya. Kini ia tak lagi berfikir sempit, “tidak juga unila, yang akan membesarkan nama saya”. Hatinya bergumam.
Seolah menemukan hidup baru, farhan mulai sadar bahwa nasip hidup tidak hanya ditentukan didunia pendidikan. Apalagi harus berhenti karena tak diterima diperguruan tinggi ternama di indonesia. Saat itu farhan sangatlah ingin kulaih di unila (universitas lampung) sebagaiman kebanyakan temannya. Beberapa temannya berhasil menembus tembok unila tersebut. Mereka menjadi pemenang setelah mengalahkan 16.000 punggawa yang akan menmbus tembok tersebut. Ia sempat merasa menjadi pecundang, baginya kegagalan adalah aib besar yang akan mempermalukannya. Belakangan ia mengerti bahwa ia adalah pemenang dari kompetisi terakbar didunia kompetisi yang pertama kali ia ikuti, meskipun tanpa ia sadari. Mengalahkan berjuta-juta sel sperma yang akan menembus ovum .adalah kemenangan yang nyata. dan hanya ia yang berhasil. Memang seperti itulah roda kehidupan, ada yang berhasil namun ada yang mengalami kegagalan. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengubah kegagalan kita menjadi sebuah titik awal dari keberhasilan kita kedepan. Farhan mulai menenangkan hatinya, ketika mengingat cerita ibu nia yang merupakan wali kelas sewaktu kelas 3 sma dulu. Ibu nia adalah lulusan UGM (universitas gadjah mada). Sebuah universitas terbaik di negeri ini. Namun selama 16 tahun ia hanya menjadi guru honor disekolahnya, baru 3 bulan lalu ia diangkat menjadi pns, setelah ia kuliah kembali di stmik pringsewu mengambil jurusan sistem informatika. Sebelumnya ibu nia adlah lulusan dari jurusan pertanian. Ternyata keinginannya dapat tercapai di perguruan tinggi yang belum begitu memiliki nama, sebuah kampus yang tak cukup jauh dari tempat tinggalnya , jika dibandingkan tempat kuliah ia dulu. Tapi yang menjadi kebanggaan tersendiri adalah mengenai keteguhan dan kesabarannya.
Bagitulah nasip, tiada satupun yang dapat mengira, seperti halnya ibu nia, cita-cita nya menjadi pns dapat ia capai setelah kuliah kembali di stmik bukanlah di ugm. Yang kala itu merupakan universitas terbaik negeri ini.
Farhan seolah menemukan keyakinan baru. gagal di unilsa, bukanlah akhir dari perjuangan untuk meneruskan pendidikannya, di negara ini perguruan tinggi tidak hanya satu. Baik yang berstatus negeri maupun swasta. Dilampung ini setidaknya ada 7 perguruan tinggi yang baik menrutnya. Sejatinya bukanlah instansi yang akan menentukan kualitas pendidikan, tetapi kemampuan yang kita bangun dari sebuah lembaga pendidikan. Nyatanya masih banyak orang yang tidak berhasil yang  lulus dari universitas ternama. Begitulah hatinya kembali menenangkan. Kala itu ia tak lagi memikirkan harus dimana ia menempuh jenjang pendidikan selanjutnya, yang terpenting farhan bisa kembali melanjutkan pendidikannya untk menggapai cita-citanya. Orangtuanya kini memberikan kebebasan bagi farhan untuk kuliah dimana saja, meskipun tampak wajah keterpaksaan dari orang yang sangat dihormatiinya itu.
Ayahnya sempat menawarkan untuk mencoba mengikuti kompetisi itu lagi ditahun depan. Itu artinya ia harus menunggu selama 1 tahun. Tak pernah ia berfikiran untuk menjadi pengangguran, apalagi jauh dari dunia pendidikan. tapi ia sadar, apa yang dikatakan oleh ayahnya adalah sebuah tawaran, boleh saja ia menolak. Kuat keinginanya untuk tetap melanjutkan pendidikannya hingga mendapat gelar sarjana, fikirnya “lebih baik kuliah dimana aja, daripada gak sekolah”. Kini farhan tak lagi memikirkan dimana ia harus bergelut dalam dunia pendidikan. Baginya semua perguruan tinggi itu sama saja, tergantung bagaiman kita menjalaninya, jika ingin berhasil.sekarng farhan siap meniti kembali mimpinya itu sesungguhnya bukanlah universitasnya yang ia inginkan, melainkan kesuksesan dirinya.
....................................................................................................................................................
Farhan adalah siswa yang cukup aktif disekolahnya, tak heran jika banyak teman yang mengaguminya, selain karena ia sering ke mushola sekolah tempat ia menimba ilmu swaktu sma dulu. Bagi teman-temannya farhan adlah sisiwa yang memiliki rasa empati yang tinggi, peduli terhadap teman-temannya. Dan dikenal cukup bijak dalam segala hal. Ditengah keputus asaannya dia masih sempat menenangkan teman-temannya yang juga mengalami nasip yang sama dengannya. Seolah tak ada tanda-tanda kekecewaan dalam dirinya, ia memberikan suport kepada temannya itu, terutama Indra. Siswa yang mengalami 2 kali kegagalan , seperti halnya farhan. Belakangan farhan tau bahwa indra telah mendaftar di iain raden intan lampung, sebuah perguruan tinggi islam. Waktu itu farhan belum memutuskan universitas mana yang akan ia masuki, ia sempat bertanya-tanya tantang kampus stkip pgri kepada tetangganya yang kuliah di kampus tersebut. Farhan juga membaca-baca brosur dari teknokrat sebuah perguruan tinggi yang banyak memiliki prestasi di kanca internasional, ia tau dari brosur tersebut. Dan brosur yang dibagikan oleh mahasiswa dari dcc kotaagung. Sebuah kampus yang tak jauh dari sekolahnya.


Bersambung dulu guys...........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar