PILIHAN HIDUP
Buah Tinta Hazizi Ibn Khaliq
Buah Tinta Hazizi Ibn Khaliq
Serasa
tertimpa beton, bukan main perasaannya. Tubuhnya kaku, detak jantung tak lagi
berirama, tidak juga berhenti tapi aliran darahnya terasa tak sejalan lagi.
Mukanya pucat bak panorama awan disiang hari, tangannya dingin berkeringat.
Fikirannya tak tertata lagi, sampai sahabat yang menemaninya sejak sore tadi
tak lagi digubrisnya. Keriuhan ditempat terasa sunyi bagai kawasan dipadang
pasir. betapa sakit hatinya, dari raut mukanya tampak rasa kekecewaan yang
mendalam. Dari dalam hatinya terucap kata “mengapa mereka bisa, sedangkan saya
tidak?, padahal si robi, gak pandai-pandai amat. Kenapa ia diterima?, hal itu
menambah kepedihannya. Betapa tidak, sudah dua kali ia mendaftar di perguruan
tinggi yang sama, dan kedua kalinya ia mendapat tolakan berupa kata maaf. Tak
tau lagi rasanya. Rasa itu kemudian bercampur menambah duka baginya. Rasa penyesalan
terhadap dirinya, rasa malu dengan temannya, akan ada cemoohan fikirnya,
ditambah lagi betapa kecewa orang tuanya. Orang tua yang membangga-banggakannya
sejak ia mengenyam pendidikan. Namun begitulah hidup, tak semua harapan sesuai
dengan kenyataan. “Manusia berencana hanyalah allah yang menentukan” itulah
pepatah yang pantas untuk mengarungi
samudra kehidupan. Nampaknya farhan harus mulai legowo akan kenyataan yang ia
terima.
Farhan
adalah lulusan sma n 1 kotaagung, yang bermimpi sukses dari gerbang perguruan
tinggi ternama.
Farhan
bukanlah siswa yang cerdas, tapi pengetahuannya tidak juga sejajar dengan
orang-orang bodoh di sekolahnya.. karena ia pernah mewakili kelasnya dalam
lomba cerdas cermat saat lomba
classmeeting di sekolahnya. Ia juga tidak begitu special di kelasnya, namun
kondisi akan terasa berbeda jika tiada dirinya. Dia juga bukan termasuk orang
yang berada, tpi buat biaya sekolah, dia tidak pernah nunggak. Seorang anak
petani yang orang tuanya tidak memiliki penghasilan tetap, namun memiliki
keinginan kuat untuk terus belajar.
Sebelumnya
ia masih sempat tersenyum dan mampu mengatur nafas, sebelum kata-kata penyakit
itu ia lihat. Kata-kata yang ia tunggu selama kurang lebih 3 minggu. Namun
hanya butuh waktu 3 detik untuk menghentikan seluruh aktivitas tubuhnya.
malam
itu adalah malam yang ia tunggu sejak berakhirnya test snmptn (seleksi nasional
masuk perguruan tinggi negeri) sebuah jalur tertulis untuk menjadi mahasiwa di
perguruan tinggi yang ia impikan. Mendapat kabar bahwa pengumumannya sudah
keluar. Farhan dan temannya. Fauzi, bergegas menuju warnet. Hanya butuh 5 menit
saja mereka telah sampai ke tempat yang membelah kesunyian itu. Sempat kebingungan
mencari alamat web yang akan ia buka, terlihat dengan mahirnya farhan memainkan
hp nya, untuk menanyakan situs yang harus ia kunjungi. Sebagian link lagi
farhan membuka fb nya. Sebuah jejaring sosial yang ia ketahui sejak kelas 2
sma. Jejaring sosial yang kala itu paling canggih menurutnya. Karena fotonya dapat
dilihat oleh kawannya diberbagai daerah. Dilihatnya hp tak juga ada balasan
mengenai situs yang ia tanyakan. pada fb itu terdapat sebuah status kawannya.
robi “alhamdlilah saya diterima di umpad” ia tersenyum bahagia, rasa penasaran
bergejolak dari batinnya, ingin rasanya ia cepat mengetahui tentang nasip
mimpinya itu, dilain sisi ia menenangkan “si robi aja keterima apa lagi saya”
namun kekhawatiran mulai muncul dalam dadanya, ketika farhan tau si icha yang
kemampuan intelektualnya diatasnya tidak lolos dalam kompetesi akbar itu.ia tau
dari jeajring sosial paling medern itu. Kegelisahan mulai mencengkrama dalam
dirinya. Ia bertanya melalui pesan dinding kepada temannya, kemudian menelpon,
ingin rasanya farhan tau segera dengan hasilnya. Tak berapa lama dari ia
menutup telfonnya sebuah sms masuk “www.snmptn.ac.id, lalu pilih kata ‘klik
disini’.tak butuh waktu lama untuk membaca, farhan langsung menserching alamat
web tersebut. setelah megikuti petunjuk sms tersebut ia mendapati sebuah kolom,
yang memerintahkan farhan untuk memasukkan nomor testnya. hatinya bertambah
gelisah, suasana hatinya tak bisa digambarkan lagi, hingga sebuah kalimat
sederhana terpampang nyata dihadapannya. sungguh sebuah kalimat yang tidak ia
inginkan, namun harus diterima. kata-kata yang ia khawatirkan sejak awal,
begitu sakit rasanya jika mengalami kegagalan dua kali. rasa haru
menggelutinya, sepintas matanya berkaca-kaca, entah apa yang harus ia katakan
terhadap orang tuanya, yang sejak awal membangga-banggakannya kepada
tetangganya. farhan juga pernah mengingatkan orangtuanya agar jangan terlalu
bersikap berlebihan membanga-banggakannya kepada keluarga dan tetangganya.
hanya karena dulu pernah menjadi juara kelas dan mendapat rekomnedasi dari
sekolah untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur undangan,
tidak seperti teman-temannya. namun begitulah orangtua, ia akan selalu
membangakan anaknya meskipun agak terkesan berlebihan. Tetapi bukan itu yang
menjadi penyesalan farhan, ia hanya menyesal karena ia tidak pantas menjadi
orang yang dibanggakan seperti apa yang diharapkan oleh orangtuanya itu. seolah
menenangkan diri ia kembali bersenyum dihadapan fauzi, teman yang sejak 1 jam yang
lalu menemaninya.
..........................................................................................................................................
Detik..berganti menit,
menit barganti dengan jam. Hari-haripun telah ia lalui, namun kata-kata itu
masih tampak nyata dalam fikirannya. Rasa haru itu masih lekat dalam dirinya.
Hingga kata-kata mukjizat itu datang. Kata-kata yang menyelamatkannya dari
keterpurukan dan keputus-asaan. Kata-kata yang ia temukan di inbox messagenya.
“rencana allah adalah yang terbaik buat kita”.
Dibawah kalimat
itu ia temukan nama pengirimya.Delisa.
Perempuan yang ia kagumi sejak kelas 3 smp, yang saat ini ia kuliah di unila
(universitas lampung), sebuah lembaga pendidikan ternama di lampung.
Dari 7 kata itu, ia
serasa terbangun dari tidurnya yang panjang. Keluhan kekecewaan mulai tenggelam
dari hatinya. Kini ia tak lagi berfikir sempit, “tidak juga unila, yang akan
membesarkan nama saya”. Hatinya bergumam.
Seolah
menemukan hidup baru, farhan mulai sadar bahwa nasip hidup tidak hanya
ditentukan didunia pendidikan. Apalagi harus berhenti karena tak diterima
diperguruan tinggi ternama di indonesia. Saat itu farhan sangatlah ingin kulaih
di unila (universitas lampung) sebagaiman kebanyakan temannya. Beberapa
temannya berhasil menembus tembok unila tersebut. Mereka menjadi pemenang
setelah mengalahkan 16.000 punggawa yang akan menmbus tembok tersebut. Ia
sempat merasa menjadi pecundang, baginya kegagalan adalah aib besar yang akan
mempermalukannya. Belakangan ia mengerti bahwa ia adalah pemenang dari
kompetisi terakbar didunia kompetisi yang pertama kali ia ikuti, meskipun tanpa
ia sadari. Mengalahkan berjuta-juta sel sperma yang akan menembus ovum .adalah
kemenangan yang nyata. dan hanya ia yang berhasil. Memang seperti itulah roda
kehidupan, ada yang berhasil namun ada yang mengalami kegagalan. Saat ini yang
terpenting adalah bagaimana kita dapat mengubah kegagalan kita menjadi sebuah
titik awal dari keberhasilan kita kedepan. Farhan mulai menenangkan hatinya,
ketika mengingat cerita ibu nia yang merupakan wali kelas sewaktu kelas 3 sma
dulu. Ibu nia adalah lulusan UGM (universitas gadjah mada). Sebuah universitas
terbaik di negeri ini. Namun selama 16 tahun ia hanya menjadi guru honor
disekolahnya, baru 3 bulan lalu ia diangkat menjadi pns, setelah ia kuliah
kembali di stmik pringsewu mengambil jurusan sistem informatika. Sebelumnya ibu
nia adlah lulusan dari jurusan pertanian. Ternyata keinginannya dapat tercapai
di perguruan tinggi yang belum begitu memiliki nama, sebuah kampus yang tak
cukup jauh dari tempat tinggalnya , jika dibandingkan tempat kuliah ia dulu.
Tapi yang menjadi kebanggaan tersendiri adalah mengenai keteguhan dan
kesabarannya.
Bagitulah
nasip, tiada satupun yang dapat mengira, seperti halnya ibu nia, cita-cita nya
menjadi pns dapat ia capai setelah kuliah kembali di stmik bukanlah di ugm.
Yang kala itu merupakan universitas terbaik negeri ini.
Farhan
seolah menemukan keyakinan baru. gagal di unilsa, bukanlah akhir dari
perjuangan untuk meneruskan pendidikannya, di negara ini perguruan tinggi tidak
hanya satu. Baik yang berstatus negeri maupun swasta. Dilampung ini setidaknya
ada 7 perguruan tinggi yang baik menrutnya. Sejatinya bukanlah instansi yang
akan menentukan kualitas pendidikan, tetapi kemampuan yang kita bangun dari
sebuah lembaga pendidikan. Nyatanya masih banyak orang yang tidak berhasil
yang lulus dari universitas ternama.
Begitulah hatinya kembali menenangkan. Kala itu ia tak lagi memikirkan harus
dimana ia menempuh jenjang pendidikan selanjutnya, yang terpenting farhan bisa
kembali melanjutkan pendidikannya untk menggapai cita-citanya. Orangtuanya kini
memberikan kebebasan bagi farhan untuk kuliah dimana saja, meskipun tampak
wajah keterpaksaan dari orang yang sangat dihormatiinya itu.
Ayahnya
sempat menawarkan untuk mencoba mengikuti kompetisi itu lagi ditahun depan. Itu
artinya ia harus menunggu selama 1 tahun. Tak pernah ia berfikiran untuk
menjadi pengangguran, apalagi jauh dari dunia pendidikan. tapi ia sadar, apa yang
dikatakan oleh ayahnya adalah sebuah tawaran, boleh saja ia menolak. Kuat
keinginanya untuk tetap melanjutkan pendidikannya hingga mendapat gelar
sarjana, fikirnya “lebih baik kuliah dimana aja, daripada gak sekolah”. Kini
farhan tak lagi memikirkan dimana ia harus bergelut dalam dunia pendidikan.
Baginya semua perguruan tinggi itu sama saja, tergantung bagaiman kita
menjalaninya, jika ingin berhasil.sekarng farhan siap meniti kembali mimpinya
itu sesungguhnya bukanlah universitasnya yang ia inginkan, melainkan kesuksesan
dirinya.
....................................................................................................................................................
Farhan
adalah siswa yang cukup aktif disekolahnya, tak heran jika banyak teman yang
mengaguminya, selain karena ia sering ke mushola sekolah tempat ia menimba ilmu
swaktu sma dulu. Bagi teman-temannya farhan adlah sisiwa yang memiliki rasa
empati yang tinggi, peduli terhadap teman-temannya. Dan dikenal cukup bijak
dalam segala hal. Ditengah keputus asaannya dia masih sempat menenangkan
teman-temannya yang juga mengalami nasip yang sama dengannya. Seolah tak ada
tanda-tanda kekecewaan dalam dirinya, ia memberikan suport kepada temannya itu,
terutama Indra. Siswa yang mengalami 2 kali kegagalan , seperti halnya farhan.
Belakangan farhan tau bahwa indra telah mendaftar di iain raden intan lampung,
sebuah perguruan tinggi islam. Waktu itu farhan belum memutuskan universitas
mana yang akan ia masuki, ia sempat bertanya-tanya tantang kampus stkip pgri
kepada tetangganya yang kuliah di kampus tersebut. Farhan juga membaca-baca
brosur dari teknokrat sebuah perguruan tinggi yang banyak memiliki prestasi di
kanca internasional, ia tau dari brosur tersebut. Dan brosur yang dibagikan
oleh mahasiswa dari dcc kotaagung. Sebuah kampus yang tak jauh dari sekolahnya.
Bersambung dulu guys...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar