PENERAPAN
PERMAINAN BAHASA TIPE BROKEN SQUARE
DALAM
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA
Hazizi
Jurusan Pendidikan
Bahasa Arab IAIN Raden Intan Lampung
Abstrack: Language game aims to improve reading skills of Arabic language.
Reading skills is one of four Arabic language skills that must be possessed by
student. This research is classroom action research in qualitative analysis. To
implement language game of broken square type on Arabic language subjects,
student will be motivated to practice their reading skill.
This language game of broken square type to improve
their skill reading of Arabic language.
PENDAHULUAN
Belajar bahasa Arab pada hakikatnya adalah belajar menggunakan
bahasa Arab untuk keperluan komunikasi sosial.[1] Di Indonesia, tampak dengan jelas bahwa studi dan
pembelajaran bahasa Arab masih mendua, yaitu antara berorientasi pada kemahiran
dan keilmuan. Akan tetapi, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa keduanya
perlu dimiliki oleh setiap peserta didik, walaupun memang harus berfokus pada
satu orientasi tujuan pembelajaran bahasa Arab.
Pembelajaran bahasa Arab sudah lama dilakukan di Indonesia, namun
hasilnya belum sepenuhnya maksimal. Guru sebagai salah satu pemegang utama pengajaran bahasa lebih
banyak berpaku pada buku paket dan sulit menciptakan suasan pembelajaran
kreatif, inovatif dan menyenangkan. Guru tidak memahami profesinya sebagai
pengajar bahasa Arab, tidak mengetahui prinsif-prinsif belajar bahasa, tidak menguassai desaign pembelajaran dan
teknik pengajaran, serta kurang memahami persiapan, strategi, metode, dan
pendekatan pengajaran bahasa. Problem lain yang ikut menghambat proses
pengajaran bahasa Arab adalah siswa kurang siap mengikuti pelajaran bahasa dan
kompleksitas materi bahasa Arab yang menjadikan tingkat kesulitan tinggi pada
teknik, strategi, serta metode penyampaiannya.
Selain faktor tersebut, faktor lain yang menjadi penghambat
pembelajaran bahasa Arab antara lain kurangnya pemanfaatan sarana dan prasarana
pembelajaran seperti media pembelajaran, media permainan dan lain sebagainya.
Berangkat dari permasalahan tersebut, para pakar pendidikan mengakui perlu
menggunakan media dan strategi yang menarik yang menyenangkan. Permasalahan-permasalahan
tersebut juga dialami oleh sekolah SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung, dimana hasil
belajar bahasa Arab masih kurang memuaskan.
Dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan pada saat prapenelitian
: Metode dan stretegi yang digunakan terkesan monoton dalam proses pembelajaran
bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab masih cenderung teacher centered
sehingga siswa cenderung pasif dalam pembelajaran bahasa Arab. Pembelajaran
hanya terpaku pada proses penghafalan kosa-kata yang menyebabkan pemahaman
tentang materi dirasa kurang. Guru masih kurang kreatif dan pariatif dalam
memilih metode dan strategi yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Dari
hasil pengamatan tersebut peneliti menyimpulkan, guru bidang study bahasa Arab
menggunakan metode Qowaid Wa Tarjamah, dimana proses pembelajaran masih
berpusat pada guru, tanpa ada feedback dari siswa. Mata pelajaran bahasa Arab
dilaksanan pada jam ke-7 atau setelah istirahat kedua berlangsung.
Mengenai metode pembelajaran bahasa Arab yang menyegarkan bisa
berupa dengan permainan bahasa, dengan metode tersebut maka dalam proses
pembelajaran tidak menegangkan dan lebih rileks, sukses atau tidaknya suatu
program pengajaran khususnya bahasa seringkali dinilai dari segi metode yang
digunakan, sebab metodelah yang menentukan isi dan cara mengajarkan bahasa. Berdasarkan pada kenyataan
tersebut, untuk itu
dibutuhkan metode yang inovatif dan menyenangkan diantaranya dengan metode
permainan/ permainan edukatif. Dalam kehidupan sehari-hari tamapak bahwa setiap orang laki-laki,
perempuan, anak-anak dan dewasa, semuanya menyukai permainan. Dalam bermain
seseorang merasa terlibat dan terpanggil untuk mengatasi kesulitan dan
memecahkan masalah. Melalui permainan,
pemerolehan informasi dan perubahan tingkah laku siswa terjadi secara alamiah,
tanpa tekanan dari pihak luar. Prinsif belajar sambil bermain, dan bermain
sambil belajar sejalan dengan teori pendidikan atau pemebelajaran bahasa, baik
bahasa ibu maupun bahasa kedua dan bahasa asing.
Teori yang dimaksudkan menyatakan bahwa kemampuan berbahasa
seseorang pembelajar lebih banyak diperoleh melalui proses pememrolehan yang
alami. Oleh karena itu didalam pembelajaran bahasa asing yang lazimnya
berlangsung secara formal, perlu diciptakan atau dikondisiskan suasana
informal, sehingga proses pemerolehan informasi dan kemahiran berbahasa secara
lebih alami dapat terjadi pada diri siswa. salah satu cara untuk mengkondisikan
kelas bahasa yang rileks dan informal adalah dengan strategi permainan bahasa.
Dari
teori tersebut peneliti tertarik bahwa penggunaan strategi permainan bahasa
dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa yang secara alamiah dapat di terima.
Unsur edukatif lainnya dalam permainan adalah keseimbangan.
Keseimbangan permainan tergantung pada
maksud dan tujuan dari pembuatan atau penciptaan permainan itu sendiri. Kunci
utama suatu permainan dapat dikatakan edukatif adalah apabila permainan itu
memiliki nilai guna, efektifitas, dan efisiensi yang mengarahkan proses
mendidik secara positif.
Kelebihan dari permainan
ini adalah sebagai berikut:
1.
Permainan bahasa merupakan
salah satu media pembelajaran yang berkadar CBSA tinggi.
2.
Dapat mengurangi kebosanan
siswa dalam preoses pembelajaran.
3.
Dengan adanya kompetisi
antar siswa, dapat menumbuhkan semangat siswa untuk lebih maju.
4.
Permainan bahasa dapat
membina hubungan kelompok dan mengembangkan kompetensi sosial siswa.
5.
Materi dikomunikasikan
dapat meninggalkan kesan di hati siswa sehingga pengalaman keterampilan yang
dilatih terekam lama dalam memory siswa.
Jadi kelebihan dari permainan ini adalah membangkitkan motivasi
siswa dalam belajar, selain itu siswa dapat lebih aktif karena yang dilakukan
siswa bukan hanya mengucapkan mufrodat akan tetapi melibatkan anggota tubuh,
sehingga materi yang dipelajari oleh siswa lebih mengesankan dan terekam dalam
memory siswa.
Pada
penelitian ini peneliti akan menggunakan strategi permainan tipe broken
square untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas VIII D di SMP
Muhammadiyah 1 Kotaagung.
Tujuan utama permainan bahasa bukan semata-mata untuk memperoleh
kesenangan, tetapi untuk belajar keterampilan berbahasa atau unsur bahasa
tertentu. Latihan keterampilan berbahasa sangat vital bagi peserta didik untuk
meningkatkan kompetensi dalam mengekspresikan bahan ajar/materi, serta latihan
ini sangat membantu mereka dalam
mengaktualisasikannya. Realisasi latihan keterampilan ini lebih populer dengan
istilah al-maharat al-arba’ (empat keterampilan berbahasa)[2].
Keempat keterampilan ini yakni mendengar, berbicara, membaca dan menulis.
Membaca adalah salah satu faktor yang sangat urgen di dalam membina kepribadian
seseorang. Dengan membaca secara otomatis seseorang mendapatkan pengetahuan dan
pengalaman.
Membaca merupakan materi terpenting di antara materi-materi
pelajaran. Siswa yang unggul dalam pelajaran membaca mereka unggul dalam
pelajaran yang lain pada semua jenjang pendidikan. Begitu juga siswa tidak akan
bisa unggul dalam materi manapun dari materi-materi pelajaran kecuali jika
siswa mempunyai keterampilan membaca yang baik. [3]
Berikut
ini beberapa kompetensi dasar dalam kegiatan membaca bahasa Arab yang dapat di
integrasikan, yaitu:
1. Membaca dengan lancar, cermat dan tepat, dan
lain-lain.
2. Menentukan arti kosa-kata dalam konteks kalimat
tertentu
3. Menemukan fakta tersurat dalam teks.
4. Menemukan makna tersirat dalam teks
5. Menemukan ide pokok dalam paragraf
6. Menemukan ide penunjang dalam paragraf
7. Menghubugkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan
8. Menyimpulkan ide pokok bacaan
9. Menangkap pesan sebuah bacaan dengan tepat
10. Mengomentari dan mengkritisi bacaan.[4]
Untuk
jenjang pendidikan madratsah tsanawiyah, jenis membaca (qiroah) yang diajarkan adalah membaca nyaring (Qiroah
Jahriyah). Membaca Nyaring (Al-Qiroah alJahriyah) adalah jenis
bacaan yang di ekspresikan siswa dengan suara keras (tinggi)
Dalam
kegiatan membaca keras ini, yang terutama ditekankan adalah kemampuan membaca
dengan ketepatan bunyi bahasa Arab, baik dari segi makhraj maupun
sifat-sifat bunyi yang lain, irama yang tepat dan ekspresi yang menggambarkan
perasaan penulis, lancar tidak tersendat-sendat dan terulang-ulang,
memperhatikan tanda baca (علامة التّرقيم).
Adapun indikator yang harus diperhatikan adalah:
1.
Fasih
pengucapan Makharijul Huruf
2.
Alunan
suara yang bermacam-macam sesuai dengan huruf, kata dan kalimatnya. Pembaca dapat
melahirkan perasaan yang sesuai, seperti gembira, susah atau bangga, atau
rendah hati
3.
Volume
suara sedang, antara cepat dan lambat, antara suara tinggi dan rendah.
4.
Lancar
membacanya, tidak terulang-ulang menyebutkan katadan memotong kata-kata dapat merusak
arti
5.
Memperhatikan
panjang pendeknya dan tanda baca yang benar[5].
Sedangkan tujuan pembelajaran membaca untuk madrassah tsanawiyah
adalah Menemukan ide pkokok dan ide penunjang serta Menceritakan kembali
berbagai jenis isi bancaan.
Pada
penelitian ini peneliti menekankan pada peningkatan keterampilan membaca
nyaring (Qiroah Jahriyah)
Berdasarkan permasalahan
di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah: Untuk mengetahui peningkatkan kemampuan membaca siswa kelas VIII D SMP
Muhammadiyah 1 Kotaagung melalui
permainan bahasa tipe broken square.
METODE PNELITIAN
Penelitian ini
menggunakan penelitian tindakan kelas yaitu penelitian yang diarahkan pada
mengadakan pemecahan masalah atau
perbaikan. Burns (1999) dalam buku langkah
mudah penelitian tindakan kelas sebagai pengembangan profesi guru
mendefinisikan penelitian tindakan merupakan penerapan penemuan fakta pada
pemecahan masalah dalam situasi sosial dengan pandangan untuk meningkatkan
kualitas tindakan yang dilakukan didalmnya, yang melibatkan kolaborasi dan
kerjasama para peneliti, praktisi, dan orang awam.[6]
Penelitian Tindakan Kelas, yaitu penelitian tindakan yang di lakukan
dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Dalam penelitian
tindakan kelas jenis kolaboratif ini penulis bekerjasama dengan pendidik Bahasa
Arab di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah
1 Kotaagung Tanggamus dimana penulis berperan sebagai peneliti dan pendidik
bahasa Arab berperan sebagai pengamat. Hal ini dimaksudkan agar pendidik dapat
terlibat secara aktif dan partisipasif dalam penelitian sehingga pendidik tidak
hanya menjadi objek penelitian tetapi juga dapat menghayati masalah yang
diteliti kemudian mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam memecahkan
masalah kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat
keberhasilan pembelajaran.
Prosedur penelitian
Prosedur
kerja dalam penelitian ini merupakan siklus kegiatan yang terdiri dari 2
siklus. Masing-masing siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan
refleksi yang di sajikan pada gambar berikut:
Spiral Penelitian Tindakan Kelas
Teknik Pengumpulan Data
Observasi
Dalam
penelitian ini, penulis menggunakan jenis observasi partisipatif. Untuk
melakukan observasi pasrtisipatif seseorang peneliti harus berperan serta dalam
kegiatan-kegiatan atau aktifitas-aktifitas subjek yang sesuai dengan tema atau
fokus masalah yang ingin dicari jawabannya. Observasi ini dilakukan untuk
memperoleh data mengenai proses Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca di SMP Muhammadiyah
Kotaagung Siswa Kelas VIII D Tahun
Pelajaran 2015/2016”
Wawancara
Peneliti menggunakan interview bebas-terpimpin,
yaitu pewawancara menggunakan panduan atau pedoman wawancara secara garis besar
dan terwawancara dipersilahkan untuk menjawab atau memberikan tanggapan dengan
bebas namun sesuai dengan pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Metode ini
digunakan untuk mendapatkan informasi dari terwawancara (guru bahasa Arab dan
Kepala Sekolah) tentang Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca di SMP Muhammadiyah Kotaagung
Siswa Kelas VIII D Tahun Pelajaran 2015/2016”
Tes
Tes dapat diartikan
sebagai teknik atau instrumen pengukuran dan menggunakan serangkaian pertanyaan
yang harus dijawab, atau tugas yang harus dilakukan secara sengaja dan suatu
kondisi yang di rancang secara khusus untuk mengetahui potensi, kemampuan dan
keterampilan peserta didik sehingga menghasilkan data atau skor yang dapat di
interpretasikan.[7] Metode
ini digunakan oleh peneliti untuk mengetahui kemampuan siswa Kelas VIII SMP N 1
Kotaagung Kabupaten Tanggamus dalam keterampilan membaca.
Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah catatan yang di buat
oleh observer atau peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi terhadap
subjek atau objek penelitian tindakan kelas”.[8]
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data
yang berkenaan dengan kegiatan peserta didik selama proses belajar, serta
prasarana yang menunjang proses belajar mengajar, contohnya dokumen yang bisa
di kaji dapat berupa: daftar hadir, silabus, arsip, dan lembar kerja, sejarah
berdirinya, visi dan misi, keadaan pendidik, keadaan peserta didik. Catatan
lapangan digunakan untuk memperoleh data secara objektif yang tidak teramati
pada lembar observasi, yang mencatat hal–hal yang terjadi selama proses
pembelajaran catatan ini dapat berupa perilaku siswa atau berbagai hasil
pengamatan tentang aspek pembelajaran di kelas, pengelolaan kelas, suasana
kelas, interaksi guru dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa dan beberapa
aspek lainnya. Pada penelitian ini peneliti menyiapkan catatan kecil untuk menuliskan hal-hal yang terjadi
dalam pelaksanan penelitian.
Teknik Analisis Data
Menganalisis di dalam penelitian merupakan
tahap terakhir dan merupakan tahap pengambilan kesimpulan untuk suatu
penelitian oleh karena itu, dibutuhkan metode analisa data yang memberikan
gambaran yang lebih tepat terhadap analisa yang dilakukan. Kemudian setelah
data terkumpul melalui alat pengumpulan data maka perlu dianalisis guna
memperoleh kesimpulan yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis
adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a.
Reduksi
data adalah proses memilih, menyederhanakan, menfokuskan, dan mengubah data
kasar kedalam catatan lapangan. Setelah peneliti memasuki setting sekolah
sebagai tempat penelitian maka dalam mereduksi data peneliti akan menfokuskan
pada murid-murid yang memiliki kecerdasan tinggi dengan mengategorikan pada
aspek, gaya belajar, prilaku sosial,
interaksi dengan keluarga, dan perilaku dikelas.
Mereduksi
data berarti merangkum, peneliti memilih hal-hal yang pokok pada waktu observasi
dan memfokuskan pada hal-hal yang penting mengenai kemampuan membaca siswa
kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung Tanggamus. Dengan demikian data yang
telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah
peneliti untuk melakukan pengumpulan kemampuan membaca selanjutnya, dan
mencarinya apabila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan peralatan,
seperti komputer, notebook, dan lain sebagainya
b.
Setelah
data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Proses ini
dilakukan untuk mempermudah penulis dalam mengkonstruksi data kedalam sebuah
gambaran sosial yang utuh, selain itu untuk memeriksa sejauh mana kelengkapan
data yang tersedia. Pada tes yang dilakukan Peneliti pada saat prasurvey, dan dari dokumentasi guru bidang study,
menunjukkan bahwa hasil kemampuan membaca siswa kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1
Kotaagung masih terbilang rendah. dari 36 siswa hanya 28% yang mendapat nilai
di atas keriteria ketuntatasan minimum (KKM). Penguasaan kemammpuan membaca siswa
kelas VIII D di SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung akan mencapai tingkat ketuntasan
99% dengan adanya permainan aksi kata dan didukung oleh tenaga pengajar yang
berpengalaman dan berkompeten
Verivikasi
data atau penyimpulan data adalah penjelasan tentang makna-makna data dalam
suatu konfigurasi yang secara jelas menunjukkan alur kuasalnya, sehingga dapat
diajukan proposisi-proposisi yang terkait dengannya. Setelah penulis memperoleh
data melalui teknik pengumpulan data dari proses penelitian, maka langkah selanjutnya
penulis menganalisa data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan ini berisi tentang uraian dan penjelasan mengenai hasil
penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti bekerja sama antara
peneliti dengan pendidik bahasa Arab kelas VIII d (Bapak Cepi Tafsir Alami,
S.Ag) dan hal-hal yang dibahas dalam pembahasan adalah suatu yang berkaitan
dengan penelitian.
Tindakan yang dilakukan pendidik
menggunakan strategi pembelajaran permainan bahasatipe Broken Square.
Dimana pembelajaran ini menekankan kepada siswa untuk bekerja sama, dan
kekompakan peserta didik ternyata dapat membantu pendidik dalam memperbaiki
respon peserta didik terhadap pelajaran bahasa Arab. Tindakan ini dilakukan
dengan dua siklus yang memerlukan 4 kali pertemuan, pembelajaran ini telah di
terapkan di kelas VIII D.
Respon peserta didik terhadap pembelajaran bahasa Arab dalam
penelitian ini dibatasi oleh beberapa indikator yang telah bersama-sama
disepakati antara pendidik dengan peneliti.
Dalam pelaksanaan penelitian setiap siklus mengalami peningkatan
baik respon maupun hasil belajar penguasaan kosakata bahasa Arab yaitu siklus I
respon mencapai 56 % (baik) dan Siklus II
respon 81% (baik).
Untuk
ketuntasan belajar setelah di adakan tes atau evaluasi di lakukan 2 kali yaitu
pada akhir siklus I dan II. Pada akhir pertemuan kedua pada setiap siklus
dilakukan tes, adapun hasil yang diperoleh bahwa peserta didik yang mencapai
indikator pada siklus I adalah 18 peserta didik, sehingga dapat diketahui : F (
peserta didik yang tuntas belajarnya ) = 14 dan N ( jumlah peserta didik ) = 32
sehingga;
|
|
Hasil keterampilan berbicara pada siklus I yang tuntas belajarnya
yaitu 10 orang
( 56,25 % ) memenuhi KKM dari peserta didik, dan yang belum tuntas
adalah 9 orang ( 43,75 % ).
Penilaian Rata – rata Nilai Keterampilan membaca Siklus I
|
|
Perubahan respon
peserta didik dapat di sajikan dalam bagan yaitu:

Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini tindak belajar
dikatakan berhasil karena persentase kelulusan siswa dalam 2 siklus melebihi
75%. Peserta didik yang mendapat nilai sebesar 70 atau melebihi 70 pada siklus
I sebanyak 18 peserta didik dari 32 peserta didik (56 %) , pada siklus II
sebanyak 26 peserta didik dari 32 peserta didik (81%).
Peneliti menyimpulkan bahwa setelah penerapan pembelajaran dengan
Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square pada peserta didik kelas VIII D
SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung Kabupaten Tanggamus dapat meningkatkan kemampuan
membaca bahasa Arab karena telah diperoleh respon dan test yang menunjukan
hasil yang sangat baik.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dan hasil analisis data
membuktikan bahwa Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square pada Kelas VIII D SMP
Muhammadiyah 1 Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Menurut
hipotesis tindakan bahwa melalui Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square dapat meningkatkan keterampilan
membaca bahasa Arab kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, dan
penelitian ini menjawab atas hipotesis tersebut.
Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yaitu pembelajaran
bahasa Arab sebelum menggunakan Permainan Bahasa Tipe Broken Square (Pra
Tindakan). Dilihat dari hasil perolehan nilai peserta didik kelas VIII D
SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung persentasenya adalah 31% untuk yang Lulus atau di
atas Kriteria Ketuntasan Mengajar (KKM), terdapat 10 orang peserta didik yang
mencapai ketuntasan dari 32 peserta didik. Sedangkan yang belum tuntas mencapai
22 orang peserta didik dengan presentase 61 %. Pada siklus I dilihat hasil
rata-rata hasil tes peserta didik adalah 69,78. Peserta didik yang mencapai
ketuntasan 18 orang dengan presentase 56,25 %. Sedangkan peserta didik yang
belum tuntas mencapai 14 orang dengan presentase 43,75 %, siklus I ketuntasan
meningkat 25,25 %. Pada siklus II dilihat dari rata-rata hasil tes peserta
didik adalah 72,34. Peserta didik yang mencapai ketuntasan 26 orang dengan
presentase 81,25 %, sedangkan peserta didik yang belum tuntas mencapai
ketuntasan 6 orang dengan presentase 19,25 %, pada siklus II ketuntasan
meningkat 50,25 % dari data awal.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan Permainan
Bahasa Tipe Broken Square dapat meningkatkan keterampilan membaca bahasa Arab
peserta didik kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung Kabupaten Tanggamus.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square dalam meningkatkan keterampilan
membaca bahasa Arab peserta didik kelas VIII VIII D SMP Muhammadiyah 1
Kotaagung Kabupaten Tanggamus. Maka dapat diajukan saran – saran dan diharapkan
dapat menjadi bahan pertimbangan bagi beberapa pihak :
1. Bagi Kepala Sekolah
Agar
hasil penelitian dijadikan pedoman oleh lembaga pendidikan untuk selalu
meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik, sebab untuk mencapai
hasil belajar peserta didik secara maksimal perlu adanya motivasi yang tinggi
dari peserta didik itu sendiri.
2.
Bagi Guru bahasa Arab
Agar guru melanjutkan penggunaan Permainan Bahasa
Tipe Broken
Square dalam keterampilan berbicara dan melakukan
perbaikan – perbaikan untuk mengoptimalkan penggunaan ermainan Bahasa Tipe
Broken Square pada keterampilan membaca.
3. Bagi Peserta Didik
Agar peserta didik bersemangat dalam belajar
sehingga hasil belajar dapat maksimal
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2008
Erlina. Pembelajaran
Qiroah Inovatif, Lampung: Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan IAIN Raden Intan
Lampung, 2014
Fathul Mujib
Nailur Rahmawati, Metode Permainan-permainan Edukatif dalam belajar bahasa
Arab, Jakarta: DIVA PRESS, 2011
Hasan Saefuloh,
Al’ab Lughawiyyah Teknik Pembelajaran Bahasa Arab yang Menyenangkan, Yogyakarta: Basan
Publishing , 2010
Imam
Asrori, dkk, Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab, Malang: MISYKAT
2006
Imam Asrori. Strategi
Belajar Bahasa Arab Teori dan Praktek. Malang: Misykat, 2011
Kunandar, Langkah
Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Jakarta:
Rajawali Pres, 2011
Mahmud
Yunus, Metodik Khusus Bahasa Arab Jakarta: PT. Hida Karya Agung, 1990
Muhammad Ali
Al_Khuli, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: BASAN, 2010
Najmuddin
Abdur Rauf, Bahasa Arab Super
Lengkap, Yogyakarta: Familia, 2011
Radliyah Zaenuddin, Metodelogi dan strategi alternatif
Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005
Suharsimi
Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarata: Rineka
Cipta, 2010
Syaiful
Mustofa, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif, Malang: UIN MALIKI
PRESS, 2011
Ulin Nuha, Metodelogi
Super Efektif Pembelajaran Bahasa Arab, Jogjakarta: DIVA Press, 2012
Undang-Undang
SISDIKNAS (Sistem pendidikan Nasional UU
RI No 20 Tahun 2003, Jakarta: Sinar Grafika, 2009
Zulhanan, Teknik
Pembelajaran Bahasa Arab Interaktif,
(Jakarta: Rajwali Press, 2014)
[1]Imam Asrori. Strategi
Belajar Bahasa Arab Teori dan Praktek. (Malang: Misykat, 2011), h. 3
[2] Zulhannan, Teknik
Pembelajaran Bahasa Arab Interaktif, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2014), h. 91
[3]Bisri Mustofa
dan Abdul Hamid, Metode dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang:
UIN MALIKI PRESS, 2012), h. 5
[4] Imam Asrori,
dkk, Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab, ( Malang: MISYKAT
2006), h. 131
[5] Erlina. Pembelajaran
Qiroah Inovatif, (Lampung: Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan IAIN Raden Intan
Lampung, 2014), h16-17
[6]Kunandar, Langkah
Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru,
(Jakarta: Rajawali Pres, 2011), h. 44
[7] Shodiq
Abdullah, Evaluasi Pembelajaran Konsep Dasar Teori dan Aplikasi, (Semarang:
Pustaka Rizki Putra, 2012), h. 43
[8] Kunandar, op.cit., h. 197

