“MANGGIS BUAH MAGIS”
Karya
Sastra Ke IV
Dikarang
Oleh Hazizi Ibn Khaliq
Alkisah
disebuah kerajaan, hiduplah seorang raja dengan seorang permaisurinya yang
cantik. Sebuah kerajaan yang makmur dan memiliki tanah yang subur. dikerajaan
itu tumbuh buah-buahan yang kecil dan manis. Seluruh rakyat kerajaan
menyukainya. Selain itu, rakyat juga sangat mencintai rajanya. Raja yang arif
dan memiliki wibawa. Tak sedikit masalah rakyat, yang diselesaikan olehnya.
Namun
sesuatu terjadi pada kerajaan. Permaisuri mengalami penyakit yang aneh.
Penyakit ini tak diketahui obatnya. Berbagai tabib telah berusaha mengobatinya,
namun tak berhasil.
Hingga
berita sakitnya permaisuri tersebar keseluruh rakyat kerajaan. Mendengar kabar
itu, rakyat berbondong-bondong untuk melihat permaisuri.tak sedikit juga yang
menawarkan diri untuk mengobatinya. Namun tak ada hasil. Permaisuri tetap saja
sakit dan semakin terkulai lemas.
Seluruh rakyat kerajaan sedih atas musibah yang menimpa kerajaan. Dulu
banyak senyum dan tertawa yang terlihat, tapi
sekarang hanya ada wajah kesedihan dari rakyat. termasuk jaka, yang juga
merasakannya. Jaka merasa ada perubahan dalam kehidupan kerajaan, dahulu penuh
kegembiraan dan sekarang hanya ada kesedihan. Jaka adalah pemuda kampung yang
lugu dan polos. Ia tinggal dipangkalan sungai kerajaan. Ia sangat mengagumi
sosok sang raja yang bijaksana.
Hingga
akhirnya datang seorang tabib yang tingal diperbatasan kerajaan menghadap raja dan
meminta untuk melihat permaisuri yang sedang sakit itu. Dengan kearifannya, sang
raja mengizinkan. tabib itu mengamati kulit permaisuri dan dahinya. Ia melihat
kalau kulit permaisuri memudar dan tampak tua dari umurnya. . Ia kemudian
memberitahu raja, obat dari penyakit permaisuri.
Penyakit
yang dialami permaisuri hanya bisa disembuhkan dengan memakan sebuah manggis.
Buah itu besar dan rasanya sangat manis. Konon buah manggis itu cukup sulit
untuk didapatkan, buah itu terdapat jauh dari kerajaan. Tak seorangpun dari
kerajaan itu yang tau bentuk dari buah itu. Nama buah itu saja sangat asing
ditelina mereka, termasuk juga raja.
Tabib
itu menegaskan. Kalau buah itu tidak berbuah setiap tahunnya, ada
waktu-waktunya, dan tak akan ada orang yang mengira. Selain langka, buah
manggis adalah buah yang aneh dan memiliki keunikan. Bahkan tabib itu tanpa
ragu mengatakan kalau buah itu adalah buah ajaib.
Setelah
memberi penjelasan tentang buah itu, tabib langsung pulang. Sebelum pulang Ia
itu berpesan kepada raja, bahwa siapa saja yang dapat menemukan buah itu,
mereka harus terlebih dahulu menemuinya, karena hanya dia yang tau dengan buah
itu. Raja kemudian mengamininya.
Raja
kebingungan menemukan cara untuk mendapatkannya. Masalahnya adalah ia tidak tau
tempat dimana buah itu biasa tumbuh, dan ia juga tidak tau kapan pohon manggis
itu berbuah. namun buah itu harus ditemukan, untuk menyembuhkan permaisuri yang
sangat dicintainya itu.
Akhirnya
raja mengumumkan kepada rakyatnya. Bagi siapa saja yang dapat menemukan sebuah
manggis akan diberikan hadiah dan dijadikan keluarga kerajaan.
Berita
ini sampai ketelinga jaka. Ia tak menyangka, kalau penyakit permaisuri sudah
ditemukan obatnya.
“Apapun
obatnya, aku akan mencarinya, demi kerajaan”. Fikir jaka. Ia kemudian menghadap
kekerajaan dan menemui raja. dihadapan raja, jaka meminta izin untuk mencari
buah manggis yang diinginkan sang raja. Raja menyambut baik niat jaka. Dan sang
rajapun mengizinkan.
Sebelumnya
ada tiga orang pemuda yang menawarkan diri untuk mencari buah tersebut. Mereka
adalah halim, sahil, dan pandi. Mereka memiliki keahlian dan kemampuan
masing-masing,
Sebelum
berangkat raja meminta mereka berempat untuk menghadap. Raja menegaskan bahwa
pemuda yang pertama kali mambawa buah manggis kehadan raja, dia adalah pemenang.
dia juga
berhak menerima hadiah dan dianggap sebagai keluarga kerajaan. Ungkap raja
kepada keempat pemuda itu.
Raja
juga mangatakan, sebelum menghadap kekerajaan, mereka harus menunjukkan
terlebih dahulu buah yang mereka bawa kepada tabib yang tinggal diperbatasan
kerajaan.
Kemudian
raja bertanya kepada keempat pemuda perihal keahliannya.
Pemuda pertama
mengatakan “ aku adalah pemuda yang berani, aku juga pengendali kuda yang
handal. Aku mampu mengacu kuda dengan cepat”, begitu pemuda itu meyakinkan
raja.
Pemuda
kedua juga bercakap “ aku adalah pemuda yang kuat, aku mampu memanjat
pohon-pohon besar dan tinggi, kalau buah itu berpohon besar, maka aku mampu
mamanjatnya.
Pemuda
ketiga juga tak kalah meyakinkan raja. “ wahai raja, aku adalah pemuda yang
cerdik dan pintar, aku akan mendapatkan buah itu untuk permaisuri.
Dan
terakhir raja bertanya kepada jaka.. “apa keahlian mu jaka..?”
Jaka
menjawab dengan polosnya.. “wahai raja, aku adalah pemuda kampung yang tak
memiliki apa-apa, aku tak begitu pintar, dan aku juga tak begitu kuat, tapi aku
akan berusaha, mendapatkan buah manggis itu”. Begitulah jaka bergumam kepada
sang raja.
Akhirnya
mereka berempat berangkat keberbagai penjuru arah untuk mencari buah manggis.
Halim
dengan pacuan kudanya yang kencang pergi kearah utara, diikuti dengan sahil
pergi kearah selatan, dan pandi pergi kearah timur. Sedangkan jaka pergi kearah
barat.
Dalam
perjalanannya kearah utara, pemuda pertama melihat buah yang cukup unik
menurutnya. Buahnya besar, buah itu juga tergeletak ditanah, tidak seperti yang
ia bayangkan. Buah itu tak lain adalah buah semangka. Ia berfikir kalau buah
itu adalah buah manggis. Selain karena buahnya besar ia juga beranggapan
biasanya kalau buah yang besar pohonnya juga besar dan tinggi, dan harusnya
bergantungan. Tidak seperti yang ia temukan, pohonnya memiliki sulur yang
merayap dan buahnya pun besar, isinya merah, dan rasanya manis. Ia sangat yakin
kalau itu adalah buah manggis, terlebih lagi perjalanannya sudah cukup jauh
dari kerajaan nya. Tidak sulit untuk mendpatkan buah itu, ia hanya diminta
menukarkan buah itu dengan kudanya oleh sipemilik buah.
Pemuda
kedua yang pergi kearah selatan menemukan pohon kelapa. Karena tak menemukan
buah lagi selain buah kelapa. Ia pun beranggapan kalau buah itu adalah buah manggis.
Ia melihat keunikan dari buah ini. Pohon dari buah ini tidak memiliki dahan dan
ranting., dan buahnya memiliki air yang banyak didalamnya, yang mampu membasuh
muka. Tak pernah ia melihat buah seperti itu dinegrinya. Untuk memperolehnya ia
hanya diminta untuk memanjat dan mengambilnya oleh pemilik buah tersebut. Dan
kemudian membagi hasil panjatannya.
Pemuda
ketiga adalah pemuda yang licik dan cerdik. Dalam perjalanannya kearah timur,
ia tak menemukan satu pohon buah pun. Ia kemudian pergi kepasar dinegri timur
tersebut, dan mencuri satu buah yang menurutnya itu adalah buah manggis, karena
ukurannya yang besar. Padahal yang diambilnya adalah buah melon.
Jaka
yang pergi kearah barat cukup menikmati perjalannanya mencari buah mangis.
Bukan sedikit pohon buah yang ia temui, namun ia harus berhati-hati memilih
buah manggis. Konon katanya kalau buah manggis itu adalah buah yang besar, unik
dan ajaib.
Rintangan
demi rintangan Ia lalui untuk mendapatkan buah itu, kelaparan dan kedinginan adalah
hal yang biasa baginya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan kakek tua.
Kakek
tua itu tinggal dikaki gunung dan ia memiliki banyak pohon buah. Sejenak jaka
memperhatikan buahnya, tak ada keunikan pada buah itu, ukuran buahnya standar
tak begitu besar, sama seperti buah yang ada dinegrinya.
Jaka tak
menyangka, kakek mengawali perbincangan.. “apa yang engkau inginkan disini,
nak. Sepertinya kamu juga bukan pemuda daerah sini.?”.. dengan rasa hormat jaka
menjawab “kakek, aku adalah pemuda yang tinggal di negeri yang jauh dari sini,
aku hendak mencari buah manggis, sebagai obat untuk permaisuri raja kami.
jaka
kemudian menjelaskan keadaan permaisuri dan kerajaan.
Dengan
cermat kakek mendengarkan keluhan jaka. Kakek kemudian mengataan “buah yang kau
lihat ini adalah buah mangis..”
Jaka
terkejut dengan apa yang dikatakan kakek, ia tak percaya kalau yang ia lihat
itu adalah buah manggis.
“bukankah
buah manggis itu, adalah buah yang besar”, Tanya jaka kepada kakek. Kakek
menjelaskan “memang benar, buah manggis adalah buah yang besar, namun yang dimaksud
oleh banyak orang bukanlah ukurannya melainkan khasiatnya. Buah manggis
memiliki khasiat yang besar”.
Dengan
penjelasan kakek, jaka menjadi faham akan keunikan dan keajaiban dari buah
manggis. jaka kemudian meminta izin kepada kakek untuk mengambilnya. Namun
kakek tidak mengizinkannya begitu saja. kakek meminta jaka untuk memberikan sesuatu
sebagai gantinya. Jaka kebigungan untuk mewujudkan keinginan kakek. Ia tak
memiliki apapun dan ia juga tidak pandai membuat barang, sekedar hanya untuk
kenang-kenangan.
Ia
kemudian teringat dengan sebuah kincir air miliknya didesa, ia kemudian
membuatkan kincir air buat kakek, sebagai syarat untuk mengambil buah manggis
itu. Akhirnya kakek mengizinkan jaka untuk mengambil buah manggis. Sebelum
berangkat pulang, kakek bercerita kepada jaka, bahwa buah manggis itu memiliki
isi yang manis, dan jumlah isinya tidak menentu. Namun jumlah isinya bisa
ditebak dengan meihat mata isi yang ada dibagian bawah kulit manggis. Jaka
kemudian mengamati buah yang ia ambil. Ia hanya membawa satu, sesuai permintaan
raja, sebuah manggis.
Tak
menungu waktu lama, jaka pulang ke negrinya untuk menghadap raja. Ia sangat
senang dapat menemukan buah manggis.
Sebelum
menghadap sang raja, keempat pemuda harus menemui tabib, untuk menanyakan
apakah buah yang mereka bawa, benar-benar buah manggis atau bukan.
Pemuda
pertama sampai terlebih dahulu, ia kemudian menghadap tabib dan menunjukkan
buah bawaannya. tabib menjelaskan bahwa yang ia bawa adalah buah semangka bukan
buah manggis.
Karena
salah membawa buah akhirnya pemuda pertama sembunyi dibalik semak-semak untuk
menunggu kedatangan pemuda selanjutnya. Tibalah pemuda kedua, ia menghadap dan
menunjukkan buahnya, ternyata yang ia bawa adalah buah kelapa, bukan buah
manggis, dan ia kemudian bersembunyi di semak-semak, untuk menunggu pemuda yang
lain datang.
Tak
berapa lama, datanglah pemuda ketiga, namun yang dibawa pemuda ketiga juga salah,
ia membawa buah melon. Ternyata ia juga melakukan hal yang sama seperti pemuda
sebelumnya, bersembunyi disemak-semak tak jauh dari rumah tabib itu, untuk
menunggu kedatangan pemuda selanjutnya.
Mereka
berniat untuk mencuri buah manggis yang sebenarnya, dan menyerahkan buah itu
atas namanaya kepada raja.
Dan terakhir
datanglah jaka dengan membawa buahnya. Kemudian tabib itu membenarkan buah
milik jaka. Jaka sudah menduga kalau buah yang ia bawa adalah buah manggis.
Pemuda ketiga yang mendengar kebenaran buah jaka, dengan liciknya menipu jaka,
hinga jaka kehilangan buahnya sebelum sampai kepada raja.
Kemudian
pemuda kedua memintanya dengan paksa dari pemuda ketiga. Pemuda ketiga takut
dan menyerahkan buahnya kepada pemuda kedua.
pemuda
pertama mengetahui kalau buah itu sudah ditangan pemuda kedua, ia bergegas menghadap
raja dan mengarang cerita, kalau buah miliknya telah dirampas oleh pemuda
kedua, ia juga meyakinkan raja kalau ia tak mampu melawan karena pemuda kedua
adalah pemuda yang kuat.
Raja
yang mendengar cerita itu, kemudian memanggil keempat pemuda dan berniat
menyelesaikan masalahnya. Dihadapan sang raja keempat pemuda ini mengaku bahwa
merekalah yang berhasil mendapatkannya. Saat ini buah itu sudah ditangan raja,
namun raja masih bingung memutuskan, siapa yang sebenarnya pembawa buah manggis
itu.
Pemuda
pertama berkata kepada raja “ wahai raja, engkau adalah raja yang arif dan
bijaksana, engkau pasti mengetahui siapa yang benar”..
Raja
kemudian menguji keempat pemuda ini. Raja meminta mereka untuk menceritakan
bagaimana mereka mendapatkannya, dan bagaimana bentuk isinya.
Pemuda
pertama memulai…”aku pergi kearah utara, disana adalah tempat yang subur,
banyak tumbuhan langka dan besar disana, tidak seperti disini. Untuk sampai
disana, kita harus sekuat tenaga mengayunkan pedang untuk menebas rumput
sebagai jalan. Disana saya menemukan buah manggis itu. Pohon dari buah itu
tidak seperti yang lainnya. Ia memiliki pohon menjulur ketanah dan panjang
seperti pohon rotan. Bayangkan saja, untuk mendapatkan satu buah saja, kita harus
menapaki sulur yang panjang dulu. Sulur itu dapat ditempuh satu bulan berjalan
kaki. Dan dengan kecepatan kuda ku, aku hanya dapat menapakinya dengan waktu 3
hari saja. Sebelum akhirnya kudaku mati karena kelelahan. dan isi dari buah ini
berwarna merah dan rasanya manis. Begitulah pemuda pertama mengarang cerita.
Pemuda
kedua kemudian bercerita “raja, aku pergi kearah selatan, disana aku menemukan
pohon yang besar dan tinggi-tinggi, tidak seperti disini. Aku mengambil buah
itu dari sebuah pohon. Pohon itu besar dan tinggi. Pohon itu juga tak memiliki
dahan dan ranting seperti biasanya. Kebesaran pohon itu dapat meneduhi satu
kampung disana. Dan untuk memanjatnya, orang biasa butuh waktu sebulan
untuk dapat mengambil buahnya. Dengan
kekuatan dan kelihaianku, aku hanya butuh waktu 3 hari memperolehnya. Dan buah
ini memiliki air yang banyak, yang mampu membasuh muka, tidak seperti buah yang
kita temukan disini. Dengan tegas pemuda kedua bercerita.
Dilanjutkan
dengan pemuda ketiga “wahai raja yang bijaksana, sesungguhnya aku telah
dizalimi oleh mereka, mereka mengambil buah itu dariku, aku berkelana kearah
timur untuk mencari buah manggis. Disana sungguh gersang tak ada tumbuhan
sedikitpun. Konon tumbuhan disana habis dimakan seekor binatang yang besar.
binatang itu mampu mamakan tumbuhan seluas kampung dalam setiap harinya.
Sesungguhnya buah manggis itu adalah telur dari binatang itu. Sebagaimana bentuk telur, isi dari buah
ini berwarna kuning dan rasanya pun manis, layaknya buah-buahan. Begitulah
pemuda ketiga bercerita kepada raja.
Dan
tibalah giliran jaka bercerita “wahai raja, aku mengembara kearah barat,
semata-mata mencari buah manggis. Lapar dan kedinginan sudah tak perlu aku
ceritakan, diujung barat ditengah hutan aku mendapati puluhan pohon manggis
milik kakek tua, aku sendiri ragu dengan buah itu. Pasalnya, buah manggis
adalah buah besar, sedangkan yang kulihat adalah buah yang tak begitu besar,
tak jauh berbeda dengan buah yang ada dinegeri ini. Namun yang dikatakan besar bukanlah
ukurannya, tapi khasiatnya. Buah ini berkhasiat besar, dan dapat menjadi obat.
Aku membuatkan kakek itu kincir air sebagai tukarnya. Wahai raja isi dari buah
manggis ini, adalah putih, bukan merah atau kuning, juga tidak memiliki air
yang banyak yang mampu mencuci muka seperti apa yang diceritakan pemuda kedua.
Aku juga
dapat menebak isi dari buah itu. Pinta jaka kepada raja. Sepintas ketiga pemuda
itu bertatapan, dan kecemasan pun mulai menyelimuti.
“berapa
isi dari buah ini?” Tanya raja. Dengan tegas jaka menjawab “enam. Manggis ini
berisi enam”.
Setelah
keempat pemuda ini bercerita, akhirnya raja membelah buah itu untuk membuktikan
cerita dari keempat pemuda itu.
Dan isi
dari buah itu adalah berwarna putih dan berisi enam, seperti apa yang
diceritakan oleh jaka. Ketiga pemuda pun terkejut, dan malu dihadapan raja.
Karena mereka telah berbohong kepada raja. Raja kemudian memberikan buah itu
kepada permaisuri, dan permaisuri kemudian sembuh. Tubuhnya tak lagi lemas dan
wajahnya terlihat lebih muda dari sebelumnya.
Akhirnya
raja memberikan hadiah kepada jaka dan mengangkatnya sebagai keluarga kerajaan.
Dan sebagai hukumannya ketiga pemuda itu dijebloskan kedalam penjara kerajaan.
Sejak
kesembuhan permaisuri, wajah kegembiraan dan kesenangan kini tampak lagi pada
seluruh rakyat kerajaan. Dan kerajaan pun hidup dengan kemakmurannya.
……TAMAT……
CP
:085789703246/089623533496
