Laman

Sabtu, 08 April 2017

PERMAINAN BAHASA ARAB DALAM PEMBELAJARAN




PENERAPAN PERMAINAN BAHASA TIPE BROKEN SQUARE
DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA

Hazizi
Jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIN Raden Intan Lampung

Abstrack: Language game aims to improve reading skills of Arabic language. Reading skills is one of four Arabic language skills that must be possessed by student. This research is classroom action research in qualitative analysis. To implement language game of broken square type on Arabic language subjects, student will be motivated to practice their reading skill.
This language game of broken square type to improve their skill reading of Arabic language.



PENDAHULUAN
Belajar bahasa Arab pada hakikatnya adalah belajar menggunakan bahasa Arab untuk keperluan komunikasi sosial.[1] Di Indonesia, tampak dengan jelas bahwa studi dan pembelajaran bahasa Arab masih mendua, yaitu antara berorientasi pada kemahiran dan keilmuan. Akan tetapi, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa keduanya perlu dimiliki oleh setiap peserta didik, walaupun memang harus berfokus pada satu orientasi tujuan pembelajaran bahasa Arab.
Pembelajaran bahasa Arab sudah lama dilakukan di Indonesia, namun hasilnya belum sepenuhnya maksimal. Guru sebagai salah satu pemegang utama pengajaran bahasa lebih banyak berpaku pada buku paket dan sulit menciptakan suasan pembelajaran kreatif, inovatif dan menyenangkan. Guru tidak memahami profesinya sebagai pengajar bahasa Arab, tidak mengetahui prinsif-prinsif  belajar bahasa,  tidak menguassai desaign pembelajaran dan teknik pengajaran, serta kurang memahami persiapan, strategi, metode, dan pendekatan pengajaran bahasa. Problem lain yang ikut menghambat proses pengajaran bahasa Arab adalah siswa kurang siap mengikuti pelajaran bahasa dan kompleksitas materi bahasa Arab yang menjadikan tingkat kesulitan tinggi pada teknik, strategi, serta metode penyampaiannya.
Selain faktor tersebut, faktor lain yang menjadi penghambat pembelajaran bahasa Arab antara lain kurangnya pemanfaatan sarana dan prasarana pembelajaran seperti media pembelajaran, media permainan dan lain sebagainya. Berangkat dari permasalahan tersebut, para pakar pendidikan mengakui perlu menggunakan media dan strategi yang menarik yang menyenangkan. Permasalahan-permasalahan tersebut juga dialami oleh sekolah SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung, dimana hasil belajar bahasa Arab masih kurang memuaskan.
Dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan pada saat prapenelitian : Metode dan stretegi yang digunakan terkesan monoton dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab masih cenderung teacher centered sehingga siswa cenderung pasif dalam pembelajaran bahasa Arab. Pembelajaran hanya terpaku pada proses penghafalan kosa-kata yang menyebabkan pemahaman tentang materi dirasa kurang. Guru masih kurang kreatif dan pariatif dalam memilih metode dan strategi yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Dari hasil pengamatan tersebut peneliti menyimpulkan, guru bidang study bahasa Arab menggunakan metode Qowaid Wa Tarjamah, dimana proses pembelajaran masih berpusat pada guru, tanpa ada feedback dari siswa. Mata pelajaran bahasa Arab dilaksanan pada jam ke-7 atau setelah istirahat kedua berlangsung.
Mengenai metode pembelajaran bahasa Arab yang menyegarkan bisa berupa dengan permainan bahasa, dengan metode tersebut maka dalam proses pembelajaran tidak menegangkan dan lebih rileks, sukses atau tidaknya suatu program pengajaran khususnya bahasa seringkali dinilai dari segi metode yang digunakan, sebab metodelah yang menentukan isi dan cara mengajarkan bahasa. Berdasarkan pada kenyataan tersebut, untuk itu dibutuhkan metode yang inovatif dan menyenangkan diantaranya dengan metode permainan/ permainan edukatif. Dalam kehidupan sehari-hari tamapak bahwa setiap orang laki-laki, perempuan, anak-anak dan dewasa, semuanya menyukai permainan. Dalam bermain seseorang  merasa terlibat dan terpanggil untuk mengatasi kesulitan dan memecahkan  masalah. Melalui permainan, pemerolehan informasi dan perubahan tingkah laku siswa terjadi secara alamiah, tanpa tekanan dari pihak luar. Prinsif belajar sambil bermain, dan bermain sambil belajar sejalan dengan teori pendidikan atau pemebelajaran bahasa, baik bahasa ibu maupun bahasa kedua dan bahasa asing.
Teori yang dimaksudkan menyatakan bahwa kemampuan berbahasa seseorang pembelajar lebih banyak diperoleh melalui proses pememrolehan yang alami. Oleh karena itu didalam pembelajaran bahasa asing yang lazimnya berlangsung secara formal, perlu diciptakan atau dikondisiskan suasana informal, sehingga proses pemerolehan informasi dan kemahiran berbahasa secara lebih alami dapat terjadi pada diri siswa. salah satu cara untuk mengkondisikan kelas bahasa yang rileks dan informal adalah dengan strategi permainan bahasa.
Dari teori tersebut peneliti tertarik bahwa penggunaan strategi permainan bahasa dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa yang secara alamiah dapat di terima.
Unsur edukatif lainnya dalam permainan adalah keseimbangan. Keseimbangan permainan tergantung  pada maksud dan tujuan dari pembuatan atau penciptaan permainan itu sendiri. Kunci utama suatu permainan dapat dikatakan edukatif adalah apabila permainan itu memiliki nilai guna, efektifitas, dan efisiensi yang mengarahkan proses mendidik secara positif.
Kelebihan dari permainan ini adalah sebagai berikut:
1.      Permainan bahasa merupakan salah satu media pembelajaran yang berkadar CBSA tinggi.
2.      Dapat mengurangi kebosanan siswa dalam preoses pembelajaran.
3.      Dengan adanya kompetisi antar siswa, dapat menumbuhkan semangat siswa untuk lebih maju.
4.      Permainan bahasa dapat membina hubungan kelompok dan mengembangkan kompetensi sosial siswa.
5.      Materi dikomunikasikan dapat meninggalkan kesan di hati siswa sehingga pengalaman keterampilan yang dilatih terekam lama dalam memory siswa. 

Jadi kelebihan dari permainan ini adalah membangkitkan motivasi siswa dalam belajar, selain itu siswa dapat lebih aktif karena yang dilakukan siswa bukan hanya mengucapkan mufrodat akan tetapi melibatkan anggota tubuh, sehingga materi yang dipelajari oleh siswa lebih mengesankan dan terekam dalam memory siswa.
Pada penelitian ini peneliti akan menggunakan strategi permainan tipe broken square untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas VIII D di SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung.
Tujuan utama permainan bahasa bukan semata-mata untuk memperoleh kesenangan, tetapi untuk belajar keterampilan berbahasa atau unsur bahasa tertentu. Latihan keterampilan berbahasa sangat vital bagi peserta didik untuk meningkatkan kompetensi dalam mengekspresikan bahan ajar/materi, serta latihan ini sangat membantu mereka dalam mengaktualisasikannya. Realisasi latihan keterampilan ini lebih populer dengan istilah al-maharat al-arba’ (empat keterampilan berbahasa)[2]. Keempat keterampilan ini yakni mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Membaca adalah salah satu faktor yang sangat urgen di dalam membina kepribadian seseorang. Dengan membaca secara otomatis seseorang mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.
Membaca merupakan materi terpenting di antara materi-materi pelajaran. Siswa yang unggul dalam pelajaran membaca mereka unggul dalam pelajaran yang lain pada semua jenjang pendidikan. Begitu juga siswa tidak akan bisa unggul dalam materi manapun dari materi-materi pelajaran kecuali jika siswa mempunyai keterampilan membaca yang baik. [3]
Berikut ini beberapa kompetensi dasar dalam kegiatan membaca bahasa Arab yang dapat di integrasikan, yaitu:
1.      Membaca dengan lancar, cermat dan tepat, dan lain-lain.
2.      Menentukan arti kosa-kata dalam konteks kalimat tertentu
3.      Menemukan fakta tersurat dalam teks.
4.      Menemukan makna tersirat dalam teks
5.      Menemukan ide pokok dalam paragraf
6.      Menemukan ide penunjang dalam paragraf
7.      Menghubugkan ide-ide yang terdapat  dalam bacaan
8.      Menyimpulkan ide pokok bacaan
9.      Menangkap pesan sebuah bacaan dengan tepat
10.  Mengomentari dan mengkritisi bacaan.[4]
Untuk jenjang pendidikan madratsah tsanawiyah, jenis membaca (qiroah)  yang diajarkan adalah membaca nyaring (Qiroah Jahriyah). Membaca Nyaring (Al-Qiroah alJahriyah) adalah jenis bacaan yang di ekspresikan siswa dengan suara keras (tinggi)
Dalam kegiatan membaca keras ini, yang terutama ditekankan adalah kemampuan membaca dengan ketepatan bunyi bahasa Arab, baik dari segi makhraj maupun sifat-sifat bunyi yang lain, irama yang tepat dan ekspresi yang menggambarkan perasaan penulis, lancar tidak tersendat-sendat dan terulang-ulang, memperhatikan tanda baca (علامة التّرقيم).
Adapun indikator yang harus diperhatikan adalah:
1.      Fasih pengucapan Makharijul Huruf
2.      Alunan suara yang bermacam-macam sesuai dengan huruf, kata dan kalimatnya. Pembaca dapat melahirkan perasaan yang sesuai, seperti gembira, susah atau bangga, atau rendah hati
3.      Volume suara sedang, antara cepat dan lambat, antara suara tinggi dan rendah.
4.      Lancar membacanya, tidak terulang-ulang menyebutkan katadan memotong kata-kata dapat merusak arti
5.      Memperhatikan panjang pendeknya dan tanda baca yang benar[5].
Sedangkan tujuan pembelajaran membaca untuk madrassah tsanawiyah adalah Menemukan ide pkokok dan ide penunjang serta Menceritakan kembali berbagai jenis isi bancaan.
Pada penelitian ini peneliti menekankan pada peningkatan keterampilan membaca nyaring (Qiroah Jahriyah)

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah: Untuk mengetahui peningkatkan kemampuan membaca siswa kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung melalui permainan bahasa tipe broken square.

METODE PNELITIAN
     Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yaitu penelitian yang diarahkan pada mengadakan pemecahan masalah atau  perbaikan. Burns (1999) dalam buku langkah mudah penelitian tindakan kelas sebagai pengembangan profesi guru mendefinisikan penelitian tindakan merupakan penerapan penemuan fakta pada pemecahan masalah dalam situasi sosial dengan pandangan untuk meningkatkan kualitas tindakan yang dilakukan didalmnya, yang melibatkan kolaborasi dan kerjasama para peneliti, praktisi, dan orang awam.[6] Penelitian Tindakan Kelas, yaitu penelitian tindakan yang di lakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Dalam penelitian tindakan kelas jenis kolaboratif ini penulis bekerjasama dengan pendidik Bahasa Arab di  Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 1 Kotaagung Tanggamus dimana penulis berperan sebagai peneliti dan pendidik bahasa Arab berperan sebagai pengamat. Hal ini dimaksudkan agar pendidik dapat terlibat secara aktif dan partisipasif dalam penelitian sehingga pendidik tidak hanya menjadi objek penelitian tetapi juga dapat menghayati masalah yang diteliti kemudian mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam memecahkan masalah kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran.
Prosedur penelitian
Prosedur kerja dalam penelitian ini merupakan siklus kegiatan yang terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi yang di sajikan pada gambar berikut:

Spiral Penelitian Tindakan Kelas











Teknik Pengumpulan Data
Observasi
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis observasi partisipatif. Untuk melakukan observasi pasrtisipatif seseorang peneliti harus berperan serta dalam kegiatan-kegiatan atau aktifitas-aktifitas subjek yang sesuai dengan tema atau fokus masalah yang ingin dicari jawabannya. Observasi ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai proses Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca di SMP Muhammadiyah Kotaagung Siswa Kelas VIII  D Tahun Pelajaran 2015/2016”
Wawancara
Peneliti menggunakan interview bebas-terpimpin, yaitu pewawancara menggunakan panduan atau pedoman wawancara secara garis besar dan terwawancara dipersilahkan untuk menjawab atau memberikan tanggapan dengan bebas namun sesuai dengan pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi dari terwawancara (guru bahasa Arab dan Kepala Sekolah) tentang Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca di SMP Muhammadiyah Kotaagung Siswa Kelas VIII  D Tahun Pelajaran 2015/2016”
Tes
Tes dapat diartikan sebagai teknik atau instrumen pengukuran dan menggunakan serangkaian pertanyaan yang harus dijawab, atau tugas yang harus dilakukan secara sengaja dan suatu kondisi yang di rancang secara khusus untuk mengetahui potensi, kemampuan dan keterampilan peserta didik sehingga menghasilkan data atau skor yang dapat di interpretasikan.[7] Metode ini digunakan oleh peneliti untuk mengetahui kemampuan siswa Kelas VIII SMP N 1 Kotaagung Kabupaten Tanggamus dalam keterampilan membaca.
Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah catatan yang di buat oleh observer atau peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi terhadap subjek atau objek penelitian tindakan kelas”.[8]
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data yang berkenaan dengan kegiatan peserta didik selama proses belajar, serta prasarana yang menunjang proses belajar mengajar, contohnya dokumen yang bisa di kaji dapat berupa: daftar hadir, silabus, arsip, dan lembar kerja, sejarah berdirinya, visi dan misi, keadaan pendidik, keadaan peserta didik. Catatan lapangan digunakan untuk memperoleh data secara objektif yang tidak teramati pada lembar observasi, yang mencatat hal–hal yang terjadi selama proses pembelajaran catatan ini dapat berupa perilaku siswa atau berbagai hasil pengamatan tentang aspek pembelajaran di kelas, pengelolaan kelas, suasana kelas, interaksi guru dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa dan beberapa aspek lainnya. Pada penelitian ini peneliti menyiapkan catatan  kecil untuk menuliskan hal-hal yang terjadi dalam pelaksanan penelitian.

Teknik Analisis Data
Menganalisis di dalam penelitian merupakan tahap terakhir dan merupakan tahap pengambilan kesimpulan untuk suatu penelitian oleh karena itu, dibutuhkan metode analisa data yang memberikan gambaran yang lebih tepat terhadap analisa yang dilakukan. Kemudian setelah data terkumpul melalui alat pengumpulan data maka perlu dianalisis guna memperoleh kesimpulan yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a.    Reduksi data adalah proses memilih, menyederhanakan, menfokuskan, dan mengubah data kasar kedalam catatan lapangan. Setelah peneliti memasuki setting sekolah sebagai tempat penelitian maka dalam mereduksi data peneliti akan menfokuskan pada murid-murid yang memiliki kecerdasan tinggi dengan mengategorikan pada aspek, gaya belajar,  prilaku sosial, interaksi dengan keluarga, dan perilaku dikelas.
Mereduksi data berarti merangkum, peneliti memilih hal-hal yang pokok pada waktu observasi dan memfokuskan pada hal-hal yang penting mengenai kemampuan membaca siswa kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung Tanggamus. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan kemampuan membaca selanjutnya, dan mencarinya apabila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan peralatan, seperti komputer, notebook, dan lain sebagainya
b.    Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Proses ini dilakukan untuk mempermudah penulis dalam mengkonstruksi data kedalam sebuah gambaran sosial yang utuh, selain itu untuk memeriksa sejauh mana kelengkapan data yang tersedia. Pada tes yang dilakukan Peneliti pada saat prasurvey,  dan dari dokumentasi guru bidang study, menunjukkan bahwa hasil kemampuan membaca siswa kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung masih terbilang rendah. dari 36 siswa hanya 28% yang mendapat nilai di atas keriteria ketuntatasan minimum (KKM). Penguasaan kemammpuan membaca siswa kelas VIII D di SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung akan mencapai tingkat ketuntasan 99% dengan adanya permainan aksi kata dan didukung oleh tenaga pengajar yang berpengalaman dan berkompeten
Verivikasi data atau penyimpulan data adalah penjelasan tentang makna-makna data dalam suatu konfigurasi yang secara jelas menunjukkan alur kuasalnya, sehingga dapat diajukan proposisi-proposisi yang terkait dengannya. Setelah penulis memperoleh data melalui teknik pengumpulan data dari proses penelitian, maka langkah selanjutnya penulis menganalisa data.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan ini berisi tentang uraian dan penjelasan mengenai hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti bekerja sama antara peneliti dengan pendidik bahasa Arab kelas VIII d (Bapak Cepi Tafsir Alami, S.Ag) dan hal-hal yang dibahas dalam pembahasan adalah suatu yang berkaitan dengan penelitian.
Tindakan yang dilakukan pendidik  menggunakan strategi pembelajaran permainan bahasatipe Broken Square. Dimana pembelajaran ini menekankan kepada siswa untuk bekerja sama, dan kekompakan peserta didik ternyata dapat membantu pendidik dalam memperbaiki respon peserta didik terhadap pelajaran bahasa Arab. Tindakan ini dilakukan dengan dua siklus yang memerlukan 4 kali pertemuan, pembelajaran ini telah di terapkan di kelas VIII D.
Respon peserta didik terhadap pembelajaran bahasa Arab dalam penelitian ini dibatasi oleh beberapa indikator yang telah bersama-sama disepakati antara pendidik dengan peneliti.
Dalam pelaksanaan penelitian setiap siklus mengalami peningkatan baik respon maupun hasil belajar penguasaan kosakata bahasa Arab yaitu siklus I respon mencapai 56 % (baik) dan Siklus II respon  81% (baik).
Untuk ketuntasan belajar setelah di adakan tes atau evaluasi di lakukan 2 kali yaitu pada akhir siklus I dan II. Pada akhir pertemuan kedua pada setiap siklus dilakukan tes, adapun hasil yang diperoleh bahwa peserta didik yang mencapai indikator pada siklus I adalah 18 peserta didik, sehingga dapat diketahui : F ( peserta didik yang tuntas belajarnya ) = 14 dan N ( jumlah peserta didik ) = 32 sehingga;

P = Peserta didik yang tuntas belajar X 100 %
               Jumlah peserta didik

 
 


 
P = 18 X 100 % = 56,25 %
      32
 
                


Hasil keterampilan berbicara pada siklus I yang tuntas belajarnya yaitu 10 orang 
( 56,25 % ) memenuhi KKM dari peserta didik, dan yang belum tuntas adalah 9 orang ( 43,75 % ).
Penilaian Rata – rata Nilai Keterampilan membaca Siklus I
X = X
        N
 
Untuk mencari rata – rata hasil ujian persiklus, digunakan rumus :


X =  = 69,78
           32
 
Setelah dianalisa didapat bahwa nilai tes siklus I dengan jumlah keseluruhan adalah  2233 dan n = 32 sehingga

















Perubahan respon peserta didik dapat di sajikan dalam bagan yaitu:
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini tindak belajar dikatakan berhasil karena persentase kelulusan siswa dalam 2 siklus melebihi 75%. Peserta didik yang mendapat nilai sebesar 70 atau melebihi 70 pada siklus I sebanyak 18 peserta didik dari 32 peserta didik (56 %) , pada siklus II sebanyak 26 peserta didik dari 32 peserta didik (81%).
Peneliti menyimpulkan bahwa setelah penerapan pembelajaran dengan Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square pada peserta didik kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung Kabupaten Tanggamus dapat meningkatkan kemampuan membaca bahasa Arab karena telah diperoleh respon dan test yang menunjukan hasil yang sangat baik.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dan hasil analisis data membuktikan bahwa Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square pada Kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Menurut hipotesis tindakan bahwa melalui Penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square dapat meningkatkan keterampilan membaca bahasa Arab kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, dan penelitian ini menjawab atas hipotesis tersebut.
Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yaitu pembelajaran bahasa Arab sebelum menggunakan Permainan Bahasa Tipe Broken Square (Pra Tindakan). Dilihat dari hasil perolehan nilai peserta didik kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung persentasenya adalah 31% untuk yang Lulus atau di atas Kriteria Ketuntasan Mengajar (KKM), terdapat 10 orang peserta didik yang mencapai ketuntasan dari 32 peserta didik. Sedangkan yang belum tuntas mencapai 22 orang peserta didik dengan presentase 61 %. Pada siklus I dilihat hasil rata-rata hasil tes peserta didik adalah 69,78. Peserta didik yang mencapai ketuntasan 18 orang dengan presentase 56,25 %. Sedangkan peserta didik yang belum tuntas mencapai 14 orang dengan presentase 43,75 %, siklus I ketuntasan meningkat 25,25 %. Pada siklus II dilihat dari rata-rata hasil tes peserta didik adalah 72,34. Peserta didik yang mencapai ketuntasan 26 orang dengan presentase 81,25 %, sedangkan peserta didik yang belum tuntas mencapai ketuntasan 6 orang dengan presentase 19,25 %, pada siklus II ketuntasan meningkat 50,25 % dari data awal.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square dapat meningkatkan keterampilan membaca bahasa Arab peserta didik kelas VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung Kabupaten Tanggamus.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian penerapan Permainan Bahasa Tipe Broken Square  dalam meningkatkan keterampilan membaca bahasa Arab peserta didik kelas VIII VIII D SMP Muhammadiyah 1 Kotaagung Kabupaten Tanggamus. Maka dapat diajukan saran – saran dan diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi beberapa pihak :
1.    Bagi Kepala Sekolah
Agar hasil penelitian dijadikan pedoman oleh lembaga pendidikan untuk selalu meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik, sebab untuk mencapai hasil belajar peserta didik secara maksimal perlu adanya motivasi yang tinggi dari peserta didik itu sendiri.
2.    Bagi Guru bahasa Arab
Agar guru melanjutkan penggunaan Permainan Bahasa Tipe Broken
Square dalam keterampilan berbicara dan melakukan perbaikan – perbaikan untuk mengoptimalkan penggunaan ermainan Bahasa Tipe Broken Square pada keterampilan membaca.
3.    Bagi Peserta Didik
Agar peserta didik bersemangat dalam belajar sehingga hasil belajar dapat maksimal











DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008
Erlina. Pembelajaran Qiroah Inovatif, Lampung: Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung, 2014
Fathul Mujib Nailur Rahmawati, Metode Permainan-permainan Edukatif dalam belajar bahasa Arab, Jakarta: DIVA PRESS, 2011
Hasan Saefuloh, Al’ab Lughawiyyah Teknik Pembelajaran Bahasa Arab yang Menyenangkan, Yogyakarta: Basan Publishing , 2010
Imam Asrori, dkk, Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab, Malang:  MISYKAT  2006
Imam Asrori. Strategi Belajar Bahasa Arab Teori dan Praktek. Malang: Misykat, 2011
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Jakarta: Rajawali Pres,  2011
Mahmud Yunus, Metodik Khusus Bahasa Arab Jakarta: PT. Hida Karya Agung, 1990
Muhammad Ali Al_Khuli, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: BASAN, 2010
Najmuddin Abdur Rauf,  Bahasa Arab Super Lengkap, Yogyakarta: Familia, 2011
Radliyah Zaenuddin, Metodelogi dan strategi alternatif Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarata: Rineka Cipta,  2010
Syaiful Mustofa, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif, Malang: UIN MALIKI PRESS, 2011
Ulin Nuha, Metodelogi Super Efektif Pembelajaran Bahasa Arab, Jogjakarta: DIVA Press, 2012
Undang-Undang SISDIKNAS (Sistem pendidikan Nasional  UU RI No 20 Tahun 2003, Jakarta: Sinar Grafika, 2009
Zulhanan, Teknik Pembelajaran Bahasa Arab Interaktif,  (Jakarta: Rajwali Press, 2014)








[1]Imam Asrori. Strategi Belajar Bahasa Arab Teori dan Praktek. (Malang: Misykat, 2011),  h. 3
[2] Zulhannan, Teknik Pembelajaran Bahasa Arab Interaktif,  (Jakarta: Rajawali Pers,  2014),  h. 91
[3]Bisri Mustofa dan Abdul Hamid, Metode dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN MALIKI PRESS, 2012), h. 5
[4] Imam Asrori, dkk, Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab, ( Malang:  MISYKAT  2006), h. 131
[5] Erlina. Pembelajaran Qiroah Inovatif, (Lampung: Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung, 2014), h16-17
[6]Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, (Jakarta: Rajawali Pres,  2011),  h. 44
[7] Shodiq Abdullah, Evaluasi Pembelajaran Konsep Dasar Teori dan Aplikasi, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012), h. 43
[8]  Kunandar, op.cit., h. 197

Tidak ada komentar:

Posting Komentar