Laman

Selasa, 10 Juni 2014

Nias Dan Putri Mawar

Karya Sastra Ke III
Dikarang Oleh HAZIZI


“NIAS DAN PUTRI MAWAR”

Kadang hidup tak seindah apa yang dibayangkan, roda perjalanan hidup pun berputar tiada hentinya, keindahan tak selamnya didapatkan, ada kalanya hidup  berada dibawah keterpurukan. Dan kedatangannya tanpa  kesiapan, menjelma menjadi momok yang sangat  menakutkan.
Hal inilah yang dirasakan oleh Nias, seorang pemuda yang dulu memiliki wibawa, dan paras yang mempesona. Dia masih ingat betul betapa Ia dikagumi dan dibanggakan.
Nias adalah pemuda tampan, yang tiba-tiba berubah menjadi buruk rupa. Ia memperoleh penyakit kulit yang mengerikan setelah mendapatkan kutukan dari sepasang suami istri. 
Kala itu Ia berjumpa dengan sepasang suami istri dipinggir hutan, ia melihat kemesraan diantara keduanya. Hanya saja ia sangat heran melihat sepasang suami istri itu. Masalahnya adalah suami dari perempuan itu sangat jelek, sedangkan siistri sangat cantik. Ia menyapa mereka, kemudian melewatinya. Kemudian berkata kecil dengan dirinya sendiri. Kenapa ada pasangan seperti itu didunia ini..?,, “bodoh sekali perempuan cantik itu, mau menikah dengan pria buruk rupa”.. Ia tak menyangka ternyata perkataannya di dengar oleh sepasang suami istri. Sepasang  suami istri itu bukanlah manusia biasa. Kemudian mereka mengutuk pemuda itu dengan memberinya penyakit kulit yang langka, yang tak dapat disembuhkan.
Sejak itulah Ia menjadi buruk rupa, akibat penyakit kulit yang Ia derita. Teman-teman dan warga kampungnya yang dulu segan senang kepadanya perlahan mulai membencinya. Tak jarang Ia mendapat hinaan dari mereka. Ia sangat kecewa dan menyesali tentang apa yang ia katakan terhadap sepasang suami istri itu. Kini Ia tak lagi memiliki teman, tak seorangpun yang berani mendekatinya. Warga khawatir tertular penyakitnya. Padahal penyakitnya tak mungkin menular, karena Ia tau, kalau penyakitnya itu adalah  penyakit yang disebabkan kutukan. Lama-kelamaan warga mulai gelisah akan penyakitnya Nias. Kegelisahan itu tampak dari setiap gerak-gerik warga. Kebanyakan warga menghindar ketika Ia hendak mendekatinya.
Yang paling mengharukan adalah ketika Ia hendak meminta makanan kepada salah satu warga dikampungnya. Waktu itu Ia kehabisan bekal makanannya, dan Ia sangat lapar. Akhirnya ia meminta kepada warga. Namun yang menyedihkan hatinya adalah warga itu memberinya makan dengan wadah yang tak layak baginya, yaitu batok kelapa. Ia merasa disamakan dengan binatang. “sehina itukah diriku” fikirnya. Hatinya sakit, dan menyesali keadaannya sekarang. Perlahan matanya meneteskan air mata. Namun Ia juga tak menyalahkan warga, mungkin warga khawatir kalau penyakitnya menular, hingga harus memberinya wadah seoerti itu. Seiring dengan berjalannya waktu, penyakitnya bertambah. Hingga penyakit itu merayap kebagian wajahnya. kesedihan mulai menyelimutinya. betapa tidak, ia harus rela menyaksikan kulit-kulitnya mengelupas, hingga tak berbentuk lagi.
Nias selalu membawa cermin, agar bisa selalu memperhatikan wajahnya. cermin itu juga adalah teman untuk meratapi nasip dirinya.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi kehutan dan memilih tinggal disana. Dihutan Ia merasa tenang, dan nyaman. Tak akan ada warga yang resah dengan penyakitnya, dan yang terpenting adalah, tak akan ada orang yang mau mencemooh dan menghinanya..
Hari-haripun berganti, dan tahun demi tahun ia lalui hidupnya dihutan. Lain dihutan lain pula dikota. Dikota ada sebuah kerajaan yang kaya dan makmur. Namun begitulah hidup kekayaan dan kemakmuran tidak menjadi jaminan sebuah kebahagian.. Putri dari raja itu, mengalami penyakit yang menahun. Sudah tiga tahun putri kerajaan itu sakit, dan tak ada seorang pun yang mampu menyembuhkan. Putri mawar namanya. Putri mawar menderita kelumpuhan dan tubuhnya melemas, hingga ia tak mampu bangun dari tempat tidurnya. Bukan hanya itu akibat tak banyak aktivitas, wajah putri mawar menua, tidak sesuai dengan usianya.
Sang raja akhirnya menyembarakan kesembuhan putrinya. Bagi siapa saja yang dapat menyembuhkan putrinya, akan dinikahkan dengan putrinya tersebut.
Berita saembara itu sampai ke telinga Nias. Namun Ia tak menanggapinya serius. Untuk apa mengikutinya, fikirnya. Kalaupun aku sanggup menyembuhkannya. Tak mungkin juga raja mau menerimanya. Laki-laki yang buruk rupa. Belum lagi, putri mawar yang cantik itu mau menikah denganku, hatinya meyakinkan. Sudah satu tahun saembara itu dilaksanakan, namun Ia belum pernah mendengar ada orang yang dapat menyembuhkan putri mawar.
Namun beredar berita kalau penyakit putri mawar hanya bisa disembuhkan oleh air suci. Air suci itu ada dilembah diatas bukit Sinai. Dan untuk pergi kesana, ada banyak rintangan dan halangan yang akan diperoleh. Lembah itu dijaga oleh raksasa dan air suci dijaga oleh seekor naga yang kuat.
Nias akhirnya memutuskan untuk mengikuti saembara itu. Ia kemudian kekerajaan dan menemui sang raja. Ia meminta raja untuk mengizinkannya ikut dalam saembara itu. Sejenak raja memperhatikan tubuh Nias. Raja tidak mengizinkan nias, selain karena wajahnya yang buruk rupa, juga karena raja meragukan kemampuannya. Orang yang sehat fisiknya saja tak mampu membawakan air suci itu, fikir sang raja. Namun penasehat kerajaan mengingatkan raja, agar jangan pilih kasih kepada orang. Penasehat juga meyakinkan kalau kesembuhan putri mawar lebih penting. Akhirnya raja pun mengizinkan Nias.
Tidak menunggu waktu lama, Nias berangkat menuju bukit Sinai.
Selain pakaian yan ia kenakan, hanyalah cermin yang ia bawa. Cermin itu adalah teman kesedihannya. Setelah beberapa hari menempuh perjalan ia pun beristirahat, ia juga sudah lapar. Namun nias tidak membawa bekal, hingga ia harus mencari makan dan bekal untuk melanjutkan perjalanannya. Ia kemudian melihat sepohon belimbing, kemudian mengambilnya untuk dimakan, ia juga membawa beberapa buah untuk bekalnya.
Ditengah perjalan, Ia bertemu dengan seorang pengembala yang tengah kelaparan. Ia kemudia bertanya kepada kakek itu.. “ada apa kek?”.. dengan perlahan kakek  menjawab..”kakek lapar nak, kakek tidak memiliki makanan”… tegas sang kakek.. lalu Nias memberikan belimbingnya kepada kakek dan menyuapkannya..
Kemudian kakek itu bertanya..”Engkau hendak kemana nak?”.. Nias kemudian  menjawab “Aku hendak pergi ke bukit Sinai”. Kemudian menjelaskan tujuannya. Kakek tua itu berpesan agar berhati-hati, karena untuk mencapai ke bukit Nias banyak sekali rintangan yang harus dihadapi.
Sebelum berpisah, kakek itu memberi seekor kambing kepada nias. Meskipun sudah menolak, Nias tetap menerimanya karena kakek tua itu memaksa.
Dengan terpaksa Nias harus membawa kambing itu ketempat tujuannya. Dalam perjalanannya ia berhadapan dengan segerombolan serigala. Ia sangat takut, ia tak mungkin mampu mengalahkan segerombolan serigala, lututnya melemas, badannya berkeringat hingga ia melepaskan tali kambing miliknya. Kambing itu lari ketengah hutan dengan kencang, dan tanpa Ia sadari, segerombolan serigala mengejar kambing itu. Hingga ia lolos dari cengkraman serigala. Ia tak menyangka kambing yang menemaninya itu bisa menolongnya.
Ia kemudian melanjutkan perjalanannya hingga ke lembah tempat air suci itu. Ia juga memikirkan cara agar dapat melewati raksasa penunggu lembah itu.
Setibanya di lembah itu, ia dicegat oleh raksasa yang menakutkan. Dengan lantang raksasa itu berkata kepada Nias.. ”Apa yang kau lakukan disini anak muda…?.. dengan rasa ketakutan.. Nias menjawab.. “Aku ingin mengambil air suci..?”.. “berani sekali kau mengambilnya?” Kata raksasa itu, kemudian ia melanjutkan “karena kau sudah datang kesini, akan ku makan kau..”..
Kemudia Nias berkata kepada raksasa “ Tidakkah kau lihat kulitku, tubuhku dipenuhi penyakit menular, jangan kan kau makan, kau sentuh saja, kau akan tertulari oleh penyakit ini..?
Kemudian raksasa berfikir, dan kemudian mengurungkan niatnya. selain Karena Ia jijik melihat Nias, Ia juga tidak mau tertular penyakitnya.. raksasa itu pun mengizinkan untuk melewatinya.
Ia sangat senang, mungkin hanya kejadian itu, yang membuat ia bersyukur atas penyakitya. Ternyata penyakitku ini mampu melepaskan aku dari bahaya. Ia mulai sadar bahwa dibalik ujian yang ia terima pasti ada anugrah yang ia peroleh..
Akhirnya sampailah ia ketempat air suci, namun ketika hendak mengambilnya, keluar seekor naga yang besar, yang didahului oleh semburan api yang besar.
Naga itu marah dan terusik dengan kehadiran Nias, ia kemudian menyemburkan apinya kepada nias, namun Nias menghindar,
Naga itu kemudian berkata kepada nias “ apa yang sedang kau lakukan, manusia buruk rupa?”..
“Aku ingin meminta air suci”,, jawab Nias,  “berani sekali kau melakukannya, kalahkan aku dulu, baru kamu boleh mengambilnya”..pinta sang naga..
Nias kebingungan, Ia tak memiliki cara untuk mengalahkan naga, Ia juga tak memiliki ilmu untuk menaklukkannya. Naga pun memulai menyerang, ia terbang dan menyemburkan apinya kearah nias. Nias hanya mampu menghindar, dengan berlari dari pohon kepohon. Hal itu ia lakukan saat naga menyemburkan api dari mulutnya, hingga pohon dilembah itu habis.
Hingga akhirnya ia tidak memiliki tempat berlindung lagi, Nias hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan naga. Saat hendak menyemburkan apinya, nias hanya mampu menutupkan mata, dan tanpa sengaja, nias mengeluarkan cermin miliknya dan mengarahkannya tepat kearah mata naga.
Naga pun tak kuasa menahan pantulan cahaya dari cermin Nias. dan Naga musnah, sebelum lenyap terdengar suara keras yang diikuti gemuruh..
“Ambillah sisikku, sisik itu dapat mengabulkan satu permintaan..”.. kemudian Nias mengambilnya dan menyimpannya..
Nias kemudian pulang dan menghadap raja, dihadapan raja nias memberikan kendi kecil yang berisi air suci. Air itu kemudian diminumkan kepada putri mawar, dan benar putri langsung sembuh, ia tak lagi lumpuh dan badannya tak terasa lemas.
Raja tak menyangka nias mampu melakukannya, sepintas raja berfikir untuk mengingkari janjinya ia tak tega harus melihat anaknya menikah dengan laki-laki buruk rupa.
Namun putri tidak sembuh seutuhnya, wajahnya masih terlihat tua dari umurnya. Kemudian ia meminta kepada nias. jika Ia mampu mengembalikan kecantikan putri mawar, ia akan dinikah dengan dirinya, tapi kalau tidak ia akan dinikahkan dengan pilihan sang raja.
Nias pun bingung, apa yang harus ia lakukan, akankan ia harus merelakan putri mawar untuk orang lain, dan merelakan perjuangannya mengambil air suci. sesaat kemudian ia teringat dengan sisik naga itu, sisik yang mampu mengabulkan satu permintaan. Ia kemudian meminta izin kepada raja untuk menemui putri.
kemudian nias mengangkat sisik itu kehadapan wajah putri  dan meminta untuk mengembalikan kecantikan putri mawar seperti sedia kala. Dan keajaiban terjadi, wajah putri mawar berubah menjadi cantik. Putri mawar sangat senang dan bahagia. Begitu juga dengan raja. Raja sangat bahagia menyaksikan raut kebahagian putri satu-satunya itu.
Namun suatu hal yang terjadi, raja mengingkari janjinya, Ia tak ingin menikahkan putrinya kepada nias. raja kemudian menghina nias dengan berkata “ Tidak mungkin ada pasangan didunia ini yang seperti kalian, putriku sangat cantik dan engkau adalah laki-laki buruk rupa..”
Kata-kata itu membuatnya sangat terpukul dan sedih, ia sakit hati dan menyesal. Namun bukan perkataan raja yang ia sesalkan, melainkan perkataannya dulu kepada sepasang suami istri yang telah ia temui. Mungkinkah sesakit ini yang mereka rasakan saat mendengar kata-kata ku dulu.
Dengan perasaan sedih, perlahan nias keluar dari ruangan putri mawar. Namun langkahnya dihentikan oleh  putri mawar. “tunggu dulu nias” pinta putri mawar.. kemudian putri melanjutkan “Kau adalah penolongku, Aku yang harus mambalas jasamu, meskipun tanpa restu dari ayahanda, aku kan tetap menjadi istrimu..
kemudian putri mawar meminta kepada sang raja dan  berkata kepada “Ayahanda, nias telah berkorban untuk mawar, sisik yang ia berikan kepadaku, bisa saja ia gunakan untuknya. bisa saja ia meminta untuk disembuhkan penyakitnya, bukan penyakitku. Tapi itu tidak Ia lakukan, karena ia tulus mencintaiku..”
Dengan kata-kata itu hati raja luluh dan menyadari perbuatannya. Raja kemudian mengizinkan mereka untuk menikah. Terlihat wajah keraguan pada diri nias, Ia sebenarnya membenarkan perkataan raja. Namun putri mawar meyakinkannya, dan miminta nias untuk menikahinya.
Kemudian putri mawar mencium tangan nias, dan keajaiban terjadi lagi, nias yang buruk rupa itu berubah menjadi laki-laki tampan, bahkan lebih tampan dari sebelumnya.
Raja dan seluruh orang yang menyaksikan terkejut dengan apa yang mereka saksikan. Begitu juga dengan nias, ia tak menyangka ketulusan dan keikhlasan putri mawar untuk menerimanya dapat merubahnya kembali ke wajahnya yang semula. Kemudian ia menjelaskan perihal yang terjadi padanya.
Akhirnya Nias dan Putri Mawar menikah dan membina keluarga yang bahagia…….

……TAMAT……











CP: 085789703246/087817394059

Tidak ada komentar:

Posting Komentar