Karya
Sastra Ke III
Dikarang
Oleh HAZIZI
Kadang
hidup tak seindah apa yang dibayangkan, roda perjalanan hidup pun berputar
tiada hentinya, keindahan tak selamnya didapatkan, ada kalanya hidup berada dibawah keterpurukan. Dan kedatangannya
tanpa kesiapan, menjelma menjadi momok
yang sangat menakutkan.
Hal
inilah yang dirasakan oleh Nias, seorang pemuda yang dulu memiliki wibawa, dan
paras yang mempesona. Dia masih ingat betul betapa Ia dikagumi dan dibanggakan.
Nias
adalah pemuda tampan, yang tiba-tiba berubah menjadi buruk rupa. Ia memperoleh
penyakit kulit yang mengerikan setelah mendapatkan kutukan dari sepasang suami
istri.
Kala itu Ia berjumpa dengan sepasang suami istri dipinggir hutan, ia melihat
kemesraan diantara keduanya. Hanya saja ia sangat heran melihat sepasang suami
istri itu. Masalahnya adalah suami dari perempuan itu sangat jelek, sedangkan
siistri sangat cantik. Ia menyapa mereka, kemudian melewatinya. Kemudian
berkata kecil dengan dirinya sendiri. Kenapa ada pasangan seperti itu didunia
ini..?,, “bodoh sekali perempuan cantik itu, mau menikah dengan pria buruk rupa”..
Ia tak menyangka ternyata perkataannya di dengar oleh sepasang suami istri.
Sepasang suami istri itu bukanlah manusia
biasa. Kemudian mereka mengutuk pemuda itu dengan memberinya penyakit kulit
yang langka, yang tak dapat disembuhkan.
Sejak
itulah Ia menjadi buruk rupa, akibat penyakit kulit yang Ia derita. Teman-teman
dan warga kampungnya yang dulu segan senang kepadanya perlahan mulai membencinya.
Tak jarang Ia mendapat hinaan dari mereka. Ia sangat kecewa dan menyesali
tentang apa yang ia katakan terhadap sepasang suami istri itu. Kini Ia tak lagi
memiliki teman, tak seorangpun yang berani mendekatinya. Warga khawatir tertular
penyakitnya. Padahal penyakitnya tak mungkin menular, karena Ia tau, kalau
penyakitnya itu adalah penyakit yang
disebabkan kutukan. Lama-kelamaan warga mulai gelisah akan penyakitnya Nias.
Kegelisahan itu tampak dari setiap gerak-gerik warga. Kebanyakan warga
menghindar ketika Ia hendak mendekatinya.
Yang
paling mengharukan adalah ketika Ia hendak meminta makanan kepada salah satu
warga dikampungnya. Waktu itu Ia kehabisan bekal makanannya, dan Ia sangat
lapar. Akhirnya ia meminta kepada warga. Namun yang menyedihkan hatinya adalah
warga itu memberinya makan dengan wadah yang tak layak baginya, yaitu batok kelapa.
Ia merasa disamakan dengan binatang. “sehina itukah diriku” fikirnya. Hatinya
sakit, dan menyesali keadaannya sekarang. Perlahan matanya meneteskan air mata.
Namun Ia juga tak menyalahkan warga, mungkin warga khawatir kalau penyakitnya
menular, hingga harus memberinya wadah seoerti itu. Seiring dengan berjalannya
waktu, penyakitnya bertambah. Hingga penyakit itu merayap kebagian wajahnya.
kesedihan mulai menyelimutinya. betapa tidak, ia harus rela menyaksikan
kulit-kulitnya mengelupas, hingga tak berbentuk lagi.
Nias selalu
membawa cermin, agar bisa selalu memperhatikan wajahnya. cermin itu juga adalah
teman untuk meratapi nasip dirinya.
Akhirnya
ia memutuskan untuk pergi kehutan dan memilih tinggal disana. Dihutan Ia merasa
tenang, dan nyaman. Tak akan ada warga yang resah dengan penyakitnya, dan yang
terpenting adalah, tak akan ada orang yang mau mencemooh dan menghinanya..
Hari-haripun
berganti, dan tahun demi tahun ia lalui hidupnya dihutan. Lain dihutan lain pula
dikota. Dikota ada sebuah kerajaan yang kaya dan makmur. Namun begitulah hidup
kekayaan dan kemakmuran tidak menjadi jaminan sebuah kebahagian.. Putri dari
raja itu, mengalami penyakit yang menahun. Sudah tiga tahun putri kerajaan itu
sakit, dan tak ada seorang pun yang mampu menyembuhkan. Putri mawar namanya.
Putri mawar menderita kelumpuhan dan tubuhnya melemas, hingga ia tak mampu
bangun dari tempat tidurnya. Bukan hanya itu akibat tak banyak aktivitas, wajah
putri mawar menua, tidak sesuai dengan usianya.
Sang raja
akhirnya menyembarakan kesembuhan putrinya. Bagi siapa saja yang dapat
menyembuhkan putrinya, akan dinikahkan dengan putrinya tersebut.
Berita
saembara itu sampai ke telinga Nias. Namun Ia tak menanggapinya serius. Untuk
apa mengikutinya, fikirnya. Kalaupun aku sanggup menyembuhkannya. Tak mungkin
juga raja mau menerimanya. Laki-laki yang buruk rupa. Belum lagi, putri mawar
yang cantik itu mau menikah denganku, hatinya meyakinkan. Sudah satu tahun saembara
itu dilaksanakan, namun Ia belum pernah mendengar ada orang yang dapat
menyembuhkan putri mawar.
Namun
beredar berita kalau penyakit putri mawar hanya bisa disembuhkan oleh air suci.
Air suci itu ada dilembah diatas bukit Sinai. Dan untuk pergi kesana, ada
banyak rintangan dan halangan yang akan diperoleh. Lembah itu dijaga oleh
raksasa dan air suci dijaga oleh seekor naga yang kuat.
Nias
akhirnya memutuskan untuk mengikuti saembara itu. Ia kemudian kekerajaan dan
menemui sang raja. Ia meminta raja untuk mengizinkannya ikut dalam saembara
itu. Sejenak raja memperhatikan tubuh Nias. Raja tidak mengizinkan nias, selain
karena wajahnya yang buruk rupa, juga karena raja meragukan kemampuannya. Orang
yang sehat fisiknya saja tak mampu membawakan air suci itu, fikir sang raja.
Namun penasehat kerajaan mengingatkan raja, agar jangan pilih kasih kepada
orang. Penasehat juga meyakinkan kalau kesembuhan putri mawar lebih penting.
Akhirnya raja pun mengizinkan Nias.
Tidak menunggu
waktu lama, Nias berangkat menuju bukit Sinai.
Selain
pakaian yan ia kenakan, hanyalah cermin yang ia bawa. Cermin itu adalah teman
kesedihannya. Setelah beberapa hari menempuh perjalan ia pun beristirahat, ia
juga sudah lapar. Namun nias tidak membawa bekal, hingga ia harus mencari makan
dan bekal untuk melanjutkan perjalanannya. Ia kemudian melihat sepohon
belimbing, kemudian mengambilnya untuk dimakan, ia juga membawa beberapa buah
untuk bekalnya.
Ditengah
perjalan, Ia bertemu dengan seorang pengembala yang tengah kelaparan. Ia
kemudia bertanya kepada kakek itu.. “ada apa kek?”.. dengan perlahan kakek menjawab..”kakek lapar nak, kakek tidak
memiliki makanan”… tegas sang kakek.. lalu Nias memberikan belimbingnya kepada
kakek dan menyuapkannya..
Kemudian
kakek itu bertanya..”Engkau hendak kemana nak?”.. Nias kemudian menjawab “Aku hendak pergi ke bukit Sinai”.
Kemudian menjelaskan tujuannya. Kakek tua itu berpesan agar berhati-hati, karena
untuk mencapai ke bukit Nias banyak sekali rintangan yang harus dihadapi.
Sebelum
berpisah, kakek itu memberi seekor kambing kepada nias. Meskipun sudah menolak,
Nias tetap menerimanya karena kakek tua itu memaksa.
Dengan
terpaksa Nias harus membawa kambing itu ketempat tujuannya. Dalam perjalanannya
ia berhadapan dengan segerombolan serigala. Ia sangat takut, ia tak mungkin
mampu mengalahkan segerombolan serigala, lututnya melemas, badannya berkeringat
hingga ia melepaskan tali kambing miliknya. Kambing itu lari ketengah hutan
dengan kencang, dan tanpa Ia sadari, segerombolan serigala mengejar kambing
itu. Hingga ia lolos dari cengkraman serigala. Ia tak menyangka kambing yang
menemaninya itu bisa menolongnya.
Ia
kemudian melanjutkan perjalanannya hingga ke lembah tempat air suci itu. Ia
juga memikirkan cara agar dapat melewati raksasa penunggu lembah itu.
Setibanya
di lembah itu, ia dicegat oleh raksasa yang menakutkan. Dengan lantang raksasa
itu berkata kepada Nias.. ”Apa yang kau lakukan disini anak muda…?.. dengan
rasa ketakutan.. Nias menjawab.. “Aku ingin mengambil air suci..?”.. “berani
sekali kau mengambilnya?” Kata raksasa itu, kemudian ia melanjutkan “karena kau
sudah datang kesini, akan ku makan kau..”..
Kemudia
Nias berkata kepada raksasa “ Tidakkah kau lihat kulitku, tubuhku dipenuhi
penyakit menular, jangan kan kau makan, kau sentuh saja, kau akan tertulari
oleh penyakit ini..?
Kemudian
raksasa berfikir, dan kemudian mengurungkan niatnya. selain Karena Ia jijik
melihat Nias, Ia juga tidak mau tertular penyakitnya.. raksasa itu pun
mengizinkan untuk melewatinya.
Ia
sangat senang, mungkin hanya kejadian itu, yang membuat ia bersyukur atas
penyakitya. Ternyata penyakitku ini mampu melepaskan aku dari bahaya. Ia mulai
sadar bahwa dibalik ujian yang ia terima pasti ada anugrah yang ia peroleh..
Akhirnya
sampailah ia ketempat air suci, namun ketika hendak mengambilnya, keluar seekor
naga yang besar, yang didahului oleh semburan api yang besar.
Naga itu
marah dan terusik dengan kehadiran Nias, ia kemudian menyemburkan apinya kepada
nias, namun Nias menghindar,
Naga itu
kemudian berkata kepada nias “ apa yang sedang kau lakukan, manusia buruk rupa?”..
“Aku
ingin meminta air suci”,, jawab Nias, “berani sekali kau melakukannya, kalahkan aku dulu,
baru kamu boleh mengambilnya”..pinta sang naga..
Nias
kebingungan, Ia tak memiliki cara untuk mengalahkan naga, Ia juga tak memiliki
ilmu untuk menaklukkannya. Naga pun memulai menyerang, ia terbang dan
menyemburkan apinya kearah nias. Nias hanya mampu menghindar, dengan berlari
dari pohon kepohon. Hal itu ia lakukan saat naga menyemburkan api dari
mulutnya, hingga pohon dilembah itu habis.
Hingga
akhirnya ia tidak memiliki tempat berlindung lagi, Nias hanya bisa pasrah
dengan apa yang akan dilakukan naga. Saat hendak menyemburkan apinya, nias
hanya mampu menutupkan mata, dan tanpa sengaja, nias mengeluarkan cermin
miliknya dan mengarahkannya tepat kearah mata naga.
Naga pun
tak kuasa menahan pantulan cahaya dari cermin Nias. dan Naga musnah, sebelum
lenyap terdengar suara keras yang diikuti gemuruh..
“Ambillah
sisikku, sisik itu dapat mengabulkan satu permintaan..”.. kemudian Nias
mengambilnya dan menyimpannya..
Nias
kemudian pulang dan menghadap raja, dihadapan raja nias memberikan kendi kecil
yang berisi air suci. Air itu kemudian diminumkan kepada putri mawar, dan benar
putri langsung sembuh, ia tak lagi lumpuh dan badannya tak terasa lemas.
Raja tak
menyangka nias mampu melakukannya, sepintas raja berfikir untuk mengingkari
janjinya ia tak tega harus melihat anaknya menikah dengan laki-laki buruk rupa.
Namun putri
tidak sembuh seutuhnya, wajahnya masih terlihat tua dari umurnya. Kemudian ia
meminta kepada nias. jika Ia mampu mengembalikan kecantikan putri mawar, ia akan
dinikah dengan dirinya, tapi kalau tidak ia akan dinikahkan dengan pilihan sang
raja.
Nias pun
bingung, apa yang harus ia lakukan, akankan ia harus merelakan putri mawar
untuk orang lain, dan merelakan perjuangannya mengambil air suci. sesaat
kemudian ia teringat dengan sisik naga itu, sisik yang mampu mengabulkan satu
permintaan. Ia kemudian meminta izin kepada raja untuk menemui putri.
kemudian
nias mengangkat sisik itu kehadapan wajah putri dan meminta untuk mengembalikan kecantikan putri
mawar seperti sedia kala. Dan keajaiban terjadi, wajah putri mawar berubah
menjadi cantik. Putri mawar sangat senang dan bahagia. Begitu juga dengan raja.
Raja sangat bahagia menyaksikan raut kebahagian putri satu-satunya itu.
Namun suatu
hal yang terjadi, raja mengingkari janjinya, Ia tak ingin menikahkan putrinya
kepada nias. raja kemudian menghina nias dengan berkata “ Tidak mungkin ada
pasangan didunia ini yang seperti kalian, putriku sangat cantik dan engkau
adalah laki-laki buruk rupa..”
Kata-kata
itu membuatnya sangat terpukul dan sedih, ia sakit hati dan menyesal. Namun bukan
perkataan raja yang ia sesalkan, melainkan perkataannya dulu kepada sepasang
suami istri yang telah ia temui. Mungkinkah sesakit ini yang mereka rasakan
saat mendengar kata-kata ku dulu.
Dengan
perasaan sedih, perlahan nias keluar dari ruangan putri mawar. Namun langkahnya
dihentikan oleh putri mawar. “tunggu
dulu nias” pinta putri mawar.. kemudian putri melanjutkan “Kau adalah penolongku,
Aku yang harus mambalas jasamu, meskipun tanpa restu dari ayahanda, aku kan
tetap menjadi istrimu..
kemudian
putri mawar meminta kepada sang raja dan berkata kepada “Ayahanda, nias telah berkorban
untuk mawar, sisik yang ia berikan kepadaku, bisa saja ia gunakan untuknya. bisa
saja ia meminta untuk disembuhkan penyakitnya, bukan penyakitku. Tapi itu tidak
Ia lakukan, karena ia tulus mencintaiku..”
Dengan
kata-kata itu hati raja luluh dan menyadari perbuatannya. Raja kemudian
mengizinkan mereka untuk menikah. Terlihat wajah keraguan pada diri nias, Ia
sebenarnya membenarkan perkataan raja. Namun putri mawar meyakinkannya, dan
miminta nias untuk menikahinya.
Kemudian
putri mawar mencium tangan nias, dan keajaiban terjadi lagi, nias yang buruk
rupa itu berubah menjadi laki-laki tampan, bahkan lebih tampan dari sebelumnya.
Raja dan
seluruh orang yang menyaksikan terkejut dengan apa yang mereka saksikan. Begitu
juga dengan nias, ia tak menyangka ketulusan dan keikhlasan putri mawar untuk
menerimanya dapat merubahnya kembali ke wajahnya yang semula. Kemudian ia
menjelaskan perihal yang terjadi padanya.
Akhirnya
Nias dan Putri Mawar menikah dan membina keluarga yang bahagia…….
……TAMAT……
CP:
085789703246/087817394059
Tidak ada komentar:
Posting Komentar