KAJIAN EKOLINGUISTIK
(HILANG BARANG DI DAPUR)
Hilang barang di dapur--- Akhir-akhir ini kita telah kehilangan barang di dapur-dapur. Kehilangan barang dan alat-alat dapur ini merupakan akibat dari perkembangan zaman. Alat- alat dapur tersebut hilang (Red: Punah) seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi. Selain memunculkan inovasi-inovasi baru dalam meunjang kemudahan manusia, kemajuan teknologi telah melenyapkan aspek-aspek materil dari sebuah kebudayaan yang sudah di pakai oleh umat manusia. Aspek-aspek materil tersebut tak ayal belum sempat di dokumentasikan sebagai sebuah kekayaan manusia. Barang-barang lama tersebut adalah bagian dari proses kemajuan peradaban. Sehingga sejarahnya penting untuk di bukukan dan dijadikan sebagai kebanggan dari buah karya manusia.
Namun yang menjadi persoalan yang akan kita bahas adalah implikasi dari hilangnya unsur- unsur materil hasil kebudayaan itu. Dalam kesempatan ini, yakni kebudayaan masyarakat lampung. Hilangnya unsur materil berupa alat dan barang tersebut berimplikasi pada hilangnya kekayaan bahasa dari sebuah budaya. Masyarakat Lampung misalnya, Jumlah kosakata yang memenuhi perbendaharaan kosakata bahasa Lampung berasal dari nama-nama barang dan alat yang digunakan oleh masyrakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana misalnya, jika alat dan barang tersebut tidak kita ketemukan lagi pada masa kini? Akankah sebuah bahasa dan peristilahannya tetap digunakan?.
Hilangnya unsur materil tersebut sejalan dengan hilangnya perbendaharan kosakata sebuah bahasa. Kosakata bahasa adalah bagian terpenting dalam membentuk sebuah bahasa. Mungkin hal ini lah yang menjadi salah satu sebab berkurangnya jumlah perbendaharaan bahasa lampung. Punahnya sebuah bahasa disebabkan oleh dua komponen. Komponen yang pertama adalah berkurang nya penutur atau pemakai sebuah bahasa, dan yang kedua adalah berkurangnya kosakata bahasa yang digunakan. Menurut Kloss ada tiga tipe utama kepunahan bahasa:
Pertama kepunahan bahasa tanpa pergeseran bahasa (guyup tuturnya lenyap)
Kedua kepunahan bahasa karena pergeseran bahasa (guyup tutur tidak berada dalam wilayah tutur yang kompak) atau bahasa itu menyerah pada “pertentangan intrinsik prasarana budaya modern yang berdasarkan teknologi”
Ketiga kepunahan bahasa nominal melalui metamorfosis (misalnya, suatu bahasa turun derajat menjadi berstatus dialek ketika guyup tuturnya tidak lagi menulis bahasa itu dan mulai memakai bahasa lain).
Dari pendapat tersebut makin teranglah bahwa modernisasi dan kemajuan teknologi berpotensi menggerus aset bahasa yang telah ada. Sehingga bahasa suatu daerah terancam mengalami kepunahan.
Kemajuan teknologi memang melahirkan sebuah bahasa baru dalam penamaan benda yang diciptakan. Namun penamaan tersebut bukanlah berasal dari nama daerah setempat yang memiliki nilai filosofis dan kearifan lokal. Nama-nama alat tersebut merupakan adopsi dari bahasa asing. Contohnya oven, megicom, magicjar, happycall, dan masih banyak yang lain. Biasanya penamaan nama-nama baru ini diseragamkan dalam setiap daerahnya. Bisa dibayangkan akan ada berapa daerah pemilik bahasa yang akan kehilangan bahasanya.
Suku lampung yang menjadi penikmat dari hasil-hasil kemajuan tersebut juga menjadi korban dari punahnya beberapa perbendaharaan kosakata. Kepunahan tersebut telah mengganyang semua lini dimana bahasa itu digunakan. Pendidikan, ekonomi, politik, hukum, budaya, dan profesi yang ada. Petani misalnya, kehilangan kata “ngaghoh” dalam bahasa kesehariannya, setelah membajak sawah tiak lagi menggunakan kerbau, tetapi menggunakan mesin traktor.
Pada kesempatan ini penulis mengajak saudara-saudara untuk memperhatikan alat-alat dan barangnya yang dulu pernah ada, yang tanpa disadari telah hilang dari sekitar kita.
Contoh sederhana adalah alat-alat dan barang yang terdapat di dapur kita. Mengapa dapur? Karena dapur adalah ruangan yang paling sering kita masuki. Ibu-ibu paling lama menghabiskan waktunya di dapur, ayah menyimpan beberapa barang di dapur, kamar mandi dan wc biasanya di tempatkan di dapur. Hampir seluruh anggota keluarga beraktivitas di dapur saat makan. Itu artinya setiap hari sudah pasti kita masuk ke dapur rumah. Kalau kita amati, alat dan barang tersebut mengalami kemajuan baik dari segi fungsi begitu juga dengan keindahannya. Namun ada beberapa barang yang mungkin tidak lagi kita jumpai di dapur (masyarakat Lampung).
Berikut akan penulis sampaikan beberapa contoh alat dan barang dapur yang mungkin tidak kita jumpai lagi di dapur kita.
Pepagu/Khakkalan
Pepagu atau khakkalan adalah tempat yang digunakan masyarakat Lampung sebagai tempat menyimpan dan meletakkan alat-alat dapur. Biasanya di buat di atas tungku masak. Fungsi pepagu atau khakkalan ini telah di gantikan dengan rak-rak dapur dan lemari.
Ghaga
Ghaga adalah subuah wadah yang digunakan masyrakat Lampung untuk menyimpan nasi dan sayuran. Biasanya Ghaga di buat dari tampah dan sejenisnya, yang di gantung dengan seutas tali. Ghaga kini telah di gantikan oleh lemari-lemari.
Bayuk
Bayuk adalah sebuah bakul nasi. Bayuk telah terhgantikan oleh magicom dan magicjar
Jambangan
Jambangan adalah sebuah wadah yang digunakan masyarakat saat mau mencuci piring. Jamabangan memiliki fungsi seperti baskom. Namun perbedaanya Ghaga terbentuk dari tanah liat seperti Gucci
Hiyuk
Hiyuk adalah alat peniup yang terbentuk dari bambu saat hendak membesarkan api tungku. Oleh karena masyarakat tidak menggunakan tungku lagi, hiyuk tidak lagi digunakan, hiyuk hilang seiring dengan bergantinya tungku dengan kompor.
Kelima alat dan barang di atas merupakan contoh alat dapur yang mungkin tidak akan kita jumpai lagi. Karena fungsinya telah di gantikan oleh alat-alat modern. Sebetulnya masih banyak lagi alat-dan barang yang tidak kita jumpai lagi di dapur-dapur kita.
Seperti yang telah di jelaskan bahwa bukan saja aspek materil tersebut yang mengalami kepunahan tetapi berimbas pada kepunahan bahasa.
Oleh karena ketidakberadaan alat-alat tersebut sehingga nama-nama dari alat tersebut tidak lagi kita ucapkan. Pengucapan adalah media pengenalan dari suatu obyek. Karena itu generasi sekarang tidak lagi mendengar istilah-istilah dan kata-kata tersebut.
Kondisi terburuk dari situasi ini adalah punahnya bahan utama atau bahan pendukung dari pembuatan barang tersebut. oleh karena barang/produknya tidak digunakan lagi, maka bahan/sumber pembuatannya juga berpotensi menghilang. Sebagai contoh untuk membuat sumbuk (Baskom), pengarajin menggunakan bambu hapus (Bambu Apus) sebagai bahan utama, namun jika barang ini tidak di pakai lagi maka petani tidak lagi menanam bambu ini. Besar kemungkinan bambu ini juga akan hilang dari muka bumi dan hanya meninggalkan nama. kemudian nama tersebut lambat laun kemudian meghilang dari ingatan manusia.
Hilangnya produk lama dan munculnya produk baru adalah sebuah keniscayaan. Tetapi penjagaan terhadap bahasa adalah sebuah kewajiban pemilik bahasa.
Meski unsur-unsur materil tersebut hilang, tetapi pelestarian terhadap peristilahnnya haruslah tetap terjaga. Seperti mengajarkan dan mengenalkan nya kepada anak cucu kita. Atau dengan bentuk dokumentasi-dokumentasi lain sehingga generasi kedepan mengetahui sejarah kebudayaan moyangnya. Lebih lagi kalau masyrakat Lampung mau menginventaris alat dan barang tersebut. Baik berupa materil nya maupun bahasanya. Aset-aset materil berupa gagasan, tindakan dan unsur materil kebudayaan lampung haruslah terus kita lestarikan. Menjaga dan melestarikan bahasa lampung adalah wujud cinta kita terhadap provinsi lampung. Dan menggunakan bahasa Lampung dalam keseharian adalah bentuk dari nasionalisme kita terhap Negara Indonesia.
Ditulis oleh : Hazizi, S.Pd.I
