Powered By Blogger

Sabtu, 08 April 2017

ANALISIS BUDAYA LITERASI



BUDAYA LITERASI SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dalam sejarah peradaban umat manusia, kemajuan suatu bangsa tidak hanya bisa dibangun dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah maupun pengelolaan tata negara yang mapan, melainkan berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun yang terjadi sekarang, budaya literasi sudah semakin ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia.
Padahal pendidikan berbasis budaya literasi merupakan salah satu aspek penting yang harus diterapkan di lembaga-lembaga sekolah guna memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri mereka. Apalagi saat ini Indonesia masih menghadapi sindrom buta huruf yang kerapkali menjadi penghambat kemajuan pendidikan nasional sehingga dibutuhkannya strategi alternatif yang bisa dilakukan untuk menopang peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Secara sederhana, literasia atau literer istilah lain dari melek huruf secara fungsional adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara serta kemampuan mengidentifikasi, mengurai dan memahami suatu masalah. Dalam makalah ini peneliti akan menganalisis budaya literasi di SMA Perintis 1 Bandar Lampung.
1.2  Rumusan Masalah
a.       Bagaimanakah kegiatan literasi di sekolah?
b.      Apa saja komponen yang menunjang budaya literasi di sekolah?



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Budaya Literasi
Pengalaman belajar merupakan serangkaian proses dan pristiwa yang di alami oleh setiap individu khususnya siswa dalam ruang lingkup (ruangan kelas) sesuai dengan metode ataupun strategi pembelajaran yang diberikan oleh masing-masing pendidik. Salah satu kegiatan dalam belajar adalah kegiatan literasi. Literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca, budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Membudayakan atau membiasakan untuk membaca, menulis itu perlu proses jika memang dalam suatu kelompok masyarakat kebiasaan tersebut memang belum ada atau belum terbentuk. Ada banyak cara untuk membentuk budaya literasi diantaranya (dekat, mudah, murah, senang, lanjut) :
a.       Pendekatan akses fasilitas baca (buku dan non buku)
b.      Kemudahan akses mendapatkan bahan bacaan
c.       Murah / Tanpa biaya (gratis)
d.      Menyenangkan dengan segala keramahan
e.       Keberlanjutan / Continue / istiqomah
Namun sebenarnya upaya itu tidak cukup hanya dengan lima langkah, karena ada penjabaran yang lebih detail. Tidak sekedar ketersediaan fasilitas saja tapi ada cara bagaimana menjalin hubungan antar manusia sehingga hubungan tersebut akan mpengaruhi bagaimana suatu kelompok masyarakat bisa menerima dengan baik apa yang akan menjadi tujuan kita melakukan gerakan literasi. Dari pengamatan yang kami lakukan di sekolah setidaknya ada beberapa komponen yang dapat menunjang terjadinya proses literasi di sekolah. Komponen tersebut adalah
a.       Pemanfaatan Perpustakaan
b.      Ketersedian Buku Teks/ Buku Paket mata pelajaran
c.       Pemanfaatan Internet atau E-Book, dan
d.      Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Pada penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah SMA Perintis 1 Bandar Lampung. Oleh karenanya peneliti akan mendeskripsikan tentang empat komponen penunjang literasi tersebut di sekolah.
2.2  Pemberdayaan Perpustakaan sekolah
Perpustakaan sebagai sumber belajar merupakan tahap awal dalam proses belajar yaitu tahap mencari informasi yang bertujuan menyerap dan menghimpun informasi, mewujudkan suatu wadah pengetahuan yang terorganisir, menumbuhkan kemampuan menikmati pengalaman imajinatif, membantu perkembangan kecakapan bahasa dan daya pikir, mendidik siswa agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka secara efisien serta memberikan dasar kearah pembelajaran mandiri. perpustakaan juga bisa berfungsi sebagai perlengkapan pendidikan yang memiliki kemampuan dalam menjebatani proses transfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Secara terperinci manfaat perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut: dapat menimbulkan kecintaan, kesadaran dan kebiasaan siswa terhadap membaca, dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dapat menambah kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya membuat siswa mampu untuk belajar mandiri, dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca ,dapat membantu perkembangan kecakapan berbahasa dan daya piker para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu, dapat membantu siswa dan guru dan anggota staf sekolah menemukan sumber – sumber pengajaran. Tujuan perpustakaan sekolah berperan dalam proses pendidikan sepanjang hayat. Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan juga mampu untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan dan upaya menumbuhkan minat baca. Dengan meningkatnya minat baca pada siswa akan berimbas pada kemajuan pendidikan di Indonesia serta mampu mengarahkan pada tujuan negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. untuk itu diperlukan kerja sama antara pemerintah, kepala sekolah, guru, pustakawan serta komite sekolah dalam membuat program kerja untuk memberi layanan yang maksimal kepada pemustaka, agar perpustakaan sekolah dapat memberikan peranan sebagai penunjang proses belajar dan mengajar dan juga dapat meningkatkan mutu bagi pendidikan di Indonesia. Perlu diingat bahwa pengaruh perpustakaan sekolah dalam proses belajar mengajar sangat tergantung pada kemampuan perpustakaan dalam menjalankan fungsinya serta adanya usaha siswa untuk memperoleh informasi melalui perpustakaan karena disinilah adanya hubungan timbal balik antara siswa dan perpustakaan tersebut yaitu siswa mempunyai kebutuhan dalam memperoleh informasi dan informasi itu dapat diperoleh dan dipenuhi oleh perpustakaan.
Dalam pelaksanaannya perpustakaan di SMA Perintis 1 Bandar lampung tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pihak sekolah. Rendahnya minat baca siswa di perpustakaan dan kurangnya perhatian terhadap pemanfaatan perpustakaan di sekolah, membuat perpustakaan sekolah hanya sebagai persyaratan akreditasi. Pengelolaan perpustakaan di sekolah ini. Setelah di teliti, yang menyebabkan rendahnya minat baca di perpustakaan karena kurangnya dorongan dari guru untuk membaca atau meminjam buku di perpustakaan. Alas an tersebut sebenarnya karena adanya dorongan ekonomis dari pihak sekolah. Yakni pihak sekolah menekankan siswa untuk membeli buku paket yang di kelola oleh pihak sekolah. Bagi guru dan siswa buku paket seolah seolah sudah mewakili keterbutuhan materi pembelajaran siswa.  Rendahnya minat baca siswa SMA Perintis ini juga disebabkan  karena buku-buku yang terdapat di perpus tidak di lakukan penyegaran atau pemenuhan buku-buku baru. Pada perpustakaan banyak buku-buku terbitan lama, sangat sedikit buku-buku terbaru. Tidak ada upaya dari pihak sekolah untuk memenuhi buku-buku terbitan terbaru. Ruanga atau local perpustakan kurang luas jika dibandingkan dengan jumlah siswa.  Hal inilah yang menyebabkan siswa-siswi enggan ke perpustakaan. budaya literasi yang sebenarnya dapat ditingkatkan melalui peranan perpustakaan nampaknya tidak mendapat dukungan.

2.3  Ketersedian Buku Teks/Buku Paket Siswa
Buku teks tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Sebagai media dan sumber pembelajaran, buku teks mampu mentransformasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang berkaitan dengan kompetensi dasar yang diajarkan. Buku teks pelajaran menurut Haifa Afifa (2014) yaitu; “Buku pelajaran dalam bidang studi tertentu, yang merupakan buku standar, yang disusun oleh para pakar dalam bidang itu buat maksud dan tujuan-tujuan intruksional, yang diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolahsekolah dan perguruan tinggi sehingga dapat menunjang suatu program pengajaran.” Dalam PP nomor 19 tahun 2005 pasal 20, diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran. Artinya, buku teks pelajaran tidak harus menjadi patokan khusus dalam kegiatan belajar mengajar, namun seorang guru juga harus bisa mengembangkan materi pelajaran yang akan dipelajari siswa, sehingga pemahaman yang akan diperoleh siswa pun akan lebih luas dan mendalam terkait materi pelajaran yang diajarkan.
Buku teks pelajaran adalah buku sekolah yang dijadikan pegangan siswa dalam pembelajaran pada jenjang pendidikan tertentu sebagai sumber belajar siswa dalam menggali kemampuan kognitif siswa yang diharapkan dapat membantu siswa dalam belajar. Sebagai buku pendidikan, buku teks memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Dengan buku teks, program pembelajaran bisa dilaksanakan secara lebih teratur, sebab guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh pedoman materi yang jelas. Dan siswa pun akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan serta dapat memperluas pemahaman siswa ditambah pula dengan penjelasan dari guru mata pelajaran terkait. Pada sisi lain, buku teks dapat dipandang sebagai simpanan pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan, hal ini dikarenakan buku teks sudah dipersiapkan dari segi kelengkapan dan penyajiannya, buku teks itu memberikan fasilitas bagi kegiatan belajar mandiri, baik tentang isinya maupun tentang caranya. Fungsi buku teks pelajaran adalah
a.       Sebagai bahan referensi atau bahan rujukan oleh peserta didik Sebagai bahan evaluasi
b.      Sebagai alat bantu pendidik dalam melaksanakan kurikulum
c.       Sebagai salah satu penentu metode atau teknik pengajaran yang akan digunakan pendidik.
Sedangkan Manfaat atau Kegunaan Buku Teks Pelajaran
a.       Membantu peserta didik dalam melaksanakan kurikulum karena disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku
b.      Menjadi pegangan guru dalam menentukan metode pengajaran
c.       Memberi kesempatan bagi peserta didik untuk mengulangi pelajaran atau mempelajari materi yang baru

 Pada SMA Perintis 1 Bandar Lampung buku teks merupakan buku yang wajib dimiliki oleh setiap siswa. Buku teks atau buku paket yang dimiliki siswa adalah salah satu sumber belajar bagi siswa-siswa SMA Perintis. Pada praktiknya, guru-guru akan meminta siswa-siswi untuk membaca buku teks terlebih dahulu sebelum masuk kedalam pembelajaran. Kemudian siswa di minta menganalis dan mendiskusikan temuannya di dalam kelas.  Buku teks ini juga sangat dimanfaatkan dala upaya menambah pengetahuan siswa. Setidaknya dari 14 mata pelajaran wajib terdapat 12 buku teks yang harus dimiliki siswa. Mata pelajaran yang tidak terdapat buku teks yakni olahraga dan seni budaya. Budaya literasi melalui pemanfaatan buku teks berjalan dengan baik. Adanya buku teks di sekolah adalah suatu usaha yang tepat dalam membangun budaya literasi di sekolah. Pada mata pelajaran bahasa lampung SMA Perintis menggunakn Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan pegangan belajar siswa. Baik Buku teks maupun lks adalah suatu kebutuhan yang dapat membangun budaya literasi di sekolah.
2.4  Internet
Manfaat internet bagi sekolah yakni, sebagai tempat untuk mencari informasi tentang Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) atau tentang apa saja yang terjadi. Informasi yang kita dapat dari internet tidak hanya mencakup informasi dalam negeri, kita juga dapat mengetahui informasi dari luar negeri. Berdasarkan hal tersebut, maka internet sebagai media pendidikan mampu menghadapkan karakteristik yang khas, yaitu
a.       sebagai media interpersonal dan massa;
b.       bersifat interaktif,
c.       memungkinkan komunikasi secara sinkron maupun asinkron.
Keberadaan internet disekolah nampaknya akan menjadi suatu kebutuhan di sekolah, hal ini dapat dibuktikan dengan seringkalinya permintaan laporan data sekolah oleh pihat terkait untuk dikirim melalui internet. Dengan memiliki jaringan internet di sekolah, pihak sekolah sebenarnya tidak cuma untuk mengirim laporan juga bisa memperoleh informasi pendidikan lebih cepat, mengunduh gambar atau materi pendidikan untuk media pembelajaran dan masih banyak lagi keuntungan yang bisa sekolah dapatkan. Misalnya bagaimana membuat atau menyusun program rencana pengajaran yang benar dengan demikian kita harus mencari tahu informasi tersebut.
Manfaat internet bagi pendidik dan pelajar :
a.       Memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan.
b.      Sebagai sumber pengayaan pelajaran yang di Sekolah
c.       Sebagai sarana belajar penggunaan computer
d.      Sebagai sarana komunikasi
SMA Perintis 1 Bandar Lampung menyediakan wi-fi pada setiap kelas, ini adalah upaya pihak sekolah untuk memfasilitasi siswa-siswi dalam menambah pengetahuan melalui Internet. Pada pelaksanaannya internet sering digunakan oleh siswa dan guru dalam proses ppembelajaran. Guru meminta siswa untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru terkait materi yang akan diajarkan. Pihak sekolah sangat menyadari akan pentingnya internet bagi perkembangan pendidikan. Tidak bisa di pungkiri bahwa internet adalah unsur  yang cukup penting dalam budaya literasi siswa. Internet juga membantu siswa dalam mengeksplorasi karya/tulisan yang dihasilkan. Di samping karena internet dapat membantu siswa dalam memenuhi kebutuhan tugas di sekolah.

2.5  Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat diperhatikan oleh pemerintah. Bahkan pemerintah mengeluarkan bantuan berupa BOS agar setiap anak bisa mengenyam pendidikan. Tapi apa gunanya semua itu jika Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas tidak berjalan dengan baik. Artinya KBM menjadi penentu berhasil atau  tidaknya suatu pendidikan. Banyak orang mengira bahwa kelas yang baik adalah kelas dimana semua murid menghadap ke depan dengan suasana yang hening dengan mendengarkan gurunya. Tapi dengan suasana seperti ini kadang-kadang mereka menjadi bosan setelah pelajaran berlangsung 10 menit. Tidak sedikit anak yang akan melakukan acara chatingan melalui kertas, berbicara dan bercanda dengan teman sebangku. Walaupun begitu suasana serius kadang kala memang dibutuhkan. Memang, setiap guru menginginkan muridnya mengerti terhadap pelajaran yang disampaikan, bisa menerapkannya dalam kehidupannya atau sebagai pedoman mencapai tujuan. Seorang guru dapat mengajak muridnya berpikir bersama, tidak tergantung pada guru selamanya dengan mengajukan pertanyaan atau dengan pura-pura lupa sehingga murid akan berusaha mencari tentang hal tersebut. Tentu saja hal tersebut harus dilakukan secara komunikasi yang baik. Murid akan berusaha menjawab sehingga pelajaran di kelas akan aktif. Jika perlu lemparkan tantangan kepada murid sesuai dengan hal yang dipelajari. Tentunya tantangan itu harus dapat menggugah semangat murid. Dr Vernon A Magnesan (1983) mengatakan bahwa materi pelajaran atau ilmu pengetahuan diterima oleh otak 10% dari membaca, 20% dari mendengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari yang dilihat dan dengar, 70% dari yang dikatakan dan 90% dari yang kita katakan dan lakukan (menggunakan seluruh indera). Oleh karena itu biarkan siswa Anda bebas berdiskusi, mengemukakan pendapat mereka, mengerjakan pekerjaan sekolah di tempat yang mereka sukai (tetap di dalam kelas).
Dalam menganalisis  budaya literasi yang terdapat pada KBM, kita perlu memperhatikan tujuan, indicator, dan langkah-langkah pembelajaran yang terdpat pada rpp guru. Dalam makalah ini yang akan di sampaikan adalah rpp guru mata pelajaran bahasa lampung. Selain menganalisis tiga komponen tersebut kita juga harus memperhatikan pelaksanan kegiatan belajar mengajar yang diterapkan di kelas.
Tujuan Pembelajaran
1.      Melafalkan kata/frasa/kalimat dengan tepat
2.      Membaca nyaring kata/frasa /kalimat dengan intonasi dan lafal yang tepat
3.      Menentukan  tema wacana tulis dengan tepat.
Indikator
1.      Melafalkan kata/frasa/kalimat dengan tepat
2.      Membaca nyaring kata/frasa /kalimat dengan intonasi dan lafal yang tepat
3.      Menentukan  tema wacana tulis dengan tepat.
Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan
Waktu
Aspek Life Skill yang dikembangkan
v  PENDAHULUAN
Apersepsi Dan Motivasi
a.       Membuka Pelajaran dengan salam dan berdo’a bersama, dipimpin oleh salah seorang murid dengan khidmat
b.      Guru menyapa peserta didik dengan memperkenalkan diri kepada peserta didik
c.       Memberikan motivasi dan menyampaikan informasi mengenai pentingnya menguasai bahasa lampung
d.      Menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan yang akan dicapai
Menyampaikan tahapan kegiatan yang terdiri dari menyimak materi, membaca teks wacana dan mengidentifikasi gagasan yang terdapat dalam teks wacana
v  KEGIATAN INTI
Eksplorasi
a.       Guru membuka pelajaran dengan menjelaskan  piil pesenggiri
b.      Guru memaparkan fungsi dan kegunaan dari masing-masing piil pesenggiri
c.       Guru mempersilahkan siswa untuk bertanya tentang piil pesenggiri
Elaborasi
a.       Guru meminta siswa membaca teks wacana
b.      Siswa membaca teks wacana secara bergantian
c.       Guru meminta siswa untuk menemukan bagian yang termasuk piil pesenggiri
d.      Siswa menganalisis dan mengidentifikasi wacana
e.       Guru meminta siswa untuk menemukan isi tersirat yang yang terdapat dala wacana piil pesenggiri.
f.       Siswa menjelaskan kembali hasil bacaan yang telah mereka baca
g.      Guru memberikan pertanyaan terkait piil pesenggiri.
h.      Siswa menjawab pertanyaan guru
i.        Guru memeriksa memberikan penilaian terhadap hasil kerja masing-masing siswa
j.        Guru menjelaskan kaidah-kaidah pembuatan pepancogh dan cara menentukan isinya
Konfirmasi
a.       Secara individual siswa diperkenankan untuk bertanya tentang materi yang belum difahami.
b.      Guru memberikan penguatan tentang kesimpulan tentang piil pesenggiri
v  KEGIATAN PENUTUP
a.       Guru memberikan tugas pengayaan
b.      Merencanakan kegiatan tindak lanjut dengan memberikan tugas baik individu maupun kelompok bagi peserta didik
c.       Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan selanjutnya
d.      Menutup pembelajaran dengan salam.
10 Menit

















20 Menit









40 Menit





























10 Menit


Pemahaman Konsep

Jika kita perhatikan langkah-langkah pembelajarannya, terdapat kegiatan literasi. Dimana guru meminta siswa-siswi membaca terlebih dahulu. Kemudian menalarnya dan menyimpulkan pembelajaran. Kegiatan tersebut di lanjutkan dengan diskusi tentang materi yang diajarkan oleh guru. Membaca adalah proses pertama dalam mendapatkan pengetahuan.
Pada pelaksanaannya, guru bahasa lampung juga meminta siswa membuka kamus yang di peroleh dari perpustakaan dalam menunjang proses belajar mengajar. Penggunaan kamus bagi siswa merupakan suatu usaha dalam memperoleh kosakata baru bahasa lampung bagi siswa. Membuka kamus dan membaca teks adalah salah satu budaya literasi yang di rancang oleh guru mata pelajaran.




BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa komponen yang dapat menunjang terjadinya proses literasi di sekolah. Komponen tersebut adalah sebagai berikut;
a.       Pemanfaatan Perpustakaan
b.      Ketersedian Buku Teks/ Buku Paket mata pelajaran
c.       Pemanfaatan Internet atau E-Book, dan
d.      Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Dalam pelaksanaannya perpustakaan di SMA Perintis 1 Bandar lampung tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pihak sekolah. Rendahnya minat baca siswa di perpustakaan dan kurangnya perhatian terhadap pemanfaatan perpustakaan di sekolah, membuat perpustakaan sekolah hanya sebagai persyaratan akreditasi. Budaya literasi melalui pemanfaatan buku teks berjalan dengan baik. Adanya buku teks di sekolah adalah suatu usaha yang tepat dalam membangun budaya literasi di sekolah. Pada mata pelajaran bahasa lampung SMA Perintis menggunakn Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan pegangan belajar siswa. Baik Buku teks maupun lks adalah suatu kebutuhan yang dapat membangun budaya literasi di sekolah. Pada pelaksanaannya internet sering digunakan oleh siswa dan guru dalam proses ppembelajaran. Guru meminta siswa untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru terkait materi yang akan diajarkan. Pihak sekolah sangat menyadari akan pentingnya internet bagi perkembangan pendidikan. Dan Penggunaan kamus bagi siswa merupakan suatu usaha dalam memperoleh kosakata baru bahasa lampung bagi siswa. Membuka kamus dan membaca teks adalah salah satu budaya literasi yang di rancang oleh guru mata pelajaran.